Sesudah Yubileum, Kita Masih Peziarah

Refleksi Rohani atas Penutupan Tahun Yubileum di Katedral Ende
Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Ada momen-momen dalam hidup Gereja yang tidak riuh, tidak hingar, tetapi justru meninggalkan gema panjang di dalam hati. Penutupan Tahun Yubileum di Gereja Kristus Raja Katedral Ende, 6 Januari 2026, adalah salah satunya.
Tidak ada pesta besar. Tidak ada sorak-sorai. Yang ada hanyalah liturgi yang khidmat, doa yang hening, dan kata-kata gembala yang jatuh perlahan, tetapi berat, ke dalam kesadaran umat. Seolah Gereja ingin berkata, jangan terburu-buru pulang, karena yang ditutup hari ini bukan perjalanan, melainkan hanya satu bab kecil dari ziarah iman yang panjang.
Yubileum dan Ilusi “Selesai”
Manusia modern menyukai kata selesai. Selesai bekerja. Selesai acara. Selesai proyek. Bahkan iman pun sering kita perlakukan seperti agenda, selesai misa, selesai doa, selesai Yubileum. Di sinilah letak bahaya terbesar Yubileum. Sebab Yubileum bukan tentang kalender. Ia bukan tentang tanggal pembukaan dan penutupan. Ia adalah tentang pertobatan yang terus-menerus, tentang keberanian untuk mengubah arah hidup. Maka ketika Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menegaskan dalam kotbahnya bahwa Yubileum bukan akhir melainkan awal, sesungguhnya beliau sedang mengoreksi cara berpikir kita yang terlalu administratif dalam beriman.
“Yubileum bukanlah akhir dari perjalanan iman kita. Ia adalah awal.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi yang mau jujur, kalimat itu menuntut tanggung jawab rohani yang besar.
Peziarah Harapan, Sebuah Panggilan, Bukan Label
Tema besar Tahun Yubileum, Peziarah Harapan, terdengar indah. Namun harapan sering kali kita pahami secara keliru, seolah ia hanya soal menunggu keadaan membaik. Padahal, dalam iman Kristiani, harapan adalah keberanian untuk tetap setia meski keadaan tidak berubah. Harapan bukan optimisme murahan. Harapan adalah kesetiaan yang berakar pada Kristus.
Dalam dunia yang lelah oleh konflik, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan krisis kepercayaan, Gereja dipanggil bukan untuk menjadi penonton moral, tetapi peziarah yang ikut merasakan debu dan luka jalanan sejarah.
“Sebagai peziarah harapan, kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Kristus,” tegas Uskup Agung Ende.
Artinya jelas, iman tidak membebaskan kita dari masalah, tetapi memberi kita arah dan daya tahan untuk tidak menyerah pada keputusasaan.
Pintu Rahmat Ditutup, Mata Hati Dibuka
Secara simbolik, penutupan Yubileum ditandai dengan ditutupnya pintu rahmat. Tetapi secara rohani, justru di situlah mata hati umat seharusnya dibuka lebih lebar. Sebab rahmat Allah tidak pernah bergantung pada pintu fisik gereja. Ia bergantung pada kesiapan manusia untuk berubah.
“Tuhan membuka pintu rahmat-Nya bukan hanya untuk dilewati sesaat, tetapi untuk mengubah cara kita berjalan, cara kita melihat sesama, dan cara kita merawat kehidupan,” ujar Mgr. Paulus Budi Kleden.
Kata-kata ini penting, terutama bagi kita yang rajin berdoa tetapi mudah menghakimi; yang setia ke gereja tetapi cuek terhadap penderitaan sosial; yang fasih bicara iman tetapi gagap saat diminta berbelas kasih.
Iman yang Tidak Pulang ke Rumah Adalah Iman yang Mandul
Salah satu kegagalan iman paling serius adalah ketika ia tidak pulang ke rumah. Ketika iman berhenti di altar, tetapi tidak hadir di meja makan keluarga. Ketika iman rajin di gereja, tetapi absen di tempat kerja. Ketika iman lantang di mimbar, tetapi sunyi di pasar, di kebun, di jalan raya. Uskup Agung Ende mengingatkan dengan nada pastoral tetapi tegas.
“Kalau setelah Yubileum hidup kita tidak berubah, maka kita kehilangan maknanya.”
Yubileum seharusnya melahirkan manusia baru:
-
lebih sabar dalam keluarga,
-
lebih jujur dalam pekerjaan,
-
lebih adil dalam relasi sosial,
-
lebih ramah terhadap alam ciptaan.
Tanpa itu semua, Yubileum hanya akan menjadi kenangan liturgis yang indah, tetapi steril.
Gereja yang Berjalan Bersama Luka Zaman
Gereja tidak hidup di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat yang sedang berhadapan dengan kemiskinan struktural, kebijakan yang sering tidak berpihak pada yang kecil, krisis ekologis, dan luka-luka sosial yang panjang.
Menjadi peziarah harapan berarti berani hadir di titik-titik luka itu, bukan hanya dengan doa, tetapi dengan sikap dan keberpihakan moral. Karena Gereja memaknai Yubileum maka Gereja lebih mendengar, lebih rendah hati, dan lebih berani membela kehidupan.
Dari Altar ke Halaman Rumah, Yubileum yang Menjadi Tindakan
Di titik inilah Yubileum diuji. Bukan pada megahnya perayaan liturgi, tetapi pada keberanian umat menerjemahkan rahmat menjadi tindakan kecil yang konsisten. Dalam konteks inilah KUB Peduli Anak Usia Dini dan KUB Peduli Ibu Hamil menemukan maknanya yang paling dalam, sebagai perpanjangan tangan Yubileum, bukan sekadar program sosial, melainkan buah iman yang hidup.
Anak Usia Dini, Peziarah Harapan yang Belum Bersuara
Anak-anak usia dini belum mampu menyusun doa panjang. Mereka belum mengerti makna Yubileum. Tetapi justru di dalam diri merekalah masa depan Gereja dan masyarakat sedang dibentuk secara diam-diam.
KUB Peduli Anak Usia Dini menjadi tanda bahwa Gereja memilih menjaga masa depan sejak sekarang, melalui perhatian pada gizi, pendidikan awal, pendampingan orang tua, dan kehadiran komunitas yang setia. Anak-anak ini adalah peziarah harapan yang belum bersuara, tetapi arah hidup mereka sedang ditentukan oleh pilihan kita hari ini.
Ibu Hamil, Rahim sebagai Ruang Kudus Kehidupan
Dalam iman Kristiani, kehidupan itu suci sejak awal. Maka setiap ibu hamil adalah penjaga rahasia kehidupan, sering kali dalam sunyi dan keterbatasan. KUB Peduli Ibu Hamil menghadirkan Gereja yang tidak hanya memberkati dari altar, tetapi menemani dari dekat, mengakui bahwa rahim adalah ruang kudus, dan kehidupan layak dijaga sejak dalam kandungan. Pendampingan ini adalah pernyataan iman yang tegas, Gereja berpihak pada kehidupan, bahkan sebelum kehidupan itu mampu bersuara.
Penutupan yang Mengutus dan Menumbuhkan
Tahun Yubileum telah ditutup secara liturgis. Tetapi selama masih ada anak yang harus dijaga masa depannya, selama masih ada ibu yang harus ditemani perjuangannya, Yubileum belum selesai. Ia hidup di KUB, di keluarga, di komunitas kecil yang memilih peduli. Dan mungkin, di situlah makna terdalam Yubileum, bahwa rahmat Allah tidak pernah habis, yang sering habis hanyalah keberanian kita untuk meneruskannya dalam tindakan.
