Momen Langka di Nuamuri Keo Tengah Nagekeo: Dua Anggota DPRD Nagekeo dari Partai Berbeda Reses Bersama di Lokasi Pembangunan Gua Maria

Di sebuah sudut sederhana di Dusun III Mbari, Kampung Nuamuri, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, suasana Rabu siang, 11 Maret 2026, terasa berbeda dari biasanya. Di tengah lokasi pembangunan Gua Maria yang masih dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat, warga berkumpul dengan wajah penuh harap.
Tempat yang biasanya dipenuhi suara cangkul, batu, dan percakapan para pekerja, siang itu berubah menjadi ruang dialog antara rakyat dan wakil rakyat. Bukan satu, tetapi dua anggota DPRD Kabupaten Nagekeo hadir dalam satu kesempatan reses yang sama.
Mereka adalah Anton Sukadame Wangge dari Partai NasDem dan Mus Gore dari Partai Golkar. Dua politisi dari partai berbeda itu duduk berdampingan di tengah masyarakat, mendengar langsung berbagai harapan yang selama ini hidup di kampung kecil bernama Nuamuri.
Momen ini menjadi sesuatu yang jarang terjadi dalam praktik politik lokal. Biasanya, reses anggota DPRD dilakukan secara terpisah. Namun kali ini berbeda. Kedua wakil rakyat dari daerah pemilihan yang sama hadir bersama di satu tempat, atas undangan Panitia Pembangunan Gua Maria Dusun III Mbari. Panitia melihat kesempatan ini sebagai momentum yang sangat berharga.
Di tengah semangat masyarakat membangun tempat doa bagi umat Katolik di wilayah itu, mereka juga ingin menyampaikan berbagai persoalan kampung kepada para wakil rakyat, tentang jalan yang rusak, kebutuhan perumahan masyarakat, hingga harapan pembangunan di wilayah Keo Tengah.
Siang itu, di bawah tenda sederhana di lokasi pembangunan Gua Maria, pertemuan antara masyarakat dan dua wakil rakyat pun berlangsung hangat. Bukan sekadar pertemuan formal, tetapi sebuah ruang dialog yang mempertemukan harapan rakyat dengan tanggung jawab politik para wakilnya.
Bagi panitia pembangunan Gua Maria, kehadiran dua anggota DPRD dalam satu kesempatan reses merupakan momentum yang tidak boleh dilewatkan.
Selama beberapa bulan terakhir masyarakat Dusun III Mbari bergotong royong membangun Gua Maria sebagai tempat doa dan refleksi bagi umat Katolik di wilayah tersebut. Karena itu, ketika mengetahui bahwa dua anggota DPRD dari daerah pemilihan yang sama memiliki jadwal reses pada waktu yang hampir bersamaan, panitia segera mengambil inisiatif untuk mengundang keduanya datang ke lokasi pembangunan. Harapannya sederhana, agar pembangunan tempat doa tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada para wakil rakyat.
Acara reses dibuka oleh Kepala Dusun III Mbari, yang dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua anggota DPRD yang telah hadir di tengah masyarakat. Ia mengatakan bahwa masyarakat Dusun III Mbari merasa bangga karena bisa bertemu langsung dengan wakil rakyat mereka.
“Sebagai pemerintah dusun dan mewakili masyarakat Dusun III Mbari, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Anton Sukadame Wangge dan Bapak Mus Gore yang telah hadir di tempat ini untuk melakukan reses bersama masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran anggota DPRD di tengah masyarakat merupakan kesempatan penting untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi warga. Ia berharap pertemuan tersebut dapat membawa manfaat nyata bagi pembangunan di wilayah mereka.
Suasana pertemuan semakin hangat ketika tokoh masyarakat Dusun III Mbari, Kampung Nuamuri, Yacob Susu, menyampaikan sambutannya. Dengan penuh semangat, ia mengungkapkan rasa gembira masyarakat atas kehadiran dua wakil rakyat tersebut.
“Hari ini kami masyarakat Dusun III di Kampung Nuamuri merasa sangat gembira. Kebersamaan kami selama beberapa bulan terakhir selalu ada di tempat ini karena kami bekerja bersama membangun Gua Maria,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa hari itu merupakan momen istimewa bagi masyarakat.
“Hari ini kita tidak berada di kampung seperti biasanya. Kita berkumpul di tempat pembangunan Gua Maria. Dan hari ini kita juga dihadiri oleh para mosadaki atau mosa nua daki oda,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran para tokoh adat menunjukkan bahwa masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan yang sedang dilakukan. Ia kemudian menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua anggota DPRD.
“Kami masyarakat Nuamuri mengucapkan terima kasih banyak atas kehadiran Bapak Anton Wangge dan Bapak Mus Gore di tempat ini,” katanya.
Dalam sambutannya, Anton Sukadame Wangge menegaskan bahwa kegiatan reses merupakan kewajiban setiap anggota DPRD untuk mengunjungi konstituennya dan mendengar langsung aspirasi masyarakat.
“Setiap anggota DPRD wajib mengunjungi konstituennya. Itu adalah perintah undang-undang. Karena itu kami datang ke sini untuk mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Anton juga menjelaskan kondisi keuangan daerah Kabupaten Nagekeo yang saat ini mengalami tekanan akibat pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat.
“Awalnya anggaran daerah kita sekitar 800 miliar rupiah. Tetapi sekarang tinggal sekitar 600 miliar lebih. Artinya ada pemotongan sekitar 200 miliar rupiah lebih dari pusat,” jelasnya.
Pemangkasan anggaran tersebut tentu berdampak terhadap berbagai program pembangunan di daerah. Meski demikian, Anton menegaskan bahwa DPRD tetap berupaya memperjuangkan berbagai kebutuhan masyarakat melalui mekanisme anggaran yang ada.
Sementara itu, anggota DPRD dari Partai Golkar, Mus Gore, menegaskan bahwa meskipun berasal dari partai yang berbeda, dirinya dan Anton Sukadame Wangge tetap bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat.
“Saya dengan Pak Anton satu fraksi di DPRD. Beliau di Komisi II, saya di Komisi III. Kami memang dari partai yang berbeda, tetapi kami satu daerah pemilihan,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa beberapa program pembangunan jalan telah dialokasikan untuk wilayah Keo Tengah.
“Untuk wilayah Keo Tengah ada alokasi pembangunan jalan Raja Maunori sekitar tiga miliar lebih, dan Keliwatuwea sekitar 800 juta rupiah,” ujarnya.
Namun ia mengakui bahwa kondisi infrastruktur jalan di wilayah Keo Tengah masih menjadi tantangan besar.
“Kita akui bahwa kondisi jalan di wilayah Keo Tengah memang masih sangat sulit. Ini menjadi perhatian kita bersama,” katanya.
Mus Gore juga menjelaskan bahwa kehadirannya di lokasi pembangunan Gua Maria bermula dari proposal masyarakat yang masuk ke DPRD.
“Kami datang hari ini karena ada proposal yang masuk terkait pembangunan taman doa dan Gua Maria di tempat ini. Karena itu kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan,” jelasnya.
Dalam sesi dialog, tokoh masyarakat Alex Jona menyampaikan beberapa aspirasi masyarakat kepada kedua anggota DPRD.
Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan terhadap pembangunan Gua Maria yang sedang dikerjakan oleh masyarakat.
Namun selain pembangunan tempat doa tersebut, masyarakat juga berharap ada perhatian terhadap persoalan lain yang mereka hadapi. Salah satu yang menjadi perhatian warga adalah kebutuhan perumahan masyarakat.
“Untuk perumahan masyarakat di wilayah kami masih sangat jarang. Kami berharap kalau bisa ada perhatian dari pemerintah,” ujarnya.
Selain itu ia juga menyoroti kondisi jalan yang dinilai rawan di wilayah Maunori menuju Ende lebih, khusus di daerah Maundai.
“Untuk infrastruktur jalan kami merasa belum nyaman. Jalan Maunori menuju Ende cukup rawan di wilayah Maundai. Kalau bisa diperhatikan juga jalan alternatif dari Nuamuri menuju Maundai,” katanya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Anton Sukadame Wangge menjelaskan bahwa program bantuan perumahan bagi masyarakat harus melalui mekanisme tertentu yang ditetapkan pemerintah.
“Untuk bantuan perumahan, usulannya harus dari pemerintah desa. Pemerintah desa harus melihat kembali data desil masyarakat,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa bantuan perumahan saat ini menggunakan klasifikasi desil kesejahteraan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Kalau masyarakat berada di desil lima ke atas biasanya tidak bisa mendapat bantuan. Tetapi kalau desil empat ke bawah masih bisa dibantu,” ujarnya.
Anton juga menjelaskan bahwa anggota DPRD dapat mengusulkan program tersebut melalui pokok pikiran DPRD (pokir), namun tetap harus mengacu pada data resmi pemerintah.
Terkait kondisi jalan rawan di wilayah Maundai, Anton mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya sudah mengetahui persoalan tersebut.
“Beberapa tahun lalu di wilayah itu terjadi musibah. Tim sudah turun dan ada rencana pembangunan penahan abrasi sekitar 400 meter,” jelasnya.
Namun hingga saat ini rencana tersebut belum terealisasi. Ia menegaskan bahwa kewenangan pembangunan jalan tersebut berada pada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Kami di DPRD Kabupaten tetap akan menyampaikan persoalan ini. Tetapi kewenangan jalan tersebut ada di pemerintah provinsi,” katanya.
Reses yang berlangsung di lokasi pembangunan Gua Maria itu akhirnya menjadi ruang dialog yang terbuka antara masyarakat dan wakil rakyat. Di tempat sederhana yang dibangun dengan semangat gotong royong itu, berbagai persoalan kampung disampaikan secara langsung.
Bagi masyarakat Nuamuri, kehadiran dua anggota DPRD dari partai berbeda dalam satu forum reses menjadi simbol bahwa pembangunan daerah membutuhkan kerja sama. Bukan sekadar perbedaan politik. Tetapi kebersamaan untuk mendengar suara rakyat.
Dan sore itu, di tengah batu-batu pembangunan Gua Maria yang masih tersusun, masyarakat Nuamuri menyampaikan harapan mereka, bahwa suara yang disampaikan di tempat sederhana itu benar-benar sampai ke meja pengambil keputusan. Bukan sekadar menjadi catatan reses. Tetapi menjadi jalan bagi perubahan yang nyata. (AL/Irminus Deni)
