“Valentine ala PLN: Baru Menyala, Sudah Mati Lagi”

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Valentine itu selalu datang setiap tanggal 14 Februari. Datangnya pasti. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah lupa. Tidak pernah bilang, “maaf saya sibuk.” Valentine selalu hadir tepat waktu, seperti tagihan Koperasi Harian yang tidak pernah absen. Tapi yang bikin lucu sekaligus tragis, Valentine itu sering datang bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan untuk menguji daya tahan hati manusia, terutama anak-anak milenial yang hidupnya sudah cukup berat ditambah lagi harus menghadapi drama cinta.
Valentine itu rasanya bukan sekadar hari cinta. Valentine itu semacam “hari nasional baper berjamaah.” Hari di mana orang-orang mendadak manis seperti gula pasir, padahal sehari-hari mulutnya lebih pedas daripada sambal Cabe rawit. Hari di mana yang biasanya cuek mendadak romantis, yang biasanya tidak pernah balas chat cepat mendadak jadi rajin kirim stiker hati, dan yang biasanya pelit pujian mendadak berubah jadi penyair dadakan.
Kalau tidak hati-hati, kita bisa berpikir cinta itu benar-benar indah. Padahal… itu cuma efek tanggal. Begitu masuk Februari, suasana mulai berubah. Orang-orang mulai gelisah. Yang punya pasangan mulai sibuk menghitung saldo. Yang tidak punya pasangan mulai sibuk menghitung dosa. Yang HTS (Hubungan Tampa Status) mulai sibuk menghitung kemungkinan. Yang baru putus mulai sibuk menghitung kenangan. Semua orang seolah sedang menunggu satu momen besar, apakah tahun ini mereka akan merayakan Valentine dengan bahagia atau dengan tisu gulung?
Karena di zaman sekarang, Valentine itu bukan lagi soal cinta. Valentine itu soal pembuktian. Kalau kamu tidak kasih hadiah, kamu dianggap tidak sayang. Kalau kamu kasih hadiah tapi kecil, kamu dianggap tidak niat. Kalau kamu kasih hadiah tapi tidak di-posting, kamu dianggap menyembunyikan hubungan. Dan kalau tidak ada story sama sekali, orang-orang langsung berpikir, “ini hubungan atau pinjaman online?”
Valentine sekarang bukan lagi hari romantis. Ini hari kompetisi. Kompetisi siapa paling punya pasangan. Kompetisi siapa paling mampu. Kompetisi siapa paling bisa bikin orang lain iri. Dan yang paling celaka dalam kompetisi ini adalah anak milenial, generasi yang katanya paling kuat, tapi sebenarnya paling sering luka karena cinta. Mereka ingin romantis, tapi isi dompet kadang lebih kosong daripada jalan menuju kampung yang berlubang. Mereka ingin kasih bunga mawar, tapi harga mawar di hari Valentine bisa naik seperti harga sembako menjelang Natal.
Hari biasa, mawar itu masih bisa dibeli dengan uang jajan. Tapi begitu mendekati 14 Februari, mawar berubah jadi barang mewah. Satu tangkai saja rasanya seperti satu sak semen. Kita pun mulai bertanya dalam hati, ini bunga atau investasi? Tapi begitulah Valentine. Ia selalu berhasil membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal demi terlihat romantis.
Ada yang rela hutang Koperasi harian demi beli cokelat. Ada yang rela puasa makan demi beli boneka. Ada yang rela mengorbankan uang bensin demi traktir makan bersama sang pujaan. Dan setelah semua itu, mereka pulang dengan hati lega seolah-olah baru saja memenangkan perang.
Padahal perang sebenarnya baru mulai setelah hadiah diberikan. Karena cinta tidak berhenti pada bunga. Cinta justru dimulai setelah bunga layu. Dan di antara semua kelompok manusia di Hari Valentine, ada satu kelompok yang paling kuat, paling tahan banting, paling kebal hinaan, dan paling ahli menahan sakit hati sambil tertawa, mereka adala “kaum jomblo”.
Jomblo itu bukan sekadar status. Jomblo itu perjuangan. Jomblo itu ujian iman. Jomblo itu semacam latihan kesabaran tingkat tinggi. Jomblo itu seperti sekolah kehidupan, di mana pelajarannya selalu sama: “bagaimana cara bahagia tanpa ditemani siapa-siapa.”
Dan jomblo di Hari Valentine itu lucu. Mereka selalu bilang, “Valentine itu budaya luar.” Mereka bilang, “Valentine itu cuma bisnis pedagang cokelat.” Mereka bilang, “Kami tidak butuh cinta, kami butuh uang.”
Tapi lucunya, begitu malam datang, mereka tiba-tiba jadi pendiam. Mereka tiba-tiba scroll Instagram lebih lama dari biasanya. Mereka lihat orang-orang posting bunga, posting cokelat, posting makan romantis bersama pacar, posting caption manis seperti madu. Mereka lihat semua itu sambil tertawa kecil, tapi ketawanya itu ketawa orang kuat. Ketawa yang kalau diterjemahkan artinya: “Tuhan… kapan giliran saya?”
Jomblo itu seperti sinyal Telkomsel di kampung-kampung. Kadang muncul, kadang hilang. Munculnya sebentar, hilangnya bisa berjam-jam. Sudah begitu, kalau muncul pun cuma satu bar, cukup untuk bikin kita berharap, tapi tidak cukup untuk bikin kita bahagia.
Dan jomblo juga seperti listrik PLN. Hidup-mati, hidup-mati. Tapi anehnya, matinya selalu lebih lama daripada hidupnya. Hidupnya cuma untuk bikin kita sempat senyum sebentar, lalu mati lagi untuk bikin kita sadar bahwa harapan itu kadang lebih menyakitkan daripada kenyataan.
Akibatnya? Perasaan cepat rusak. Hati cepat konslet. Emosi gampang drop. Sama seperti alat elektronik di rumah yang rusak bukan karena tua, tapi karena tiap hari disiksa mati-hidup. Televisi jadi cepat error, kulkas cepat panas, dan manusia… jadi cepat baper.
Begitulah jomblo. Bukan tidak ada cinta. Tapi cintanya selalu datang seperti listrik, tidak stabil. Namun di atas jomblo, ada satu status yang lebih menyedihkan, lebih mematikan, dan lebih sering membuat orang kehilangan akal sehat. HTS. Hubungan Tanpa Status. Ini hubungan yang rasanya seperti pacaran, tapi tidak pernah diakui sebagai pacaran. Mereka chatting tiap hari, telepon tiap malam, saling perhatian, saling cemburu, bahkan saling marah. Tapi kalau ditanya, “kita ini apa?” jawabannya selalu menggantung seperti jemuran yang tidak pernah kering. “Jalani saja dulu.”
Kalimat itu terdengar manis bagi yang mengucapkannya, tapi bagi yang mendengarnya, itu adalah kalimat paling sadis dalam sejarah percintaan. Karena artinya bukan “aku sayang kamu,” tapi artinya “aku tidak mau bertanggung jawab.”
Orang HTS itu hidup seperti orang duduk di halte, menunggu bus yang tidak pernah datang. Setiap hari mereka berharap, setiap hari mereka percaya, tapi setiap hari juga mereka dikhianati oleh kenyataan.
Dan Valentine adalah hari paling menyiksa bagi orang HTS. Mereka menunggu pesan romantis. Mereka menunggu ucapan “Happy Valentine.” Mereka menunggu cokelat. Mereka menunggu bunga. Mereka menunggu minimal satu emoji hati. Tapi yang datang sering hanya satu kata yang lebih dingin daripada angin di jam dua pagi. Chat dibaca. Tapi tidak dibalas. Dan di saat itu, mereka sadar, selama ini mereka bukan pasangan. Mereka hanya pengisi waktu.
Valentine juga hari kebangkitan mantan. Ini sudah seperti hukum alam. Mantan itu seperti hujan tiba-tiba. Datang tidak diundang, pergi tidak pamit, lalu meninggalkan becek di hati. Mantan yang sudah hilang berbulan-bulan bisa mendadak muncul menjelang Valentine dengan pesan klasik yang isinya sama di seluruh dunia, “Hai… apa kabar?”
Kalimat itu kelihatannya sederhana. Tapi bagi anak milenial yang hatinya belum sepenuhnya sembuh, kalimat itu seperti bom. Dan anehnya, banyak orang masih balas. Mereka berharap itu tanda cinta kembali. Mereka berharap itu tanda Tuhan menyatukan lagi. Mereka berharap itu awal baru.
Padahal sebenarnya itu cuma tanda mantan sedang bosan. Mantan tidak datang karena rindu, mantan datang karena dia tidak mau terlihat sendirian di Hari Valentine. Mantan itu tidak mencari cinta. Mantan mencari pelarian. Mantan itu seperti kopi yang sudah dingin, aromanya masih ada, tapi rasanya tidak lagi menyenangkan. Kalau dipaksakan diminum, yang ada cuma sakit perut dan penyesalan. Dan di tengah semua drama Valentine, kita mulai sadar satu hal, cinta itu sebenarnya tidak butuh tanggal. Cinta itu tidak butuh 14 Februari untuk hidup. Cinta tidak butuh cokelat untuk membuktikan dirinya. Cinta tidak butuh bunga mawar untuk menunjukkan ketulusan. Cinta itu butuh kehadiran.
Karena yang paling mudah di dunia ini adalah membeli hadiah sehari. Yang paling sulit adalah bertahan setiap hari. Yang paling mudah adalah bilang “I love you” di Valentine. Yang paling sulit adalah tetap setia ketika pasangan sedang tidak menyenangkan. Ketika dia lelah. Ketika dia marah. Ketika dia jatuh. Ketika hidup sedang kacau.
Semua orang bisa romantis saat suasana indah. Tapi tidak semua orang bisa bertahan saat hidup tidak romantis. Dan itulah makna Valentine yang sebenarnya. Valentine bukan tentang pamer hadiah. Valentine bukan tentang caption panjang. Valentine bukan tentang makan malam mewah. Valentine seharusnya tentang keberanian untuk mencintai secara benar.
Cinta yang benar bukan cinta yang hanya hadir ketika hidup terang seperti lampu kota. Tapi cinta yang tetap bertahan ketika hidup gelap seperti listrik padam. Karena cinta sejati itu tidak seperti PLN yang hidup-mati. Cinta sejati itu stabil. Ia tetap menyala bahkan ketika hujan deras dan angin kencang. Ia tetap menyala bahkan ketika jalan hidup rusak. Ia tetap menyala bahkan ketika hati sedang lelah.
Kalau hari ini kamu dapat cokelat, syukurlah. Tapi jangan lupa, cokelat manisnya cuma sebentar. Setelah itu habis, tinggal bungkusnya. Kalau hari ini kamu dapat bunga, syukurlah. Tapi bunga cepat layu. Setelah itu tinggal batangnya. Yang lebih penting adalah, apakah kamu dicintai dengan tulus? Apakah kamu dicintai dengan kesetiaan? Apakah kamu dicintai dengan perhatian yang nyata?
Karena cinta bukan soal apa yang dibeli. Cinta adalah apa yang dipertahankan. Dan kalau hari ini kamu masih jomblo, jangan merasa kalah. Jangan merasa hidupmu gagal. Jangan merasa kamu kurang cantik, kurang ganteng, kurang menarik. Kadang Tuhan sengaja membuatmu sendiri dulu supaya kamu tidak salah pilih. Karena salah pasangan itu lebih menyakitkan daripada tidak punya pasangan. Sendirian memang sunyi. Tapi salah cinta bisa menghancurkan hidup.
Jadi selamat Hari Valentine. Buat yang punya pasangan, semoga cintamu tidak hanya ramai di story, tapi juga hangat di kehidupan nyata. Buat yang masih HTS, semoga kamu diberi keberanian untuk berhenti jadi tempat singgah orang yang tidak punya tujuan. Dan buat yang jomblo, tetaplah kuat. Karena mungkin cinta yang benar sedang dalam perjalanan. Hanya saja jalannya rusak, sinyalnya hilang, dan listriknya mati.
Tapi kalau dia memang takdir, dia pasti sampai. Dan kalau malam ini kamu cuma ditemani kopi, rokok, dan playlist galau, tidak apa-apa bosqu. Kadang yang paling romantis bukan bunga mawar. Kadang yang paling romantis adalah hati yang tetap bertahan meskipun sudah berkali-kali patah. Karena cinta sejati itu bukan tentang hadiah. Cinta sejati itu tentang tetap tinggal dihati.
