BERANI: Menyalakan Api Persaudaraan di Tengah Badai Perbedaan

Oleh Irminus Deni
Di sebuah negeri yang memeluk lebih dari 17 ribu pulau, kita hidup di antara perbedaan yang tak terhitung. Dari suara azan subuh di kampung pesisir, denting lonceng gereja di lereng gunung, hingga bunyi gamelan yang berpadu dengan tabuhan tifa di pasar-pasar tradisional, Indonesia adalah orkestra besar yang nada-nadanya berbeda, namun jika dimainkan bersama, menghasilkan harmoni yang indah.
Tetapi sejarah bangsa ini tidak pernah sunyi dari cobaan. Ada masa ketika perbedaan disulut menjadi api kebencian, ketika rumah ibadah ditutup, ketika nama Tuhan dijadikan alasan untuk menindas. Ada masa ketika kita lupa bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan di lambang negara, melainkan janji yang diwariskan oleh para pendiri bangsa, janji untuk menjaga satu sama lain meski kita tak selalu sama.
Di tengah kenyataan itulah Badan Persaudaraan Antariman (BERANI) lahir, pada 31 Oktober 2022 di Jakarta. Ia memang berdiri sebagai organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tetapi jantungnya berdetak untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepentingan politik, menjaga persaudaraan lintas iman agar tetap hidup, hangat, dan nyata di tengah masyarakat.
BERANI bukan sekadar nama, ia adalah sikap. Ia merangkul Ukhuwah Diniyah—persaudaraan karena iman, Ukhuwah Wathoniyah—persaudaraan karena tanah air, dan Ukhuwah Insaniyah—persaudaraan karena kemanusiaan. Tiga tiang ini menjadi pondasi yang kokoh, karena ia berakar dari nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan kebijaksanaan yang menjadi nafas Pancasila.
Visinya jelas, menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah sesuai agama atau kepercayaannya, membangun masyarakat toleran dan damai, mengawal demokrasi agar tak dicuri oleh mereka yang membenci perbedaan. Misinya pun konkret, dari membangun jejaring lintas agama, mengadvokasi kebijakan publik, mendidik kader berjiwa toleran, hingga memberdayakan akar rumput melalui koperasi dan UMKM.
Namun yang membuat BERANI istimewa bukan hanya daftar programnya, tetapi keberaniannya melawan arus. Karena hari ini, menjadi toleran itu kadang dianggap lemah. Membela hak kelompok lain dianggap mengkhianati “kelompok sendiri.” Menolak penutupan rumah ibadah sering dituduh sebagai agenda tersembunyi. BERANI hadir untuk menantang stigma itu. Ia ingin membuktikan bahwa berdiri bersama orang yang berbeda justru adalah puncak keberanian.
Keberanian itu adalah warisan. Para pendiri bangsa kita, mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi duduk di meja yang sama untuk membicarakan masa depan Indonesia. Mereka tahu, kemerdekaan bukanlah hadiah untuk satu golongan, melainkan rumah untuk kita semua.
Maka, kenapa harus ber-BERANI? Karena lilin persaudaraan hanya akan terus menyala jika ada yang bersedia menjaganya dari tiupan angin kebencian. Karena suara toleransi hanya akan terdengar jika ada yang mau berbicara meski ditentang. Karena kita tak ingin mewariskan pada anak cucu sebuah negeri yang penuh curiga, di mana perbedaan adalah alasan untuk bermusuhan.
BERANI mengajak kita kembali pada akal sehat yang sederhana, bahwa iman tak membuat kita musuh, bahwa warna kulit tak membuat kita asing, bahwa bahasa dan adat tak membuat kita terpisah. Bahwa kita semua, apa pun labelnya, adalah sesama manusia yang berhak merasa aman di tanah yang sama.
Di lorong-lorong kota, di desa-desa terpencil, di kampus dan pasar, BERANI ingin menyalakan percikan itu. Percikan yang mungkin kecil, tetapi bila dijaga bersama, akan menjadi api yang menghangatkan negeri ini. Api yang tak membakar, melainkan menerangi.
Dan jika kita bertanya siapa yang akan menjaga api itu, jawabannya bisa sesederhana, kita. Kita yang percaya bahwa masa depan Indonesia tidak boleh diatur oleh rasa takut pada perbedaan. Kita yang mau menyalakan lilin di tengah gelap, walau tahu lilin itu mungkin tak membuat seluruh ruangan terang, tetapi cukup untuk membuat orang lain tahu bahwa harapan masih ada.
Karena pada akhirnya, keberanian bukan hanya soal berperang di medan laga. Keberanian adalah ketika kita memutuskan untuk tetap memeluk di saat orang lain mendorong. Keberanian adalah ketika kita berkata “kita semua saudara” di saat orang lain berkata “pilih salah satu.”
Dan mungkin, keberanian terbesar adalah ketika kita memilih untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Itulah yang ditawarkan BERANI.
