Restu dan Mandat Sudah Diberikan, Kini Saatnya Bupati Nagekeo Membuktikan Janjinya

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Musim cengkeh telah datang, sekali lagi. Pohon-pohon tua di perbukitan Mauponggo hingga Keo Tengah mulai menghitamkan pucuknya. Aroma khas dari kuntum cengkeh yang mengering di para-para bambu mulai menyusup ke kampung-kampung. Seperti musim-musim sebelumnya, petani kembali bersiap. Tapi kali ini, ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar harapan akan hasil panen, yakni ingatan.
Ingatan masyarakat Nagekeo belum pudar. Masih segar dalam benak mereka, janji dari seorang calon bupati yang tampil berapi-api di mimbar kampanye: “Kalau saya dipercaya memimpin Nagekeo, saya akan datangkan alat panen cengkeh ke kampung-kampung!” Kata-kata itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir di tengah penderitaan petani yang selama puluhan tahun memanen cengkeh dengan cara yang sama, galah bambu sepanjang delapan hingga sepuluh meter, dan seutas tali pengikat seadanya. Ini bukan saj alat panen, tapi simbol ketertinggalan.
Hari ini, janji itu menunggu ditepati. Masyarakat Nagekeo sudah memberi restu. Mereka sudah memilih. Sudah menyerahkan mandat kekuasaan kepada sang pemimpin yang sekarang duduk di kursi bupati. Maka, tidak ada alasan lagi untuk menunda. Tidak ada lagi dalih bahwa ini bukan prioritas. Karena bagi rakyat kecil di lereng-lereng gunung, panen cengkeh adalah kehidupan. Adalah kebanggaan. Dan adalah harga diri.
Kami tidak meminta mukjizat teknologi. Kami tidak membayangkan pesawat drone memetik cengkeh. Kami hanya ingin melihat alat panen yang dijanjikan. Seperti apa bentuknya? Seberapa efektifkah ia? Bagaimana cara kerjanya? Kami jujur, seumur hidup kami, kami belum pernah melihat alat panen cengkeh yang layak. Kami hanya tahu bambu panjang yang bersandar di pagar, di emper rumah, atau di bawah pohon. Itulah yang digunakan ayah kami, kakek kami, dan kini anak-anak kami untuk bertahan hidup.
Kalau kita melewati jalan arah Mauponggo hingga Keo Tengah di musim panen seperti ini, siapapun bisa menyaksikan deretan bambu-bambu panjang di pinggir jalan. Seakan-akan itu monumen bisu dari sebuah janji yang belum ditepati. Bambu yang tidak pernah berbohong. Ia hadir di tiap musim, tanpa perlu program, tanpa anggaran, tanpa seremoni. Tapi kita sudah terlalu lama mengandalkan keajaiban bambu dan tali. Kita butuh lompatan. Kita butuh kepemimpinan yang bukan hanya pandai bicara, tapi juga berani kerja nyata.
Sebagai media rakyat, Atalomba.com ingin mengingatkan bahwa politik bukan sekadar seni memenangi suara, tetapi juga seni memenuhi harapan. Janji alat panen cengkeh bukan soal kecil. Ia menyangkut martabat petani, efisiensi kerja, dan keselamatan jiwa. Terlalu banyak petani kita yang harus memanjat pohon tinggi tanpa pengaman, terlalu banyak anak muda yang enggan turun ke kebun karena alat dan cara panen yang tak berubah sejak zaman kolonial.
Apakah janji itu hanya manuver politik? Atau sungguh-sungguh niat mulia untuk membangun pertanian kita? Kita semua kini menanti jawabannya. Dan jawabannya hanya bisa datang dalam bentuk nyata, dalam wujud alat panen yang bisa disentuh, digunakan, dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Sudah terlalu lama petani kita hidup dalam bayang-bayang harapan kosong. Kini mereka menagih. Bupati telah diberi mandat. Maka, penuhi janji. Jangan menunggu tahun politik berikutnya untuk kembali menyuarakannya. Jangan tunggu masyarakat marah dan kecewa. Jadikan janji itu kenyataan. Kirim alat panen ke desa-desa. Adakan pelatihan. Libatkan pemuda desa. Buktikan bahwa janji politik bukan hanya alat pancing suara, tapi komitmen tulus dari pemimpin kepada rakyatnya.
Ini bukan tentang mencatat sejarah, ini tentang memperbaiki masa depan. Ini bukan tentang mencetak berita, ini tentang menepati kata-kata. Dan ini bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang siapa yang bertanggung jawab.
Musim cengkeh tak menunggu. Petani kita pun tak bisa menunggu selamanya. Kini saatnya, Bapak Bupati. Kami ingin melihat, menyentuh, dan menggunakan alat panen cengkeh itu. Bukan esok, bukan lusa. Tapi sekarang.
Redaksi Atalomba.com siap mengawal, memantau, dan menyuarakan suara petani. Karena bagi kami, suara rakyat bukan hanya berita. Ia adalah tanggung jawab.
