Ritual Nuka Bue, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Kampung Adat Bhela, Kecamatan Keo Tengah-Nagekeo

Kampung Bhela, Nagekeo Atalomba.com — Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat adat di Kampung Bhela tetap setia menjaga warisan budaya leluhur yang telah hidup selama ratusan tahun. Kampung adat yang diperkirakan telah berdiri sejak ±600–700 tahun ini kembali melaksanakan salah satu ritual sakralnya, yakni Nuka Bue, yang berlangsung pada 21 hingga 22 April 2026.
Ritual Nuka Bue merupakan bagian dari rangkaian adat tahunan masyarakat Kampung Bhela. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali, tepatnya dua bulan setelah pelaksanaan ritual adat sebelumnya yang dikenal sebagai Nuka Seko. Bagi masyarakat setempat, Nuka Bue bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus pengikat nilai kebersamaan antarwarga adat.
Menurut penuturan para tetua adat, tradisi ini tetap dijaga secara turun-temurun, bahkan setelah masyarakat mengalami berbagai peristiwa, termasuk bencana yang pernah terjadi di kampung lama Beo. Dari peristiwa tersebut, masyarakat adat tetap mempertahankan identitas budaya mereka, termasuk ritual Nuka Bue yang diwariskan lintas generasi.
Rangkaian ritual dimulai dengan tahap persiapan yang disebut “susu buku nama pata”. Tahap ini berupa kegiatan makan bersama dan doa adat yang dipimpin oleh enam kepala bhisu (suku) bersama para tetua adat. Prosesi ini dilaksanakan di depan gerbang masuk Kampung Adat Bhela, sebagai simbol awal penyatuan niat dan doa sebelum memasuki inti kegiatan.
Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan perarakan menuju rumah adat yang terletak di tengah kampung. Suasana menjadi semakin meriah ketika rombongan disambut oleh para pemuda yang memainkan alat musik tradisional “Toda Bewu” dari dalam rumah adat. Irama yang menggema menjadi simbol kegembiraan dan penghormatan atas berlangsungnya ritual adat tersebut.
Menariknya, sebagian besar rangkaian ritual ini diperankan oleh kaum laki-laki, baik yang telah dilantik sebagai anggota suku maupun warga adat pada umumnya. Hal ini menunjukkan adanya tanggung jawab budaya yang diwariskan secara khusus kepada generasi laki-laki dalam menjaga keberlangsungan tradisi.

Ketua adat Kampung Bhela, Wilhelmus Mite, dalam sambutannya setelah ritual “pute wutu”, menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang terlibat.
“Terima kasih banyak atas partisipasi warga adat, baik tua maupun muda, yang telah hadir dan turut serta dalam melaksanakan rutinitas tahunan ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap warisan leluhur,” Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya. ujarnya.
“Sebagai orang muda, kalianlah yang akan melanjutkan perjalanan kelestarian budaya ini. Oleh karena itu, saya mengajak kaum muda, terutama laki-laki, untuk mengikuti kegiatan ini dengan saksama hingga tahap akhir, yaitu ‘Teke Gale dan Mae’,” tambahnya.
Selain rangkaian utama ritual, terdapat pula kegiatan selingan yang menjadi ruang ekspresi bagi seluruh warga adat. Setelah makan malam, masyarakat diberi kesempatan untuk menampilkan tarian adat yang diiringi oleh musik gong gendang serta “Teke Dera”. Menariknya, kegiatan ini terbuka untuk semua kalangan, tanpa batasan usia maupun gender, sehingga menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan inklusif.
Ritual Nuka Bue yang berlangsung sejak Selasa, 21 April hingga Rabu pagi, 22 April 2026 ini tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga identitas di tengah perubahan zaman. Di Kampung Bhela, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian hidup yang terus dirawat dan dijalankan dengan penuh kesadaran.
Melalui ritual ini, masyarakat Kampung Bhela menunjukkan bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat yang kuat, bahkan di era modern. Sebuah bukti bahwa nilai-nilai leluhur masih mampu hidup, selama ada generasi yang bersedia menjaga dan meneruskannya. (AL/Roy Ceme)
