Pulang Dalam Peti, Disebut Pahlawan Devisa: Ironi Pekerja Migran Indonesia Dari NTT

Oleh: Irminus Deni
Juni adalah bulan penuh senyum dan jebakan. Di mana-mana, linimasa media sosial penuh dengan toga, bunga plastik, dan caption manis, “Thanks Mom, I made it!” “Lulus bukan akhir, tapi awal!” “Siap melangkah ke masa depan!”
Tapi sayangnya, buat banyak anak muda di NTT, “masa depan” itu artinya pergi dari rumah. Bukan ke kampus, bukan ke pelatihan kerja, tapi ke Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Kalimantan, bahkan kapal penangkap ikan di laut lepas yang bahkan peta pun bingung menunjukkannya.
Dan masalahnya, mereka pergi tanpa peta. Tanpa pelatihan. Tanpa informasi. Tanpa tahu bedanya antara kerja resmi dan kerja dalam mimpi. Lalu, beberapa bulan kemudian, kabar duka datang. Bukan dalam bentuk panggilan video atau foto selfie di Menara Petronas. Tapi peti jenazah. Dengan pita merah-putih, dan berlabelkan “PAHLAWAN DEVISA”.
Katanya Pahlawan Devisa, Tapi Pulangnya Diam-Diam?
Kita sering dengar, pekerja migran disebut sebagai “Pahlawan Devisa.” Wah, luar biasa! Kalau sudah pakai kata “pahlawan”, kita bayangkan disambut dengan pengalungan, diberi medali, difasilitasi negara. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Kadang Jenazah PMI dibiarkan berhari-hari di bandara. Keluarga bingung cari ongkos pemulangan dan pemakaman. Tidak ada asuransi, tidak ada santunan, tidak ada perhatian. Yang ada hanya satu kalimat klasik. “Mereka berangkat secara nonprosedural. Kami tidak bisa berbuat banyak.” Lalu kami bertanya, “Kenapa mereka berangkat secara nonprosedural?” Jawabannya ternyata simple, Karena tidak ada prosedur yang bisa diakses rakyat kecil.
Musim Lulus, Musim Panen Calo
Sekarang ini, desa-desa di NTT, para calo sudah mulai masuk. Mereka lebih cepat dari PLN dan lebih konsisten dari proyek pemerintah. Calo bawa brosur cetak warna. Naik Avanza pinjaman, pakai kemeja lengan panjang digulung separuh, calo berkata kepada calon korban. “Kerja ringan kok, bantu-bantu di restoran.” “Gaji 7 juta sebulan. Tiket gratis.” “Izin kerja kami yang urus, pokoknya aman!”
Anak-anak muda yang baru lulus, masih bingung mau ngapain, langsung silau. Orang tua juga kadang ikut mendukung, karena siapa tahu anaknya bisa bantu beli seng rumah. Mereka lupa, kerja di luar negeri itu bukan seperti di TikTok. Tidak ada filter. Tidak ada lagu latar. Yang ada adalah, disuruh tidur di dapur.
Negara ke Mana? Kok Diam?
Ketika satu jenazah PMI pulang ke kampung, aparat turun. Foto-foto untuk buat laporan perjalanan dinas. Pejabat yang datang kasih sambutan, “Ini menjadi evaluasi kita bersama.” “Pemerintah akan serius menangani masalah ini.”
Lalu seminggu kemudian? Hening. Sampai ada jenazah berikutnya lagi. Lalu sambutan yang sama berulang. Padahal kalau pemerintah serius, ada banyak yang bisa dilakukan, “Bentuk Posko Informasi Migrasi Aman di tiap desa“. “Buka pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan pasar kerja“. “Sediakan alternatif kerja lokal untuk anak-anak muda“. “Perketat pengawasan terhadap calo dan agen bodong“. “Bangun sistem pelaporan cepat bagi PMI yang mengalami kekerasan“.
Tapi sayangnya, prioritas pemerintah hari ini masih lebih banyak untuk proyek yang lagi viral di medsos yaitu “proyek panas bumi di flores“, atau selfie di luar kota dan luar negeri atas nama “belajar best practice”.
Kampung Harus Jadi Tempat Hidup, Bukan Titik Berangkat
Kita harus berani membalik pertanyaan besar itu, “Kenapa mereka pergi?” Karena kampung sudah tidak bisa menjanjikan masa depan. Tidak ada lapangan kerja. Tidak ada pelatihan pasca sekolah. Tidak ada akses modal usaha atau tidak ada harapan selain pergi.
Padahal, kalau kita mau jujur, banyak pekerjaan lokal yang bisa diciptakan. Pengolahan hasil pertanian. Ekowisata berbasis komunitas. Peternakan terpadu dan industri kreatif berbasis budaya. Tapi semua itu butuh kebijakan. Butuh kemauan politik. Butuh pemimpin yang mikirin rakyatnya, bukan mikir proyek.
Kita Harus Mulai dari Diri Sendiri
Kalau tunggu pemerintah, mungkin kita keburu ubanan. Karena itu, kita harus mulai dari rumah, dari gereja, dari komunitas.
-
Ajak anak-anak muda diskusi soal migrasi aman.
-
Bentuk komunitas alumni yang bisa bantu sharing pengalaman kerja luar negeri.
-
Undang PMI yang berhasil pulang untuk jadi mentor.
-
Lawan calo-calo keren dengan edukasi cerdas.
Dan untuk anak-anak muda yang baru lulus, Sebelum tergoda brosur warna dan janji “kerja mudah bergaji besar”. Tanya dulu, Perusahaan apa? Kontrak kerjanya jelas? Izin resminya ada? Siapa yang tanggung jawab kalau kamu sakit, atau tidak dibayar?
Jangan Tunggu Peti Lagi
66 orang anak NTT sudah mati di luar negeri hanya sampai pertengahan tahun ini. Kalau ini dibiarkan, akhir tahun mungkin jadi 100. Dan tahun depan? Mungkin kita tidak lagi kuat menghitung. Kita boleh miskin. Tapi kita tidak boleh miskin informasi dan miskin keberanian untuk bersuara. Kalau anak-anak kita terus mati, bukan hanya mereka yang gagal, kitalah yang sebenarnya lebih dulu mati. Kita telah mati rasa.
Anak-anak ini dulunya main bola di halaman sekolah. Mereka ikut misa OMK, mereka ikut koor saat natal. Mereka hanya ingin hidup lebih baik. Tapi sistem, ketidak pedulian, dan rayuan calo, membawa mereka ke liang kubur.
Saya menulis ini bukan karena ingin menyalahkan. Saya tulis ini karena saya marah dan sedih. Karena hampir tiap bulan, ada saja kabar anak muda kita yang meninggal. Di negeri jauh. Dalam kondisi menyedihkan. Dan pulang tanpa suara. Tanpa upacara. Tanpa keadilan. Mereka pergi dengan harapan, dan pulang dalam peti, dengan tangisan. Mereka bukan angka statistik. Mereka bukan korban nasib. Mereka korban sistem yang tidak peduli.
Jadi, Kamu Mau ke Mana?
Kalau kamu anak muda NTT yang baru lulus, saya tahu kamu pasti punya mimpi. Ingin bantu orang tua.
Ingin punya penghasilan. Ingin mandiri. Tapi jangan biarkan mimpi itu dicuri oleh calo. Kamu bisa kerja di luar negeri, tapi lewat jalur resmi! Kamu juga bisa kerja di kampung, kalau kita sama-sama bangun peluang.
Jangan buru-buru. Jangan tergiur cepat kaya. Karena hidupmu terlalu berharga untuk dibarter dengan “gaji 5 juta dan tiket gratis” dari orang yang bahkan namanya kamu tak tahu.
Mari kita jaga anak-anak kita, bukan setelah mereka mati, tapi sejak mereka punya mimpi. Kalau satu generasi gagal dilindungi, maka jangan salahkan mereka kalau kampung ini kosong, dan yang tersisa cuma rumah tua dan karangan bunga. Penulis Adalah Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay. Keuskupan Agung Ende
