Salib di Ujung Senja: Jejak Iman OMK St. Yoseph Raja Dimulai dari Watu Sege

Raja Selatan, 6 Juli 2025 — Atalomba.com
Senja belum usai saat ratusan langkah kaki mulai menyatu dalam satu irama. Mereka datang dari berbagai arah, mengenakan pakaian Adat Nagekeo, wajah-wajah muda yang bersinar bukan karena cahaya matahari, melainkan oleh keyakinan dalam dada. Minggu, 6 Juli 2025, Paroki St. Yoseph Raja menulis satu lembar sejarah rohani dalam perjalanan panjang Gereja Katolik di Kevikepan Mbay, menyambut Salib Pencanangan Mbay Youth Day, yang dicanangkan dari Paroki Hati Kudus Yesus Maunori.
Lokasinya bukan di alun-alun besar atau lapangan kota. Bukan pula di atas panggung dengan lampu sorot dan pengeras suara yang membahana. Tetapi di Watu Sege, Desa Raja Selatan, tanah yang sunyi, sederhana, dan sarat makna. Di tempat inilah, dengan latar langit keemasan dan matahari yang perlahan pamit ke barat, kayu salib yang kudus itu diterima dengan tangan terbuka, dengan lutut yang menunduk, dan dengan hati yang bergetar.
Tarian yang Membuka Langit
Suasana sakral tidak datang tiba-tiba. Ia dipanggil oleh doa dan diundang oleh budaya. Sebelum Salib tiba, irama gong dan gendang telah membelah keheningan desa. Tarian adat dilantunkan sebagai penghormatan tertinggi atas kehadiran salib suci, yang bukan hanya kayu biasa, melainkan lambang keselamatan umat manusia. Di antara para penari, terlihat tubuh-tubuh muda menari dengan sepenuh jiwa. Gerak mereka tidak sekadar estetika, tapi persembahan rohani dalam bentuk yang paling jujur dan alami.
Tarian itu bukan hanya milik para OMK. Ia adalah milik leluhur. Ia adalah bahasa tanah. Ia adalah suara jiwa yang menyatu dengan Salib, menyambutnya bukan sebagai benda asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang sejak lama telah diwarnai oleh pengorbanan dan kasih.

Salib dalam Pelukan Imam
Puncak dari prosesi penyambutan adalah saat RD. Albertus Dau Djanggo, Vikaris Paroki St. Yoseph Raja sekaligus Moderator OMK, menerima Salib secara simbolis. Ia melangkah pelan ke depan, dengan wajah tenang namun penuh penghayatan.
Dalam pengalungan selendang Nagekeo, tak ada suara. Tak ada tepuk tangan. Hanya keheningan. Dan dalam keheningan itu, semua tahu bahwa perjalanan baru telah dimulai. Sebuah perjalanan iman yang tidak mudah, tetapi penuh pengharapan. Sebuah perjalanan yang bukan hanya milik OMK, tapi milik seluruh Gereja, yang harus terus disegarkan oleh semangat muda, oleh darah yang belum kering oleh idealisme, dan oleh cinta yang belum habis oleh keraguan.
Kirab yang Menghidupkan Doa
Setelah penerimaan, Salib diarak perlahan menuju Gereja Paroki. Kirab ini bukan seperti parade meriah. Ia lebih menyerupai ziarah batin. Salib diangkat, dinyanyikan, didoakan. Cahaya senja memantul di atas kayunya dan seluruh makna terletak.
Ratusan OMK berjalan mengikuti, menyanyikan lagu-lagu rohani dengan suara lirih dan penuh semangat. Langkah kaki mereka menimbulkan debu di jalan desa, namun hati mereka justru semakin jernih. Warga yang menyaksikan dari pinggir jalan pun larut dalam prosesi. Ada yang menunduk. Ada yang bergembira. Ada yang menyilangkan tangan di dada, tanpa kata. Karena dalam Salib itu, semua orang menemukan cerita mereka sendiri.
Maria Fatima Djogo Putri, Sekretaris OMK Paroki St. Yosep Raja, kepada Atalomba.com mengatakan bahwa momen ini adalah lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah titik balik.
“Kami menyambut Salib ini seperti menerima kembali Kristus dalam hidup kami. Sebagai orang muda, kami sering bingung, merasa jauh dari Gereja, dari Tuhan. Tapi hari ini kami merasa dipeluk kembali, diundang lagi untuk berjalan bersama-Nya. Ini bukan tugas ringan, tapi kami siap,” ujar Maria Fatima.
Ia pun menambahkan bahwa OMK telah menyiapkan rangkaian kegiatan Kirab Salib ke setiap lingkungan mulai Minggu, 13 Juli 2025. Setiap tempat akan menjadi persinggahan, dan setiap persinggahan akan menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kehidupan nyata kaum muda.
Jejak Baru yang Menyala
Penerimaan Salib di Watu Sege telah usai, tapi sesungguhnya, perjalanan baru justru dimulai. Salib akan berjalan dari lingkungan ke lingkungan. Ia akan masuk ke rumah-rumah, ke kapela-kapela, ke sekolah-sekolah. Ia akan menyapa anak muda yang putus sekolah, yang sibuk kerja, yang kehilangan arah. Ia akan tinggal sejenak, dan meninggalkan bekas yang lama.
Lebih dari itu, Salib ini akan menguji kesetiaan, apakah penyambutan hanya sebatas seremoni, atau sungguh menjadi komitmen rohani. Bagi OMK Paroki St. Yoseph Raja, ini adalah tantangan sekaligus anugerah. Mereka telah memulai langkah pertama, menyambut. Sekarang, mereka akan berjalan, memikul, dan menghidupi Salib itu dalam dunia yang tak selalu ramah terhadap nilai-nilai Injil.
Dan mungkin, di suatu tempat, di bawah langit yang berbeda, seseorang akan bertanya: “Dari mana datang cahaya itu?” Dan jawabannya adalah: “Dari Raja, dari Watu Sege, dari hati-hati muda yang berani mencintai Salib dengan sepenuh jiwa.”
Kirab Salib Mbay Youth Day di Paroki St. Yoseph Raja menjadi awal dari rangkaian besar menyambut Hari Orang Muda Kevikepan Mbay. Salib yang sama akan singgah di berbagai lingkungan, KUB dan stasi hingga puncak perayaan pada tanggal 3-7 September 2025.
Bagi pembaca, ini bukan sekadar berita. Ini adalah panggilan. Sebab mungkin, kita semua sedang menunggu satu salib untuk menyadarkan kita kembali, bahwa dalam kasih yang dipaku itu, kita menemukan pengharapan.
