Desa Migran Emas, Tapi Rakyatnya Masih Tembaga
Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong!
Edisi Senggol Pengambil Kebijakan yang Membingungkan
š Oleh Irminus Deni
Sekretaris Divisi Migran-Perantau Kevikepan Mbay-KAE
Peraih Hassan Wirayudha Award 2022, Kategori Masyarakat Madani
Ganti Menteri, Ganti Program, Masyarakat yang Bingung, Migran yang Dipingpong
Baru-baru ini, kita disuguhi satu nama program baru yang terdengar berkilau, Desa Migran Emas. Kementerian Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) hadir dengan semangat baru, logo baru, dan tentu, jargon baru. Tapi seperti biasa, kita tidak bisa tidak bertanya:
āBukankah dulu sudah ada Desmigratif oleh Kemnaker? Lalu ada Kawan PMI oleh BP2MI? Kenapa sekarang ganti lagi?ā
Kalau program ganti karena evaluasi hasil dan dampak, itu bagus. Tapi kalau ganti karena ganti menteri dan selera beda, itu bikin rakyat puyeng, Pak!
Desmigratif: Dulu Ada, Sekarang Ke Mana?
Dulu, saat Hanif Dhakiri jadi Menteri Ketenagakerjaan, lahirlah program Desmigratif (Desa Migran Produktif). Program ini membawa angin segar ke desa-desa yang menjadi kantong pekerja migran. Fokusnya, pelatihan, koperasi, kewirausahaan, hingga penyuluhan hukum bagi keluarga PMI. Tapi setelah sang menteri pamit, Desmigratif ikut pamit juga, tanpa upacara, tanpa kabar. Kemnaker Hening tak ada yang bicara kelanjutan-nya.
Kawan PMI Datang Mendekat Di gagas oleh BP2MI, Lalu Pergi Tanpa Pesan
Ganti periode, muncul program baru lagi dari BP2MI yang kala itu dipimpin Benny Rhamdani,Ā Kawan PMI (Kawan Pekerja Migran Indonesia). Tugasnya bagus, mendekatkan layanan, memberantas calo, mendampingi migran dan keluarga mereka dari hulu ke hilir. Tapi belum sempat rakyat menghafal logonya, program ini pun menghilang, seiring struktur BP2MI naik kelas jadi kementerian sendiri. Kawan PMI ditingkat Kabupaten hanya mendapat jawaban dari BP3MI tingkat Propinsi bahwa tunggu kebijakan dari pusat, dari Menteri yang baru. Akhirnya hening juga seperti Desmigratifnya Kemnaker.
Desa Migran Emas: Baru Lagi, Bingung Lagi
Kini, Desa Migran Emas di-launching dengan harapan besar. Tapi seperti kisah lama yang diulang. Nama baru, semangat baru, tapi masyarakat tetap bingung. Kenapa program yang sudah ada tidak dilanjutkan dan diperkuat? Apakah karena ingin pencitraan baru? Warisan gaya sendiri? Atau karena proyek baru berarti… ya, kita tahulah.
Rakyat Butuh Konsistensi, Bukan Ganti Nama Tiap Musim
Kita tahu, tiap pejabat bawa gaya masing-masing. Tapi janganlah setiap ganti menteri, program ikut disulap-sulap. Kasihan masyarakat. Mereka bukan kelinci percobaan kebijakan.
Mau Desmigratif, Kawan PMI, atau Desa Migran Emas, intinya harus bermanfaat, konsisten, dan berkelanjutan. Kalau setiap program hanya berjalan setengah jalan, lalu diputus demi nama program baru, itu namanya bukan reformasi, tapi rempong-rasi.
Ketika Proyek Lebih Menggiurkan daripada Proses
Bosqu, dari lapangan kita tahu:
-
Setiap program baru, ada pelatihan ulang.
-
Setiap pelatihan ulang, ada anggaran baru.
-
Setiap anggaran baru, ada peluang tender dan pengadaan.
Lantas, siapa yang paling repot? Rakyat. Yang satu program belum selesai paham, sudah datang program lain, minta data ulang, format baru, pendamping baru, seragam baru. Yang tak pernah baru cuma satu, adalah “kebingungan“.
Jangan Bangun Rumah Setengah Jadi, Lalu Tinggalkan
Bosqu, di banyak desa kami di Nusa Tenggara Timur, program-program migran datang dan pergi seperti angin barat. Masyarakat kami masih setia menunggu:
-
Koperasi yang pernah dijanjikan.
-
Pelatihan yang pernah dimulai.
-
Pendampingan hukum yang dulu katanya berkelanjutan.
Semua itu kini seperti rumah setengah jadi.
Dinding ada, atap tak pernah terpasang.
Kami tak menolak program baru. Tapi jangan abaikan warisan lama yang masih bisa diberdayakan.
Jangan sekadar ganti nama, ubah logo, lalu seolah menciptakan inovasi.
Kami Butuh Kepastian, Bukan Janji yang Berganti
Kepada para pengambil kebijakan, kami tahu Anda semua bekerja keras. Tapi izinkan kami berkata jujur:
Kami butuh keberlanjutan, bukan kebaruan.
Kami butuh hasil, bukan hanya seremoni peluncuran.
Kami butuh program yang berakar, bukan hanya program yang viral.
Kalau terus begini, nanti akan muncul lagi:
Desa Migran Platinum, lalu Desa Migran Berlian,
tapi warganya masih bertanya, āKami ini sebenarnya masuk program yang mana ya?ā
Senggol dong! Biar yang duduk di kursi pengambil kebijakan ingat bahwa rakyat itu bukan papan catur,
tapi pemain kehidupan yang butuh kepastian, keberlanjutan, dan penghormatan.
Salam hangat dari ujung timur Nusantara, dari desa-desa migran yang emasnya bukan di kertas program, tapi di keringat pengabdian dan harapan yang belum selesai.

