“Pertanian untuk Kehidupan, Bukan Tambang untuk Kehancuran”
Masyarakat Flores menolak proyek geotermal demi masa depan lingkungan yang lestari

Tanah ini bukan tanah biasa. Ini adalah tanah tempat kami dilahirkan, tempat kami dibesarkan, tempat di mana doa-doa leluhur kami berakar dalam setiap jengkalnya. Tanah ini telah menghidupi kami selama berabad-abad, memberi kami padi, umbi, sayur-mayur, dan buah-buahan. Dari tanah ini, kami belajar makna syukur, belajar menghormati kehidupan, dan belajar berbagi.
Namun kini, ada yang ingin merenggut tanah kami. Mereka datang membawa peta, alat berat, dan janji-janji pembangunan. Mereka berkata bahwa di bawah tanah kami tersembunyi kekayaan panas bumi — energi geotermal — yang bisa menghidupi dunia. Mereka berkata bahwa proyek ini akan membawa “kemajuan”. Tetapi kami bertanya: kemajuan untuk siapa? Kehidupan seperti apa yang mereka maksud?
Kami tahu tanah kami. Kami merasakan nafasnya. Kami membaca tanda-tandanya. Tanah ini bukan tanah mati. Ia hidup. Ia subur. Ia diciptakan untuk pertanian, bukan untuk ditusuk, digali, diporakporandakan oleh proyek-proyek besar.
Hari ini, proyek geotermal itu telah mengincar Pulau Flores. Mereka ingin menjadikan Flores sebagai pulau energi, pulau tambang panas bumi. Tapi kami ingin mengatakan dengan lantang: Pulau Flores bukan tempat untuk proyek geotermal.
Flores adalah tanah pertanian. Flores adalah tanah kehidupan. Lembah-lembahnya yang hijau, sawah-sawah yang membentang, ladang-ladang jagung dan kopi — semua itu adalah denyut nadi kehidupan rakyat Flores. Mengubah Flores menjadi lahan eksploitasi energi berarti memutuskan urat nadi itu.
Tanah Flores tidak cocok untuk pertambangan. Tanah Flores hanya cocok untuk pertanian, untuk pangan, untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Apa arti semua itu kalau pada akhirnya kami kehilangan sumber pangan kami? Bagaimana kami akan bertahan tanpa tanah ini? Kami bukan melawan perubahan. Kami bukan menolak kemajuan. Tapi kami menolak kemajuan yang menghancurkan rumah dan tanah kami. Kami menolak pembangunan yang mengorbankan kehidupan kami. Kami menolak kebijakan yang lebih mendengarkan suara investor daripada jeritan rakyat kecil.
Apa artinya listrik menyala di kota-kota besar, jika kami di desa ini kehilangan sawah-sawah kami?
Apa gunanya membanggakan energi terbarukan, jika cara mendapatkannya justru mengorbankan lahan pangan dan kelangsungan budaya kami?
Pembangunan seharusnya memperkuat kehidupan, bukan memutus urat nadinya. Kami, para petani, tidak butuh janji-janji kosong. Kami butuh tanah kami tetap utuh — untuk ditanami, untuk diwariskan kepada anak-anak kami, untuk terus menjadi sumber kehidupan yang lestari, yang lebih baik, bagi negerasi kami yang akan datang.
Tanah kami adalah ibu kami. Menusuk tanah kami berarti menusuk hati kami. Menggali tanah kami untuk panas bumi berarti membakar akar kehidupan kami. Kami tidak melarang negara mencari energi bersih. Tapi carilah di tempat lain, bukan di tanah yang telah berabad-abad menjadi tulang punggung pertanian yang telah menghidupkan kami. Biarkan Pulau Flores tetap hijau. Biarkan pohon-pohonnya tetap berdiri kokoh. Biarkan sungai-sungainya tetap mengalir jernih untuk sawah-sawah kami.
Di dunia yang kini terancam krisis pangan, justru tanah-tanah pertanian seperti inilah yang seharusnya dilindungi mati-matian. Ironis, ketika dunia mencari energi untuk masa depan, kita justru menghancurkan sumber pangan yang lebih fundamental untuk kelangsungan hidup manusia.
Apakah mereka yang mengambil keputusan pernah duduk di bawah terik matahari menanam padi?
Apakah mereka pernah merasakan kekhawatiran seorang ibu petani saat musim panen, gagal karena tanah retak dan air mengering? Apakah mereka tahu rasa takut kami, membayangkan masa depan di mana anak-anak kami hanya mengenal sawah dari cerita?
Kami bukan sekadar mempertahankan tanah. Kami mempertahankan kehidupan. Kami mempertahankan cara hidup yang selaras dengan alam. Kami mempertahankan hak kami sebagai manusia untuk menghidupi diri sendiri dari tanah kami.
Untuk itu, dengan suara yang bulat, kami katakan: Tanah kami untuk pertanian, bukan untuk proyek geotermal. Flores untuk kehidupan, bukan untuk pertambangan. Kami akan berdiri. Kami akan bertahan. Karena tidak ada proyek, seberapa besar pun nilainya, yang layak menggantikan kehidupan kami. Dan kami percaya: tanah yang ditanami dengan cinta akan selalu lebih kuat daripada tanah yang dibeli dengan uang. *Penulis Adalah Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay
