Suara Hati Orang Muda Katolik di Mbay Youth Day 2025: Kesan, Pesan, dan Harapan dari Maunori

Maunori, Atalomba.com – Riuh sukacita bercampur doa menyelimuti Paroki Hati Kudus Yesus Maunori ketika ribuan Orang Muda Katolik (OMK) dari seluruh paroki se-Kevikepan Mbay berkumpul dalam perhelatan akbar Mbay Youth Day (MYD) 2025. Agenda besar tiga tahunan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan momentum iman yang merangkul orang muda dalam satu keluarga besar Gereja.
Dengan tema “Orang Muda Peziarah Pengharapan”, MYD 2025 mengingatkan bahwa OMK adalah jantung Gereja sekaligus motor penggerak harapan. Namun yang membuat peristiwa ini hidup bukan hanya misa akbar, melainkan kesan dan pesan para peserta sendiri. Dari mulut dan hati mereka, tersimpan pengalaman yang menggambarkan arti sejati Mbay Youth Day 2025.

Maria Jelita Wonga: Rohani Jangan Hanya Jadi Identitas
Maria Jelita Wonga, OMK Paroki St. Mikael Mundemi yang mewakili Stasi Mabhambawa, menyampaikan refleksi yang dalam. Alumni Politeknik Negeri Kupang ini menyoroti tantangan orang muda di tengah derasnya arus perkembangan zaman.
“Perkembangan zaman menjadi tantangan iman dan Gereja. Teknologi maju, ekonomi semakin mendominasi hidup, tetapi rohani sering kali hanya menjadi identitas. Dipakai sebagai label, namun minim dalam praktek nyata,” kata Jelita kepada Atalomba.com.
Ia menegaskan bahwa MYD menjadi ruang bagi OMK untuk berbenah diri. Jasmani penting sebagai penopang hidup, tetapi rohani adalah pusat dari perjalanan iman. Keseimbangan keduanya, menurutnya, harus diperjuangkan.
“MYD adalah wadah bagi kami untuk kritis menyikapi perkembangan zaman. Di sini kami belajar menjalin kasih persaudaraan satu sama lain. MYD mengingatkan kami bahwa sebagai peziarah pengharapan, OMK dipanggil menjadi motor penggerak umat Katolik menuju keselamatan. Dan sebagai jantung Gereja, OMK harus berani tampil dan menjalankan tugasnya,” lanjut Jelita.
Baginya, MYD bukan sekadar euforia, melainkan jalan menemukan jati diri. “Kegiatan ini meneguhkan kami agar tetap Katolik dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. MYD adalah kesempatan untuk berlatih menjadi panutan, bukan hanya untuk sesama OMK, tetapi juga untuk semua umat.”

Yohanes Meze: Keramahan yang Tak Tergantikan
Sementara itu, Yohanes Meze, perwakilan OMK dari Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, mengaku terkesan dengan penyambutan umat Maunori.
“Yang paling luar biasa adalah keramahan umat. Dari cara mereka menyambut, menyiapkan penginapan, hingga menyediakan makanan, semuanya dilakukan dengan sukacita. Bahkan toleransi antaragama di sini terasa begitu akrab. Itu menjadi pemandangan sosial yang sangat spesial di zaman sekarang,” ujar Yohanes kepada Atalomba.com.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung pesona alam Maunori. Pantai yang sejuk, tumbuhan hijau, dan suasana tenang menjadi pengalaman berbeda bagi OMK yang datang dari kota. “Di sini, kami belajar banyak. Bukan hanya dari kegiatan resmi, tapi juga dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang sederhana, tulus, dan penuh kasih,” jelasnya.
Pesan Yohanes sederhana namun kuat, semakin banyak orang muda harus ikut terlibat di MYD. “Karena MYD bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Di sini kita bertemu sesama Katolik, kita juga berjumpa dengan umat dan belajar tentang kehidupan mereka di pelosok. Itu memperluas hati dan memperkaya iman kami,” katanya.

Verdiana Wula Dhema: Pengalaman Spiritual Berharga
Bagi Verdiana Wula Dhema, OMK dari Paroki St. Yosef Raja, MYD 2025 adalah pengalaman spiritual yang tak ternilai.
“Mengikuti kegiatan MYD tahun 2025 merupakan pengalaman berharga, menyenangkan sekaligus penuh makna. Di sini orang muda Katolik dari seluruh paroki bertemu, dengan latar belakang berbeda, tapi dengan semangat yang sama, belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama,” ujarnya.
Menurutnya, tema Orang Muda Peziarah Pengharapan bukan sekadar slogan, tetapi ajakan nyata agar OMK lebih peduli pada lingkungan sekitar, terutama di Kevikepan Mbay. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan ini.
“Kami berterima kasih kepada Romo Vikep Mbay RD. Asterius Lado, Romo Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Mbay RD. RD Yanto Songka, panitia SC, OC, umat Maunori dan semua yang terlibat. MYD 2025 berlangsung meriah, megah, dan penuh makna. Itu semua buah dari kerja keras dan doa,” tambahnya.
Namun Verdiana juga menitipkan pesan, MYD jangan berhenti di sini.
“Kegiatan ini harus dilanjutkan secara konsisten. Karena MYD bukan hanya tentang euforia sesaat, tetapi wadah untuk menumbuhkan semangat kepemudaan, aksi nyata, dan keterlibatan orang muda bagi Gereja dan masyarakat. Selain MYD, akan baik bila ada agenda tahunan lain yang mempertemukan OMK se-Kevikepan Mbay, sehingga rasa persaudaraan yang sudah terbentuk bisa semakin kuat,” tegasnya.

Marissa Siara Wea: Kesuksesan karena Dukungan Umat
Marissa Siara Wea, dari Paroki St. Hubertus Wakaseko, mengungkapkan bahwa keberhasilan MYD 2025 tak lepas dari peran serta umat.
“Kami disambut dengan hangat dan penuh sukacita. Dewan pastoral, ketua lingkungan, pengurus KUB, semua umat bergotong-royong. Mereka menyiapkan penginapan, mengumpulkan dana untuk konsumsi, bahkan anak-anak pun ikut ambil bagian,” katanya.
Ia memuji bagaimana malam penutupan menjadi puncak emosional. Ribuan lilin menyala, lagu doa menggema. “Saat itu saya sadar, MYD bukan hanya acara, tapi sebuah peristiwa iman yang akan membekas selamanya,” ucapnya dengan penuh haru.
Menurut Marissa, MYD berhasil karena dukungan total umat Maunori. “Dari penjemputan, masak-memasak, hingga acara besar, semuanya dikerjakan bersama. Itu bukti nyata semangat gotong-royong umat yang luar biasa,” tambahnya.

MYD 2025: Lebih dari Sekadar Acara
Dari keempat suara ini, Jelita, Yohanes, Verdiana, dan Marissa, jelas bahwa MYD bukan sekadar agenda rutin tiga tahunan. Ia adalah ruang ziarah iman yang mempertemukan orang muda, menyatukan perbedaan, dan menyalakan harapan.
Kesan yang muncul bukan hanya soal kemeriahan, tetapi pengalaman personal yang mendalam, belajar menjaga keseimbangan iman, merasakan keramahan umat, memperoleh pengalaman spiritual berharga, hingga menyadari betapa pentingnya dukungan bersama.
MYD 2025 di Paroki Hati Kudus Yesus Maunori menegaskan bahwa orang muda Katolik tidak hanya datang untuk bersukacita, tetapi untuk berziarah, belajar, dan membawa pulang semangat baru.
Suara yang Menjadi Arah
Ketika ribuan lilin dipadamkan dan ribuan OMK kembali ke paroki masing-masing, kesan dan pesan itulah yang tetap hidup. Kata-kata Jelita, Yohanes, Verdiana, dan Marissa bukan sekadar testimoni, tetapi kompas yang menuntun OMK dalam perjalanan iman.
Mbay Youth Day 2025 akan dikenang sebagai momentum di mana orang muda Katolik menyadari panggilan mereka, menjadi peziarah pengharapan, menjadi jantung Gereja, dan menjadi teladan bagi dunia.
Dan dari Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, suara hati itu bergema ke seluruh Kevikepan Mbay. OMK bukan sekadar pewaris tradisi, tetapi penulis sejarah baru Gereja yang penuh iman, cinta, dan pengharapan. (AL/Irminus Deni)
