Selamat Bertugas, Daniel: Jangan Tidur Sebelum Perjuangan Selesai
EDITORIAL ATALOMBA.COM

Ada yang lebih berat dari sekadar memimpin organisasi, yaitu memimpin sejarah yang sudah hidup lebih dulu. Pada malam 7 Oktober 2025, di Margasiswa PMKRI Ende, palu sidang diserahkan kepada seorang anak muda dari Maybrat, Papua Barat Daya, Daniel Sakof Turot. Ia terpilih sebagai Mandataris Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC), sekaligus Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco periode 2025–2026. Kita ucapkan selamat kepada Daniel. Tapi lebih dari sekadar selamat, kita ingin mengatakan, “selamat datang di medan yang sesungguhnya”.
PMKRI, Sebuah Warisan, Bukan Sekadar Organisasi
PMKRI bukan lembaga sosial biasa. Ia adalah rumah kader, ruang belajar iman dan perjuangan, tempat manusia ditempa untuk berpikir, beriman, dan berjuang dalam terang nilai-nilai Kristiani dan semangat nasionalisme. Organisasi ini berdiri sejak 1947 secara nasional dan sejak 1963 di Ende, di kota tempat Bung Karno menemukan Pancasila dan Gereja menemukan bentuk sosial imannya di tengah rakyat kecil.
Setiap RUAC bukan hanya forum evaluasi, tapi juga upacara kelahiran kembali. Di dalamnya, semangat generasi berganti, namun nilai-nilai dasar tetap sama, melayani tanpa pamrih, berpikir kritis, dan berpihak pada yang tertindas. Maka, ketika nama Daniel disebut dan palu sidang berpindah tangan, yang terjadi bukan sekadar pemilihan, tapi penyerahan sejarah.
Mandataris, Gelar yang Mengandung Amanah
Dalam tradisi PMKRI, gelar Mandataris RUAC bukan kebanggaan pribadi, tapi bentuk kepercayaan komunal. Ia bukan jabatan yang dipegang, melainkan beban yang dipikul bersama. Menjadi ketua presidium bukan soal kemampuan berbicara atau berdebat, melainkan kemampuan untuk bertahan, mendengar, dan menggerakkan.
Daniel datang dari jauh, dari Maybrat yang penuh sunyi ke Ende yang riuh ide. Ia datang bukan dengan modal kekuasaan, tapi dengan pengalaman belajar, kesederhanaan, dan prinsip hidup yang keras tapi jujur:
“Jangan tidur sebelum orang lain tidur, bangun duluan sebelum orang lain bangun.”
Kalimat itu, dalam konteks PMKRI, bukan sekadar semboyan pribadi. Itu adalah cermin seorang kader yang siap menanggung konsekuensi perjuangan. Karena menjadi pemimpin PMKRI artinya siap tidak nyaman, siap menghadapi dinamika internal, dan siap berdiri di garis depan ketika organisasi harus bersuara bagi rakyat kecil.
Belajar dari Masa Lalu, Bergerak untuk Masa Depan
PMKRI Cabang Ende telah melahirkan banyak kader besar, di politik, Gereja, hukum, pendidikan, dan gerakan sosial. Tapi di atas segalanya, PMKRI harus terus menjadi tempat “belajar menjadi manusia utuh”. Organisasi ini bukan milik mereka yang haus jabatan, tapi bagi mereka yang haus perubahan.
Daniel, dengan latar Papua dan disiplin hukum yang ia tekuni, membawa warna baru bagi PMKRI Ende.
Ia datang bukan untuk menggantikan generasi lama, tapi untuk menyambung nyala api perjuangan.
Dalam konteks saat ini, dua isu yang ia pilih sebagai fokus utama, Ekologi dan Korupsi, bukan sekadar topik, tapi luka sosial yang menuntut keberanian moral.
Ketika hutan dibabat, laut dirusak, dan rakyat kecil kehilangan haknya, di situlah suara PMKRI seharusnya menggema. Ketika uang menjadi tuhan baru dan integritas terjual murah, di situlah PMKRI harus berdiri tegak, bukan di tengah, bukan netral, tapi berpihak pada yang tertindas.
Pemimpin yang Melahirkan Pemimpin
Editorial ini juga ingin mengutip pernyataan Ketua Demisioner, yang berbicara dan mbemberikan pesan kepada kader-kader lain, “bahwa tanggung jawab organisasi tidak berhenti pada pemilihan“. Kemenangan Daniel bukan akhir, melainkan panggilan bagi semua anggota untuk bekerja bersama. PMKRI tidak hidup karena satu ketua, tetapi karena setiap kader mau menyalakan api kecil di tempatnya masing-masing.
Kaderisasi tidak berhenti di meja sidang, tapi di ruang refleksi, di kampung-kampung pengabdian, di kelas-kelas diskusi, di jalan-jalan advokasi. Di sanalah makna “perhimpunan” diuji, bukan pada jumlah anggota, tapi pada kedalaman komitmen.
Dari Ende untuk Indonesia, Dari Papua untuk Dunia
Kita belajar sesuatu dari kisah Daniel Turot, bahwa keberanian dan ketekunan bisa menembus batas geografis dan prasangka. Anak Maybrat yang menempuh perjalanan panjang ke Flores kini memimpin cabang PMKRI di kota sejarah Pancasila. Itu bukan kebetulan. Itu tanda bahwa semangat Katolik dan nasionalisme sejati tidak mengenal asal, warna kulit, atau suku.
Di tangan Daniel dan jajaran presidium yang baru, kita berharap PMKRI Ende kembali menjadi mercusuar, tempat iman diterjemahkan menjadi tindakan, tempat solidaritas sosial tidak berhenti di kata-kata, dan tempat setiap anggota merasa memiliki peran dalam sejarah bangsa.
Mandat untuk Tidak Diam
Kepemimpinan adalah perjalanan sunyi di tengah kebisingan. Daniel akan segera merasakan bahwa menjadi Ketua PMKRI berarti sering salah paham, sering disalahartikan, tapi harus tetap berjalan.
Karena sejarah tidak ditulis oleh mereka yang banyak alasan, tapi oleh mereka yang tetap melangkah.
Kita percaya, dengan ketulusan dan disiplin yang ia bawa, Daniel akan memimpin bukan dari atas podium, tapi dari tengah-tengah perhimpunan, bersama kader, mendengar, belajar, dan bergerak.
Palu sudah berpindah tangan. Dan bersama palu itu, berpindahlah juga harapan, tanggung jawab, dan panggilan untuk menjaga api PMKRI agar tak padam.
Selamat memimpin, Daniel Sakof Turot. Selamat menempuh perjalanan baru, PMKRI Cabang Ende. Bukan untuk menjadi besar, tapi untuk tetap setia menjadi terang, bagi Gereja, bangsa, dan sesama manusia yang tertindas.
🟤 Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
