Saat “Gerakan Perubahan” Julie Laiskodat dan Bank Mandiri Mengetuk Pintu Hati Warga Witurombaua

NAGEKEO, atalomba.com – Langit di atas Desa Witurombaua, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, tampak muram diselimuti awan kelabu khas musim penghujan bulan Desember. Di kejauhan, debur ombak Laut Selatan yang terkenal ganas menghantam karang, menciptakan nyanyian alam yang menemani kesunyian warga desa di pesisir itu. Bagi sebagian besar orang, Natal adalah tentang gemerlap lampu kota, pesta pora, dan tumpukan kado di bawah pohon cemara. Namun, bagi warga di pelosok Witurombaua, Natal seringkali hanyalah tentang doa sunyi di dalam hati, semoga hari esok dapur tetap mengepul.
Desa ini, dengan segala keindahan alamnya yang eksotis, menyimpan cerita tentang keterbatasan. Akses yang tak mudah dan jarak yang membentang dari pusat keramaian seringkali membuat warganya merasa seolah hidup di beranda belakang peradaban. “Jauh di mata, jarang tersentuh,” mungkin begitu stigma yang selama ini melekat. Namun, sejarah baru terukir tepat menjelang perayaan kelahiran Sang Juru Selamat tahun ini. Sebuah “tangan kasih” yang tak terlihat namun nyata, menembus batas geografis dan birokrasi, mendarat tepat di pangkuan mereka yang paling membutuhkan.
Sebuah Kejutan dari Senayan
Kabar itu datang bukan dibawa oleh angin laut, melainkan oleh langkah kaki nyata para pejuang kemanusiaan. Adalah Julie Sutrisno Laiskodat, Srikandi Partai NasDem yang duduk di Komisi XI DPR RI, yang menginisiasi sebuah gerakan kepedulian masif. Menggandeng mitra kerjanya, Bank Mandiri, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR, ribuan harapan dikirimkan dalam bentuk paket sembako.
Bukan sekadar bantuan logistik, ini adalah manifestasi nyata dari tagline “Gerakan Perubahan” (Restorasi Indonesia) yang diusung Partai NasDem. Gerakan ini bukan sekadar slogan politik di baliho pinggir jalan, melainkan sebuah aksi nyata memuliakan manusia, mengangkat martabat mereka yang terpinggirkan, dan hadir di saat rakyat benar-benar membutuhkan. Yayasan Sao Mere, yang dipercaya sebagai perpanjangan tangan dalam penyaluran ini, bekerja dalam senyap namun pasti, memastikan amanah tersebut sampai ke titik koordinat yang tepat.
Kesaksian Polos Alex Susu, “Kami Tidak Kenal Wajahnya, Tapi Kami Rasakan Kasihnya”
Di salah satu sudut desa, di sebuah rumah sederhana yang dindingnya menyimpan ribuan cerita perjuangan hidup, Alex Susu, seorang warga penerima paket sembako. Pria paruh baya yang kulitnya legam terbakar matahari pesisir itu berdiri terpaku memegang paket sembako yang baru saja diterimanya. Tangannya gemetar, bukan karena beratnya beban, melainkan karena beratnya rasa syukur yang menghimpit dada.
“Kami merasa sangat bersyukur,” ucap Alex, suaranya parau. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum melanjutkan. “Karena pada hari Natal yang suci ini, kami mendapatkan paket sembako justru dari Ibu Julie Laiskodat. Seorang Anggota DPR RI yang nun jauh di sana, tapi ingat dengan kami di desa terpencil di pesisir selatan ini.”
Kata-kata Alex meluncur jujur, tanpa rekayasa. Ia mewakili jeritan hati ribuan warga desa yang selama ini merindukan perhatian pemimpinnya. Bagi Alex, politik seringkali adalah hal yang rumit dan berjarak. Namun hari ini, politik hadir dalam wujud yang paling sederhana dan menyentuh, sekantung beras, Gula dan minyak Goreng serta kebutuhan pokok untuk merayakan Natal bersama keluarga.
“Kami tidak menyangka perjuangan Ibu Julie Laiskodat melalui Bank Mandiri dan Yayasan Sao Mere bisa sampai ke sini. Ini bukan sekadar sembako. Ini adalah bukti bahwa kami dianggap. Ini menjadi oleh-oleh Natal terindah buat kami,” sambungnya.
Pernyataan Alex selanjutnya justru menjadi tamparan kemanusiaan bagi siapa saja yang mendengarnya. Dengan kepolosan khas orang desa, ia mengakui ketidaktahuannya akan sosok sang donatur.
“Jujur kami katakan, kami tidak kenal dan tidak tahu wajah Ibu Julie Laiskodat secara langsung. Kami belum pernah berjabat tangan dengan beliau. Tapi, beliau sangat peduli dengan kami di NTT, khususnya kami di Nagekeo dan Keo Tengah. Beliau seperti ibu yang tahu anaknya sedang lapar meski sang anak tidak meminta,” ungkap Alex. Matanya menerawang jauh, seolah mengirimkan doa tulus melintasi lautan menuju Jakarta, tempat Julie Laiskodat memperjuangkan nasib mereka di gedung parlemen.
Irminus Deni, Mengawal Amanah, Menjaga Keadilan
Di lapangan, sosok kunci yang memastikan “kado Natal” ini sampai adalah Irminus Deni. Sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai NasDem Kecamatan Keo Tengah, Deni, sapaan akrabnya tidak sekadar duduk di belakang meja. Ia turun langsung, menyusuri jalanan desa, mengetuk pintu warga, dan menyerahkan bantuan tersebut dengan tangannya sendiri. Wajahnya yang lelah tertutup oleh semangat yang berapi-api. Baginya, ini bukan sekadar tugas partai, ini adalah panggilan hati nurani.
Kepada atalomba.com, di sela-sela kesibukannya membagikan paket, Irminus Deni memberikan penjelasan yang sangat krusial. Ia sadar, jumlah bantuan yang terbatas seringkali menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat yang mayoritas hidup pas-pasan. Namun, di sinilah kebijaksanaan seorang pemimpin diuji.
“Mungkin tidak semua masyarakat mendapatkan paket ini,” buka Deni dengan nada yang hati-hati namun tegas. Ia menatap kerumunan warga dengan tatapan penuh empati. “Karena paketnya memang terbatas. Oleh karena itu, kami harus membuat keputusan yang berat namun adil. Kami memprioritaskan paket ini kepada mereka yang memang benar-benar harus kita bantu saat ini juga.“
Deni menjelaskan bahwa langkah ini bukanlah keputusan sepihak. Ada garis komando yang jelas dan terukur dalam struktur Partai NasDem, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di atas popularitas semata. Instruksi tersebut datang langsung dari pimpinan tertinggi partai di tingkat kabupaten.
“Ini memang perintah langsung dari Ketua DPD NasDem Kabupaten Nagekeo, Bapak dr. Johanes Don Bosco Do,” tegas Deni. Nama Johanes Don Bosco Do tentu bukan nama asing. Sebagai tokoh sentral dan mantan Bupati Nagekeo, instruksinya selalu bernapaskan keberpihakan pada kaum papa.
Ketua DPD NasDem Nagekeo menyampaikan pesan tegas kepada kami, ‘Kita prioritaskan dulu kepada mereka yang memang benar-benar membutuhkan, yang janda, yang lansia, yang tidak punya penghasilan tetap. Kalau lain kali ada rezeki dan paket lagi, baru kita bagi ke yang lain.’ Itu pesan Bapak Don Bosco yang kami pegang teguh,” imbuh Deni.
Kata-kata tersebut menyiratkan sebuah kedewasaan berpolitik. NasDem Nagekeo di bawah komando Don Bosco Do dan eksekusi lapangan oleh Irminus Deni, tidak ingin terjebak dalam politik “bagi rata” yang seringkali tidak tepat sasaran. Mereka memilih jalan yang lebih sulit, memilah, memilih, dan memastikan bantuan jatuh ke tangan mereka yang jika tidak dibantu hari ini, mungkin tidak bisa dapat esok hari.
Menyalakan Lilin Harapan di Tengah Kegelapan
Sore itu, Desa Witurombaua tampak berbeda. Ada senyum yang merekah di wajah-wajah yang biasanya duduk diam. Ada asap dapur yang mengepul lebih tebal dari biasanya, menandakan ada hidangan istimewa yang sedang disiapkan untuk menyambut malam Natal.
Sinergi antara Julie Laiskodat di tingkat pusat, Bank Mandiri sebagai pilar ekonomi bangsa, Yayasan Sao Mere sebagai jembatan kasih, dan kader-kader NasDem di akar rumput seperti Irminus Deni, telah menciptakan sebuah orkestra kebaikan yang indah.
Bantuan sembako CSR ini mungkin akan habis dalam hitungan minggu. Beras akan dimasak, minyak akan dipakai dan Gula akan diminum. Namun, memori tentang “tangan-tangan tak terlihat” yang merangkul mereka di saat sulit, akan kekal dalam ingatan warga Witurombaua.
Di tengah gempuran pragmatisme politik, apa yang terjadi di Witurombaua adalah oase. Ini adalah bukti bahwa Gerakan Perubahan bukan sekadar retorika kosong. Ia hidup. Ia bernapas. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong desa, menembus hujan dan panas, hanya untuk memastikan bahwa di Republik ini, tidak boleh ada rakyat yang merasa sendirian.
Alex Susu dan warga Witurombaua kini bisa menatap Natal dengan mata berbinar. Meski mereka tidak mengenal Julie Laiskodat, doa mereka kini menyebut namanya. Dan bagi Irminus Deni, lelah menyusuri desa terbayar lunas saat melihat senyum tulus warga. Karena pada akhirnya, esensi dari politik adalah kemanusiaan itu sendiri.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Nagekeo, meninggalkan semburat jingga yang memeluk desa. Di Witurombaua, Natal tahun ini terasa lebih hangat. Bukan karena kemewahan, tapi karena rasa persaudaraan yang diikat oleh kepedulian tanpa sekat.
Laporan: Irminus Deni Editor: Redaksi atalomba.com
