“Bertahan atau Tersingkir” Ujian Nyata Kaderisasi PMKRI Cabang Ende

Oleh: Irminus Deni – Pemred Atalomba.com
Ada satu kesalahan yang terus berulang dari generasi ke generasi, keinginan untuk menjadi besar tanpa kesiapan untuk diproses. Kita ingin disebut kader, tetapi alergi terhadap pembentukan. Kita ingin diakui, tetapi menolak ditempa. Dan dalam konteks itulah, Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) PMKRI Cabang Ende Santo Yohanes Don Bosco menjadi cermin yang jujur, bahkan mungkin terlalu jujur, tentang wajah kaderisasi kita hari ini.
MPAB yang berlangsung 18–22 Maret 2026 di kompleks Paroki Sato Petrus Martir Ndora itu telah selesai. Tetapi yang selesai hanyalah kegiatannya. Pergulatan di dalamnya justru baru membuka banyak pertanyaan yang lebih dalam, tentang mentalitas, tentang ekspektasi, dan tentang sejauh mana organisasi ini masih dipahami sebagai ruang perjuangan, bukan sekadar ruang singgah.
Dari 55 peserta yang hadir di hari pertama, lima orang memilih mundur. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal. Sinyal bahwa ada jurang antara harapan dan kenyataan. Sinyal bahwa sebagian generasi hari ini datang dengan imajinasi yang keliru tentang organisasi.
Mereka mengira proses kaderisasi adalah jalan cepat menuju status. Datang, duduk, dengar materi, lalu dilantik dan Selesai. Tidak ada tekanan. Tidak ada benturan. Tidak ada kegelisahan. Sebuah ilusi yang nyaman, dan justru karena itu, menyesatkan.

Ketika realitas berbicara lain, ketika proses menuntut lebih dari sekadar kehadiran fisik, ketika pikiran dipaksa bekerja dan mental diuji, sebagian memilih mundur. Ada yang kecewa. Ada yang kesal. Ada yang marah. Tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak siap. Dan organisasi tidak pernah dibangun oleh mereka yang tidak siap.
Namun di tengah cerita tentang mereka yang pergi, ada ironi yang justru memberi harapan. Satu orang yang sempat pulang, memilih kembali pada hari berikutnya. Sebuah tindakan sederhana, tetapi dalam konteks ini, itu adalah bentuk perlawanan terhadap mentalitas instan. Ia jatuh, tetapi tidak memilih untuk tinggal dalam kejatuhan itu.
Di sisi lain, ada peserta yang datang dengan kondisi fisik cedera, berjalan pincang, namun tetap bertahan hingga akhir. Ia tidak banyak bicara, tetapi sikapnya lebih lantang dari seribu retorika, bahwa komitmen tidak ditentukan oleh kenyamanan, tetapi oleh pilihan untuk tetap tinggal dalam proses, seberat apa pun itu. Di titik ini, kita dipaksa untuk bertanya, siapa sebenarnya yang layak disebut kader?
Apakah mereka yang datang dengan semangat di awal, tetapi pulang ketika realitas tidak sesuai harapan? Ataukah mereka yang bertahan, bahkan ketika tubuhnya sendiri tidak sepenuhnya mendukung? Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban panjang. Realitas sudah menjawabnya.
Namun editorial ini tidak berhenti pada peserta. Justru bagian yang sering diabaikan adalah dinamika di dalam tubuh penyelenggara itu sendiri. DPC, SC, dan OC bukanlah entitas yang steril dari konflik. Dalam proses persiapan dan pelaksanaan MPAB, gesekan terjadi. Perbedaan pandangan muncul. Kekecewaan, kekesalan, bahkan kemarahan sempat menjadi bagian dari perjalanan itu. Dan itu normal.
Yang tidak normal adalah ketika organisasi berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ketika konflik ditutupi, bukan diselesaikan. Ketika perbedaan dianggap ancaman, bukan kekuatan.
Yang patut dicatat dari MPAB ini adalah dinamika itu tidak menghancurkan. Ia justru memperlihatkan bahwa organisasi ini masih hidup. Bahwa masih ada ruang untuk berdebat, untuk berbeda, untuk bertumbuh.
Pada akhirnya, semua kembali pada satu kesadaran yang sama, bahwa inilah dinamika organisasi yang sesungguhnya. Tidak rapi. Tidak selalu nyaman. Tetapi justru di situlah proses pembentukan terjadi.
Penutupan MPAB melalui perayaan Ekaristi di Paroki Santo Petrus Martir Ndora yang dipimpin oleh Pastor Moderator PMKRI Cabang Ende RD. Servasius Sai bukan sekadar seremoni penutup. Ia adalah momen refleksi. Momen di mana semua pihak, peserta maupun penyelenggara, dipanggil untuk melihat kembali apa yang telah terjadi, bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami.

Bahwa menjadi bagian dari PMKRI tidak pernah tentang kemudahan. Bahwa menjadi kader tidak pernah tentang status. Dan bahwa proses tidak pernah diciptakan untuk menyenangkan semua orang.
Jika ada yang pulang karena tidak tahan, itu adalah konsekuensi. Jika ada yang bertahan dalam keterbatasan, itu adalah kualitas. Organisasi tidak membutuhkan banyak orang. Organisasi membutuhkan orang yang tepat.
MPAB ini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, telah menunjukkan satu hal penting, bahwa proses kaderisasi masih berjalan. Mungkin belum sempurna, tetapi masih hidup. Dan selama masih ada mereka yang bertahan, yang kembali, dan yang memilih untuk tidak menyerah, harapan itu tetap ada.
Maka kepada mereka yang hari ini berdiri sebagai cabung (Calon Bung) dan cabing (Calon Bing, Panggilan persaudaraan di PMKRI Cabang Ende), satu pesan harus ditegaskan sejak awal, jangan datang ke organisasi ini jika hanya mencari kenyamanan. Jangan bertahan jika tidak siap untuk diproses. Dan jangan berharap menjadi besar jika tidak berani melewati jalan yang tidak mudah.
Karena PMKRI bukan tempat untuk sekadar hadir. Ia adalah rumah perjuangan. Dan perjuangan, seperti yang telah dibuktikan dalam lima hari itu, tidak pernah ramah bagi mereka yang setengah hati.
Selamat datang cabung dan cabing di PMKRI Cabang Ende Santo Yohanes Don Bosco.
Jika kalian memilih untuk bertahan, maka bersiaplah, perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi akan sangat berarti.
