SMA Negeri 1 Boawae di Raja Timur Akan Dideklarasikan Sebagai Sekolah Aman dari Perdagangan Manusia

Boawae, Atalomba.com – Sabtu, 11 Oktober 2025, matahari belum terlalu tinggi ketika ratusan siswa-siswi SMA Negeri 1 Boawae, di Raja, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, berbaris rapi menuju aula sekolah. Tak ada yang menyangka bahwa hari itu akan tercatat dalam sejarah pastoral Kevikepan Mbay.
Hari itu, Smansa Boawae tidak hanya belajar tentang bahaya perdagangan manusia. Mereka diresmikan sebagai sekolah pertama di wilayah Kevikepan Mbay yang menyandang predikat “Sekolah Aman dari Perdagangan Manusia.”
Suasana berubah hening ketika kegiatan diawali dengan doa. Di hadapan para guru, siswa, dan tamu Gereja. Di saat yang sama, Gereja menancapkan tonggak baru, iman yang berbuah dalam kesadaran sosial, pendidikan yang berakar dalam kasih, dan sekolah yang berdiri sebagai benteng perlawanan terhadap kejahatan kemanusiaan.
Ketika Gereja Memilih Turun ke Sekolah
Kegiatan sosialisasi bertajuk “Masa Depan Tidak untuk Dijual” digelar oleh Komisi Migran Perantau Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende, dipimpin langsung oleh RD. Wilhelmus Bertolomeus, Ketua Komisi Migran Perantau. Program ini adalah bagian dari gerakan pastoral Gereja yang ingin memastikan bahwa kesadaran tentang martabat manusia dan keutuhan ciptaan tidak berhenti di altar, tetapi hidup di ruang-ruang belajar.
“Gereja tidak hanya berdoa untuk para korban perdagangan manusia. Gereja harus hadir, berbicara, dan mendidik agar tidak ada lagi korban baru,” tegas RD. Jois, Sapaan akrabnya yang juga Pastor Paroki Raja, di hadapan para siswa.
Ia menambahkan, kehadiran Gereja di sekolah adalah wujud dari tanggung jawab pastoral terhadap anak muda yang hari ini menjadi target empuk para perekrut tenaga kerja ilegal. Di wilayah seperti Nagekeo, yang banyak warganya menjadi pekerja migran, pendidikan menjadi benteng pertama untuk melawan kejahatan itu.
“Smansa Boawae adalah sekolah pertama di Kevikepan Mbay yang kami deklarasikan sebagai Sekolah Aman dari Perdagangan Manusia. Dari sinilah gerakan besar ini akan mengalir ke sekolah-sekolah lain,” tandas RD. Jois.
Irminus Deni, Dari Kata Menjadi Gerakan
Materi sosialisasi dibawakan oleh Irminus Deni, Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay, seorang penulis, aktivis sosial, dan pegiat kemanusiaan yang dikenal karena tulisan-tulisannya yang tajam dan reflektif tentang migrasi, kemiskinan, dan lingkungan hidup di Nusa Tenggara Timur. Dalam dunia pastoral, Deni bukan sekadar juru bicara Gereja, ia adalah saksi dari luka kemanusiaan di lapangan. Dengan nada tenang dan bahasa yang sederhana, ia membuka sesinya dengan kalimat yang memecah keheningan,
“Setiap manusia lahir dengan hak untuk hidup, bukan untuk dijual.”
Kata-kata itu tidak sekadar kutipan. Ia adalah panggilan iman. Sebab dalam pandangan Gereja, sebagaimana termaktub dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG), martabat manusia bersumber langsung dari Allah sendiri, dan martabat itu tidak bisa diperjualbelikan.
Ajaran Sosial Gereja, Menolak Dunia yang Menjual Manusia
Irminus Deni kemudian menguraikan Ajaran Sosial Gereja dalam konteks kehidupan nyata. Ia menjelaskan bahwa di balik setiap kasus perdagangan manusia, selalu ada struktur dosa, kemiskinan, ketidakadilan, kerakusan, dan ketidaktahuan. Dan di tengah struktur itulah Gereja hadir untuk menyembuhkan dan mendidik.
“Ketika manusia dijadikan barang, ketika tenaga dan tubuhnya dijual atas nama ekonomi, di situ iman kita ditantang. Gereja tidak boleh netral di hadapan penderitaan manusia,” tegas Deni.
Menurutnya, ASG memanggil setiap orang untuk menegakkan keadilan sosial, solidaritas, dan martabat manusia. Itulah mengapa Komisi Migran Perantau tidak sekadar mengajar tentang bahaya perdagangan manusia, tetapi juga menanamkan kesadaran moral bahwa melawan perdagangan manusia adalah bagian dari iman Katolik itu sendiri.
“Menolak perdagangan manusia berarti menolak dosa yang terstruktur, menolak budaya ketamakan, dan memilih hidup dalam kasih yang melindungi sesama,” katanya.
Laudato Si’ dan Jeritan Bumi yang Sama dengan Jeritan Manusia
Dalam bagian selanjutnya, Deni mengaitkan perdagangan manusia dengan isi ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus, sebuah seruan universal tentang keutuhan ciptaan dan perlawanan terhadap sistem ekonomi yang menindas. Paus menyebut krisis ekologis dan krisis kemanusiaan sebagai dua wajah dari satu dosa yang sama, kerakusan manusia yang menolak batas.
“Ketika tanah dirampas, laut rusak, dan hutan habis, maka orang-orang miskin akan kehilangan harapan hidup. Mereka pergi mencari kerja, dan di sanalah para pelaku perdagangan manusia menunggu,” ujar Deni.
Ia menegaskan bahwa Laudato Si’ mengajarkan ekologi integral, sebuah kesadaran bahwa manusia dan alam tidak bisa dipisahkan. Kerusakan alam melahirkan kerusakan sosial, dan eksploitasi ekonomi terhadap manusia adalah bagian dari pola pikir yang sama yang merusak bumi.
“Jika kita ingin menghentikan perdagangan manusia, kita juga harus berhenti memperlakukan bumi sebagai barang dagangan. Karena manusia dan bumi sama-sama ciptaan Allah, keduanya harus dihormati, bukan dieksploitasi.”
Kata-kata itu menancap dalam. Smansa Boawae hari ini bukan hanya belajar tentang bahaya sosial, tetapi tentang spiritualitas baru Gereja, spiritualitas merawat kehidupan.
Smansa Boawae di Raja, Sekolah, Gereja, dan Harapan
Kepala SMA Negeri 1 Boawae Ibu Meri Djuliana Muda mengaku bangga karena sekolahnya menjadi yang pertama di Kevikepan Mbay dan Kabupaten Nagekeo yang diakui sebagai Sekolah Aman dari Perdagangan Manusia. Predikat ini bukan sekadar gelar simbolik, melainkan komitmen moral untuk membangun kesadaran baru di kalangan anak muda.
Kedepannya akan dilakukan deklarasi singkat di Smansa Boawae bersama dengan pihak sekolah dan Komisi Migran Perantau Kevikepan Mbay dan akan menandatangani piagam kerja sama pastoral, untuk mewujudkan pendidikan yang membebaskan dari ancaman perdagangan manusia.
Dari Boawae, Gerakan Ini Akan Menyala ke Seluruh Kevikepan
Bagi Komisi Migran Perantau Kevikepan Mbay, langkah di Boawae hanyalah awal. Setelah Smansa Boawae di Raja, gerakan ini akan diperluas ke sekolah-sekolah lain di Keo Tengah, Mauponggo, dan Mbay. Rencananya, setiap sekolah yang berkomitmen melawan perdagangan manusia akan diberi pelatihan, pendampingan rohani, dan materi tentang Ajaran Sosial Gereja serta Laudato Si’.
“Kami ingin setiap sekolah menjadi ruang suci bagi kesadaran kemanusiaan. Kami tidak ingin anak-anak muda kita hanya cerdas secara akademis, tapi juga cerdas secara moral,” ujar RD. Jois.
Dalam visi pastoral Komisi Migran Perantau, melawan perdagangan manusia adalah bagian dari tugas Gereja untuk memperjuangkan keselamatan manusia seutuhnya, tidak hanya keselamatan jiwa, tetapi juga kehidupan yang bermartabat di dunia ini.
Dari Injil ke Lapangan, Pastoral yang Hidup
Gereja di Kevikepan Mbay hari ini sedang menulis babak baru dalam sejarah pastoralnya. Bukan hanya berbicara tentang kasih, tetapi mewujudkan kasih itu dalam tindakan konkret, mendidik, mendampingi, dan menyelamatkan mereka yang mudah terluka oleh sistem dunia yang kejam. Bagi Irminus Deni, inilah bentuk paling nyata dari iman yang hidup.
“Iman yang tidak berpihak pada korban, adalah iman yang kehilangan daging. Gereja harus menjadi tubuh yang nyata di tengah penderitaan umatnya,” ujarnya dalam refleksi penutup.
Ia menegaskan bahwa Gereja tidak boleh berhenti pada belas kasihan, tetapi harus menumbuhkan keberanian struktural, keberanian untuk berkata tidak pada segala bentuk perbudakan modern yang merendahkan martabat manusia.
Dari Desa Kecil Raja Timur, untuk Gerakan Besar
Setelah kegiatan berakhir, langit Boawae memerah. Sinar matahari jatuh di halaman sekolah, di antara pohon-pohon yang berayun tenang. Tidak ada gegap gempita. Tidak ada perayaan megah. Tapi di hati setiap siswa yang hadir, tumbuh satu kesadaran, bahwa dari sekolah kecil di Raja, sebuah gerakan besar Gereja dimulai.
Smansa Boawae kini tidak hanya dikenal karena prestasi akademik, tetapi karena keberaniannya menjadi pelopor Sekolah Aman dari Perdagangan Manusia. Sebuah sekolah yang berdiri bukan hanya di atas fondasi ilmu pengetahuan, tetapi di atas nilai-nilai Injil dan ajaran kasih yang melindungi manusia dan bumi.
“Hari ini kita mulai dari Boawae. Besok, biarlah seluruh Nagekeo, seluruh Flores, bahkan seluruh NTT menjadi wilayah bebas dari perdagangan manusia,” ujar RD. Jois menutup kegiatan.
Catatan Redaksi
Kegiatan sosialisasi bahaya perdagangan manusia di SMA Negeri 1 Boawae, Desa Raja Timur, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, dilaksanakan pada Sabtu, 11 Oktober 2025, oleh Komisi Migran Perantau Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende, di bawah pimpinan RD. Wilhelmus Bertolomeus.
Materi utama dibawakan oleh Irminus Deni, Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay, penulis dan pegiat kemanusiaan asal Keo Tengah yang selama ini aktif mengadvokasi isu migrasi, lingkungan, dan hak asasi manusia di Nusa Tenggara Timur.
SMA Negeri 1 Boawae di Raja resmi menjadi sekolah pertama di Kevikepan Mbay yang dideklarasikan sebagai “Sekolah Aman dari Perdagangan Manusia.”
Predikat ini menjadi simbol komitmen bersama Gereja dan dunia pendidikan untuk melindungi martabat manusia melalui pendidikan yang berakar pada Ajaran Sosial Gereja dan semangat Laudato Si’ bahwa manusia dan bumi sama-sama suci dan tidak boleh diperjualbelikan.
