Jendela Windos: Klik Diri Sendiri, Tutup Orang Lain
(Rubrik Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong! oleh Irminus Deni)
Di dunia komunikasi, ada satu teori klasik yang tetap relevan meski zaman sudah masuk fase AI, 5G, dan filter TikTok yang makin absurd. Namanya Johari Window, diperkenalkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham, lalu dipopulerkan dan dijelaskan dengan sangat detail oleh Prof. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi. Tapi karena kita orang Indonesia, dan kadang susah lidah menyebut “Johari”, mari kita sebut saja Teori Jendela Windos, biar lebih lokal, lebih Windows 98 vibes.
Empat Jendela, Empat Cara Melihat Diri dan Orang Lain
Prof. Jalal menjelaskan bahwa teori ini menggambarkan empat bidang kesadaran manusia dalam berkomunikasi, yaitu:
-
Area Terbuka (Open Area)
Semua orang tau dan kita juga sadar. Contohnya, kita pintar bikin kopi, dan teman-teman juga tahu karena kita tiap hari jadi barista warung. -
Area Buta (Blind Area)
Orang lain tau tentang kita, tapi kita sendiri tidak sadar. Contohnya, kita kentut diam-diam, tapi ternyata baunya nyebar ke 3 RT. -
Area Tersembunyi (Hidden Area)
Kita tau, tapi orang lain tidak tau. Contoh, kita punya akun fake Instagram buat stalking mantan, tapi tetap jaga citra alim di akun utama. -
Area Tak Dikenal (Unknown Area)
Kita sendiri tidak tau, orang lain juga tidak tau. Contoh, ternyata kita jago main harmonika, tapi belum pernah nyoba karena trauma waktu kecil dibilang nadanya sumbang.
Masalahnya, Muncul Spesies Baru Bernama “Si Paling Tau Segalanya”
Nah, teori Johari ini keren banget buat memahami komunikasi yang sehat. Tapi di kehidupan nyata, terutama di grup WA keluarga, rapat RT, atau kolom komentar YouTube, kita sering menjumpai satu jenis manusia unik, Spesies Si Paling Tahu Segalanya.
Ini manusia yang, entah bagaimana, merasa hidupnya adalah Google yang dikasih kaki. Mau bahas cuaca, politik, pertanian, sampai soal kapan sebaiknya tanam bawang dia tau semua. Bahkan kalau kita ngomong tentang perasaan, dia akan jawab,
“Ah, saya udah pernah merasakan yang lebih dalam dari itu. Bahkan lebih pahit dari kopi Aceh.” Padahal kita cuma curhat soal diputusin pas Valentine.
Jendela Dia? Hanya Satu: Jendela Ego.
Kalau menurut Prof. Jalal, komunikasi yang sehat itu harus membuka lebih banyak Area Terbuka, artinya kita belajar saling mengenal, saling menerima masukan, dan membuka ruang transparansi.
Tapi si paling ini? Dia gak mau Area Buta-nya disentuh. Gak ada yang boleh kasih masukan. Kalau dikritik, dia langsung defensif:
“Saya kan cuma menyampaikan kebenaran. Kalau gak siap dengar, ya jangan ajak diskusi.” Padahal orang cuma tanya harga bensin sekarang berapa.
Si paling juga tidak mau punya Area Tersembunyi. Semua harus tau bahwa dia pernah ini-itu, sudah ke sana-kemari, kenal orang ini, dekat dengan tokoh itu. Kalau bisa, semua pencapaian hidupnya dicetak jadi pamflet dan dibagikan ke tetangga satu kampung.
Ciri Khas Spesies Ini:
-
Selalu ingin jadi pusat pembicaraan.
Kita cerita sedikit, dia cerita lebih panjang. Kita punya satu pengalaman, dia punya seribu versi.
Mau nyanyi karaoke pun, dia duluan ambil mic dan nyanyi 4 lagu nonstop. -
Tidak bisa melihat orang lain bersinar.
Kalau kita posting prestasi kecil di medsos, dia langsung DM, “Bagus, tapi kamu harus tau, saya dulu waktu umur segitu udah menang lomba tingkat provinsi.” -
Kalau dikoreksi, langsung ngeles pakai embel-embel pengalaman.
Misalnya: “Saya udah ngalamin ini semua sejak zaman dulu, kamu belum lahir!” -
Sumber informasi utama: pengalamannya sendiri.
Tidak peduli jurnal, data, atau riset semua dia ukur dari “Saya pernah mengalami, jadi pasti benar.”
Bahaya Kalau Kita Biarkan
Bayangkan dunia dipenuhi orang seperti ini. Rapat gak pernah selesai karena satu orang terus ngomong.
Diskusi ilmiah berubah jadi cerita nostalgia masa lalu. Anak-anak muda malas berpendapat karena takut “dibantai” oleh senior yang merasa paling suci sejak zaman Orde Lama. Kalau tidak hati-hati, orang seperti ini bisa membunuh atmosfer komunikasi terbuka. Karena begitu satu orang terlalu dominan dan merasa tahu segalanya, yang lain jadi enggan berbagi pengalaman terabiknya.
Lalu, Solusinya?
-
Sadari bahwa tak semua harus kita komentari.
Kadang lebih mulia jadi pendengar yang baik, daripada pembicara yang keras. -
Perbesar Area Terbuka, perkecil Area Buta.
Terima kritik, dengarkan masukan. Kata Prof. Jalal, komunikasi yang baik harus menumbuhkan kesadaran diri, bukan memupuk ego. -
Biarkan orang lain juga bersinar.
Dunia ini luas. Kalau orang lain hebat, bukan berarti kita gagal. Bukan lomba rebut mic! -
Dan yang paling penting, jangan jadi “Si Paling.”
Karena makin kita merasa tau segalanya, sebenarnya kita sedang menutup jendela-jendela belajar kita sendiri.
Senggol Dong, Tapi dengan Empati
Kalau kamu merasa kenal orang kayak gini, kasih artikel ini pelan-pelan. Kalau kamu merasa ini tentang dirimu sendiri, jangan panik. Justru kamu sedang berada di Area Terbuka baru sadar, dan mau berubah. Karena sesungguhnya, Jendela paling indah bukan yang dibuka untuk memamerkan diri, tapi untuk menyambut cahaya orang lain.
Ditulis sambil ngopi dan ngaca oleh:
Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Rubrik “Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong!”
