Selamat Hari Lingkungan Hidup dari Tanah yang Belum Siap Panas-Panasan!
Refleksi kritis dan jenaka dari Nagekeo, antara potensi pertanian dan ancaman proyek panas bumi/Geotermal

Oleh: Irminus Deni
Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay
Hari Lingkungan Hidup Sedunia tiba lagi. Di beberapa tempat, perayaannya meriah, tanam pohon, lomba poster, seminar bertema “Go Green” dengan pembicara berjas dan latar spanduk hijau. Di kantor-kantor, ada apel pagi dengan pidato tentang bumi yang mesti dijaga. Tapi di tempat kami, di Kabupaten Nagekeo, peringatan ini terasa getir, seperti air sumur yang mendadak asin.
Bukan karena kami tak cinta bumi. Justru karena kami sedang merasa bumi kami dicintai terlalu… keras, oleh para pemilik rencana besar, alat berat, dan ambisi berbau panas, proyek panas bumi Geotermal.
Dari Lahan Pertanian ke Titik Bor, Perubahan yang Terlalu Cepat
Nagekeo adalah tanah berpotensi besar. Di Mbay, tanahnya luas, subur, dan telah lama jadi tumpuan pertanian jagung, padi, dan hortikultura. Peternakan berkembang dengan sapi-sapi yang gemuk bukan karena pakan pabrik, tapi karena rumput segar dari padang terbuka. Kalau diberi dukungan maksimal, kawasan ini bisa jadi lumbung pangan bukan hanya untuk NTT, tapi untuk Indonesia timur.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah pembangunan di Nagekeo seperti sedang berubah haluan. Alih-alih memperkuat pertanian dan peternakan, kini yang mencuat ke permukaan adalah proyek eksplorasi Geotermal. Pemerintah dan investor berargumen bahwa ini demi energi bersih dan kemajuan.
Energi Ramah Lingkungan, Ramah untuk Siapa?
Tentu, dalam teori, panas bumi termasuk energi terbarukan. Tidak menghasilkan emisi setinggi batu bara. Tidak tergantung matahari atau angin. Tapi semua itu tetap butuh lahan. Butuh infrastruktur. Butuh uji coba. Dan yang paling penting, butuh kejelasan dan persetujuan masyarakat.
Yang terjadi di Nagekeo justru sebaliknya. Proyek ini muncul tanpa diskusi publik yang mendalam. Sosialisasi seringkali hanya jadi formalitas, datang, presentasi, foto bersama, lalu pulang. Banyak warga desa bahkan tidak tahu titik bor akan ada di kebun atau hutan dekat kampung mereka. Tak ada penjelasan rinci tentang dampak jangka panjang, baik pada sumber air, kondisi tanah, maupun ekosistem lokal. Dan dalam banyak kasus, “energi bersih” justru melahirkan konflik baru, antara pemerintah dan warga, antara janji dan kenyataan.
Nagekeo Bukan Wilayah Eksperimen
Kami di Nagekeo bukan anti-pembangunan. Tapi kami keberatan jika pembangunan dilakukan seperti eksperimen coba-coba dulu, dampaknya nanti kita pikirkan belakangan. Ini bukan laboratorium. Ini rumah kami. Tempat kami bertani, beternak, membesarkan anak-anak, dan menyekolahkan mereka dari hasil keringat di ladang dan sawah.
Jika tanah ini rusak, jika air mengering atau tercemar karena kegiatan pengeboran, siapa yang akan menanggung akibatnya? Investor bisa pergi, pejabat bisa pindah, tapi kami tetap di sini, menatap lahan yang mungkin tak lagi bisa ditanami.
Ada banyak contoh dari daerah lain yang bisa jadi pelajaran. Beberapa proyek geotermal di Indonesia dan negara lain memang menghasilkan listrik, tapi juga menyisakan kerusakan lingkungan, relokasi warga, dan konflik sosial berkepanjangan. Apakah Nagekeo ingin ikut antre dalam daftar itu?
Pertanian dan Peternakan, Energi yang Lebih Nyata
Yang sering dilupakan dalam wacana pembangunan hari ini adalah, pertanian dan peternakan juga energi. Energi kehidupan. Energi pangan. Energi ekonomi yang berkelanjutan.
Apa gunanya listrik jika dapur tak punya bahan masak? Apa artinya jalan aspal kalau sapi dan jagung tak punya pasar yang layak?
Nagekeo seharusnya diarahkan menjadi pusat produksi pangan berkelanjutan. Kita bisa membangun sistem irigasi yang modern, pasar tani yang adil, dan koperasi petani yang kuat. Kita bisa mengembangkan sekolah kejuruan pertanian dan peternakan, mengajarkan anak muda teknologi pengolahan hasil tani, bukan sekadar menggantungkan nasib pada tambang uap di perut bumi.
Pemerintah dan lembaga pembangunan seharusnya memprioritaskan program-program berbasis tanah dan air, karena itu yang rakyat punya. Jangan terlalu cepat tertarik pada proyek yang kelihatan modern tapi berisiko tinggi bagi masyarakat akar rumput.
Mendengarkan Alam dan Akar Rumput
Sering kali, ketika kita bicara soal lingkungan, yang dihadirkan adalah data, grafik, dan presentasi PowerPoint. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah mendengar, mendengar suara burung yang tak lagi datang karena hutan ditebang, mendengar suara mata air yang makin kecil, dan mendengar suara warga dusun yang bingung kenapa tanah adat mereka diukur-ukur.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup ini seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dan mendengarkan, bukan hanya dari ruang rapat, tapi dari pematang sawah dan kampung yang jauh dari pusat kota.
Jangan Sampai Bumi Meminta Cerai
Bumi adalah rumah kita, katanya. Tapi rumah juga bisa lelah. Ia bisa retak kalau terlalu sering diganggu. Ia bisa meminta cerai kalau terus-menerus dilukai.
Nagekeo sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, ada jalur pertanian dan peternakan yang sudah terbukti memberi kehidupan. Di sisi lain, ada janji pembangunan dari panas bumi yang belum jelas arah dan dampaknya.
Kita bisa memilih. Kita bisa membangun tanpa harus menghancurkan yang sudah ada. Kita bisa menciptakan masa depan yang hijau bukan hanya karena energi bersih, tapi karena pangan cukup, air melimpah, dan warga merasa aman di tanah mereka sendiri.
Selamat Hari Lingkungan Hidup. Mari kita jaga bumi, mulai dari hal-hal kecil, mulai dari dusun, dan mulai dari keputusan-keputusan yang berpihak pada kehidupan.
Dan kalau pun harus “panas“, lebih baik karena cabe rawit hasil ladang sendiri, bukan karena pipa uap dan alat berat yang membuat kampung kami gaduh siang malam.
