Guru untuk Guru, Murid untuk Murid: Solidaritas Mengalir dari Posko PGRI Nagekeo untuk Korban Banjir Mauponggo

Mauponggo, Atalomba.com – Di tengah lumpur yang masih menempel di kaki, di antara reruntuhan rumah dan tumpukan barang-barang yang hanyut, ada secercah harapan yang datang dalam bentuk tangan-tangan guru yang membawa donasi, doa, dan pelukan. Hari ini, Selasa, 7 Oktober 2025, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Nagekeo menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi para korban bencana banjir bandang di wilayah Mauponggo dan sekitarnya. Bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah gerakan hati, dari guru untuk guru, dari murid untuk murid, dari manusia untuk manusia.
Guru Bantu Guru, Apalagi Muridnya
Ketua PGRI Nagekeo, Winibaldus Soba, S.Pd, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata solidaritas dan empati di tengah duka yang belum benar-benar kering. “Hari ini, kita berkumpul di empat titik di wilayah Mauponggo untuk menyalurkan bantuan donasi uang dan natura lainnya kepada para guru, tenaga kependidikan, dan murid yang terdampak bencana,” ujarnya di sela kegiatan.

Donasi ini, lanjutnya, adalah hasil ikhtiar bersama entitas PGRI Nagekeo, asosiasi pengawas Dikdas, para kepala sekolah, pegawai, dan murid dari berbagai satuan pendidikan. Mereka mengumpulkan bukan karena berlebih, tapi karena peduli. “Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, mulai dari Plt Kadis P&K, Korwas, pengawas, kepala sekolah, guru, pegawai, hingga murid yang dengan niat tulus berdonasi untuk membantu sesama keluarga sekolah yang mengalami penderitaan,” ujar Winibaldus.
Solidaritas yang Mengajarkan Karakter
Dalam momen yang sama, Plt. Kepala Dinas P&K Kabupaten Nagekeo, Oskar Yoseph Amekae Sina, S.SPT. M.Si, menyampaikan rasa bangganya atas aksi nyata komunitas pendidik ini. “Saya melihat kegiatan ini bukan hanya bentuk kepedulian, tapi juga pembelajaran karakter. Ini adalah cara paling nyata untuk menanamkan nilai-nilai solidaritas kepada anak-anak kita,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tindakan kecil seperti berdonasi, menyapa, atau meneguhkan sesama yang berduka adalah wujud nyata pendidikan kemanusiaan. “Anak-anak akan meniru. Dari sinilah mereka belajar bahwa nilai hidup tidak diukur dari berapa banyak yang kita punya, tapi dari seberapa banyak yang kita bagi.”

Sebagai koordinator Badan Penanggulangan Bencana di wilayah pendidikan, Oskar juga menegaskan pentingnya data yang akurat dari sekolah-sekolah terdampak agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo.
Dari Hati yang Luka, Tumbuh Kepedulian
Sekretaris PGRI Nagekeo, Anisius Panda Dora, S.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan donasi berlangsung sejak 15 September hingga 7 Oktober 2025, melibatkan seluruh lapisan komunitas pendidikan, dari PAUD hingga SMA/SMK. “Ini adalah wujud nyata semangat menjaga harkat dan martabat guru serta tenaga kependidikan melalui solidaritas dan kebersamaan,” katanya.
Ia menambahkan, bahwa penggalangan donasi dimulai sejak pertengahan September dan berlangsung selama beberapa minggu. Bantuan yang terkumpul datang dari berbagai penjuru, ada yang mengirimkan uang, ada yang menyumbang beras, pakaian, dan kebutuhan pokok lain.
Bantuan yang terkumpul sebesar Rp 82.176.000, ditambah natura berupa beras dan pakaian layak pakai. Dana tersebut disalurkan secara sistematis:
-
Rp 52 juta untuk 29 guru terdampak berat, termasuk yang kehilangan rumah, harta benda, atau anggota keluarga.
-
Rp 30 juta untuk 174 murid dari 19 sekolah terdampak.
-
Beras dan pakaian dibagikan melalui PGRI Cabang Mauponggo untuk menjangkau lebih banyak keluarga korban.
Semua bantuan itu kemudian disalurkan dengan sistem yang rapi, guru dan tenaga kependidikan yang mengalami dampak berat seperti kehilangan rumah, anggota keluarga, atau harta benda, mendapatkan bantuan finansial sesuai tingkat kerugian yang mereka alami. Sementara ratusan murid yang rumah keluarganya rusak atau kehilangan perlengkapan sekolah, menerima dukungan berupa uang dan natura agar mereka bisa segera kembali belajar dengan tenang.
Selain itu, bantuan berupa beras dan pakaian layak pakai diserahkan kepada pengurus PGRI Cabang Mauponggo untuk didistribusikan ke masyarakat terdampak di pelosok. Penyaluran dilakukan di empat titik utama, SMPS Batarende, Kampung Sawu di Desa Sawu, SMPN 1 Mauponggo, dan SMPS St. Mikhael Maukeli di Desa Wolokisa. Setiap titik menjadi saksi bahwa solidaritas bisa hadir di tengah kesederhanaan dalam senyum, dalam pelukan, dan dalam kehadiran yang tulus.

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
Koordinator Pengawas Dikdas Nagekeo, Oswaldus Meo, M.Pd mengungkapkan bahwa gerakan donasi ini berangkat dari rasa kemanusiaan yang sederhana: guru bantu guru, murid bantu murid.
“Kalau bukan kita lebih dahulu, siapa lagi? Kesejahteraan lahir batin guru itu menentukan kualitas pendidikan di kelas. Guru yang tenang akan melahirkan anak didik yang kuat,” ujarnya.
Ketika Air Surut, Hati Tetap Mengalir
Mereka yang menerima bantuan mengaku terharu dan berterima kasih. Di antara wajah-wajah yang baru kemarin menangis karena kehilangan rumah, kini ada senyum kecil yang kembali muncul.
“Ini bukan soal uangnya, tapi rasa peduli itu yang membuat kami kuat,” kata seorang guru SD yang rumahnya rusak berat akibat banjir. Gerakan ini mungkin tak mampu mengembalikan seluruh kerugian material, tapi mampu memulihkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Ketika Hujan Mengajar Kita Arti Persaudaraan
Banjir bisa menghapus jalan, tapi tidak bisa menghapus kepedulian. Air bisa meruntuhkan tembok rumah, tapi tidak bisa meruntuhkan tekad manusia untuk saling menopang.
Apa yang dilakukan PGRI Nagekeo hari ini adalah pesan sederhana dari bumi yang sering kita abaikan, ketika alam menangis, hanya hati yang hidup yang bisa mendengar.
Dari lumpur yang basah di Mauponggo, kita belajar bahwa solidaritas bukanlah program tahunan, ia adalah denyut kemanusiaan yang terus hidup, selama masih ada orang yang percaya bahwa memberi adalah bentuk tertinggi dari mengajar. (AL/Irminus Deni)
