MANIFESTO LUKA DAN HARAPAN DARI NUSA BUNGA: Menggugat Nurani, Menjahit Kembali NTT yang Terkoyak di 2025

Oleh: Irminus Deni (Pemimpin Redaksi atalomba.com)
LAPORAN KHUSUS & REFLEKSI AKHIR TAHUN
DESEMBER 2025. Hujan turun membasahi tanah Flores, Timor, Sumba, dan Alor. Namun, di penghujung tahun ini, air yang jatuh dari langit terasa berbeda. Ia bercampur dengan abu vulkanik, lumpur banjir, dan air mata ribuan ibu yang kehilangan.
Biasanya, Desember adalah bulan pesta. Lampu-lampu Natal berkelap-kelip di beranda rumah, lagu-lagu pujian menggema dari gereja-gereja tua. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Tahun 2025 bukanlah tahun pesta. Tahun ini adalah sebuah “Elegi Panjang”. Sebuah tahun di mana Nusa Tenggara Timur (NTT) dipaksa telanjang menghadapi realitasnya yang paling pahit. Kita rapuh. Kita sedang tidak baik-baik saja.
Sebagai jurnalis yang duduk di ruang redaksi atalomba.com, merekam jejak digital peristiwa sepanjang 365 hari ini rasanya seperti menyusun mozaik kaca yang pecah. Setiap pecahannya tajam dan melukai tangan. Mulai dari batuknya Gunung Lewotobi Laki-laki yang tak kunjung sembuh, air bah yang menenggelamkan Mauponggo, perlawanan iman di Keuskupan Agung Ende melawan mesin bor panas bumi, hingga peti-peti jenazah yang terus “mudik” ke kampung halaman.
Tulisan ini bukan sekadar refleksi. Ini adalah gugatan. Ini adalah cermin retak yang saya sodorkan ke wajah kita semua, pemerintah, wakil rakyat, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Apa yang salah dengan kita di tahun 2025? Dan bagaimana kita harus menebus dosa-dosa ini di tahun 2026?
KETIKA GUNUNG DAN AIR MENGADILI KITA
Tragedi Lewotobi Laki-laki & Banjir Mauponggo. Kita memulainya dari Timur Flores. Di bawah kaki Gunung Lewotobi Laki-laki, ribuan saudara kita belajar tentang arti “kehilangan” yang sesungguhnya.
Sepanjang tahun 2025, gunung itu tidak sekadar meletus; ia meraung. Abu vulkanik menutup atap rumah, mematikan ladang jagung, dan merampas hak anak-anak untuk menghirup udara bersih. Ribuan pengungsi berdesakan di tenda-tenda darurat yang panas, tidur beralaskan tikar tipis, sementara birokrasi penyaluran bantuan seringkali berjalan lambat seperti siput.
Tragedi Lewotobi bukan semata bencana alam (natural disaster). Ia bertransformasi menjadi bencana kemanusiaan karena kegagapan kita. Kita melihat bagaimana negara tergopoh-gopoh. Manajemen logistik yang kacau, sanitasi pengungsian yang buruk, dan ketidakjelasan nasib relokasi. Lewotobi menelanjangi fakta bahwa mitigasi bencana kita masih sebatas pidato seremoni. Ketika bencana datang, rakyatlah yang paling pertama menyelamatkan rakyat, sebelum bantuan resmi dengan stempel dinas tiba.
Belum kering air mata di Flores Timur, alam kembali berteriak di Nagekeo. Banjir bandang di Kecamatan Mauponggo datang seperti pencuri di malam hari. Air bah bercampur lumpur menerjang pemukiman dan lahan pertanian.
Apa pesan dari Mauponggo? Pesannya jelas. Ekologi kita sedang sekarat. Banjir bandang tidak terjadi begitu saja. Ia adalah akumulasi dari dosa-dosa ekologis yang kita tumpuk bertahun-tahun. Hutan lindung yang digerogoti, daerah aliran sungai (DAS) yang dialihfungsikan, dan tata ruang yang hanya indah di atas kertas peta namun semrawut di lapangan.
Di tahun 2025, alam NTT tidak lagi menjadi “Ibu yang Memberi Makan“. Ia berubah menjadi hakim yang menjatuhkan vonis atas keserakahan dan ketidakpedulian kita. Jika di tahun 2026 pemerintah daerah masih menganggap isu lingkungan sebagai isu kelas dua, kalah penting dibanding proyek beton, maka bersiaplah, kita sedang menggali kuburan massal untuk masa depan anak cucu kita.
PERLAWANAN DARI ALTAR SUCI
Gereja, Keuskupan Agung Ende, dan Penolakan Geothermal. Tahun 2025 juga akan dikenang sebagai tahun di mana jubah putih para imam tidak hanya terlihat di altar, tetapi juga di garis depan perjuangan agraria. Kasus penolakan proyek Geothermal (Panas Bumi) di wilayah hukum Keuskupan Agung Ende menjadi tinta sejarah yang tak terhapus.
Narasi yang dibangun oleh pusat sangat manis, “Energi Hijau“, “Listrik Ramah Lingkungan“, “Investasi Triliunan Rupiah“. Namun, rakyat di tapak proyek merasakan hal berbeda. Bagi mereka, ini bukan tentang listrik, ini tentang Ruang Hidup.
Sikap tegas Gereja Keuskupan Agung Ende yang berdiri bersama masyarakat menolak pengeboran di titik-titik krusial bukanlah sikap anti-pembangunan. Itu adalah lonceng peringatan moral. Gereja melihat apa yang luput dari mata investor, trauma masyarakat akan kegagalan proyek serupa di tempat lain (seperti kasus Mataloko atau Sorik Marapi), potensi rusaknya sumber mata air, dan hilangnya tanah warisan leluhur.
Peristiwa ini mengajarkan kita satu pelajaran mahal di tahun 2025. Pembangunan yang memunggungi manusia adalah penindasan. Kita tidak bisa memaksakan sebuah proyek “baik” dengan cara-cara yang “jahat” (represif, intimidatif, dan tanpa persetujuan bebas masyarakat adat).
Gereja telah mengambil posisinya, Salus Populi Suprema Lex Esto. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Di tahun 2026, pemerintah harus mengubah paradigma. Jangan lagi datang membawa alat berat sebelum membawa hati untuk mendengar. Dialog harus setara, bukan sosialisasi satu arah yang memaksa.
DAGANGAN PALING LARIS ITU BERNAMA “MANUSIA“
Darurat Perdagangan Orang / TPPO di NTT. Inilah bagian paling kelam dari refleksi ini. Jika bencana alam adalah kehendak Tuhan, maka maraknya kasus Perdagangan Manusia (Human Trafficking) di NTT tahun 2025 adalah murni kejahatan manusia yang dibiarkan oleh sistem.
Kita malu. Sungguh, kita harus malu. Di tahun 2025, NTT masih menyandang predikat sebagai “lumbung budak“. Berapa banyak lagi peti jenazah yang harus kita sambut di Terminal Kargo Bandara El Tari Kupang? Berapa banyak lagi ibu di Sumba, di Timor, di Flores yang menangis histeris memeluk peti mati anaknya yang pulang dengan jahitan otopsi tak wajar?
Modusnya semakin canggih, sindikatnya semakin licin, namun akarnya tetap sama, Kemiskinan dan Ketiadaan Harapan. Anak-anak muda NTT tidak pergi ke Malaysia atau merantau ilegal karena mereka benci tanah kelahirannya. Mereka pergi karena di sini, di tanah yang katanya surga wisata ini, mereka tidak bisa makan. Mereka pergi karena perut lapar tidak bisa kenyang dengan janji kampanye para politisi.
Kasus-kasus TPPO yang meledak di tahun 2025 adalah tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Program pemberdayaan masyarakat desa kemana saja? Dana Desa triliunan rupiah itu berputar dimana? Kenapa pemuda desa masih merasa harus “menjual diri” ke luar negeri demi sesuap nasi?
Rekomendasi saya sebagai Pemred atalomba.com untuk 2026 sangat keras. Jangan cuma tangkap calo lapangan (perekrut kecil). Tangkap aktor intelektualnya, beking-beking berseragam di belakangnya. Dan yang terpenting, ciptakan “gula” di desa agar “semut-semut” muda kita tidak perlu mati di negeri orang.
CAHAYA DARI SAGKI 2025
Kompas Moral Menuju Perbaikan. Di tengah badai masalah itu, Tuhan masih menyisakan pelita. Pelaksanaan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 memberikan kita arah.
SAGKI 2025 bukan sekadar rapat para Uskup. Dokumen dan rekomendasi yang dihasilkan adalah “Kompas Moral” bangsa. Seruan SAGKI tahun ini sangat relevan dengan kondisi NTT. Pertobatan Ekologis, Penghormatan Martabat Manusia, dan Politik yang Berkeadaban.
Gereja Katolik Indonesia telah bersuara lantang. Bahwa iman tidak boleh terpenjara di dalam tembok gereja yang dingin. Iman harus berkeringat. Iman harus berani membela korban banjir, berani menolak perusak lingkungan, dan berani melindungi korban perdagangan orang. Semangat SAGKI 2025 ini harus kita bawa ke tahun 2026. Spiritualitas kita harus menjadi spiritualitas yang terlibat. Bukan spiritualitas yang lari dari kenyataan.
RESOLUSI 2026 – SAATNYA MEMPERBAIKI RUMAH KITA
Pembaca atalomba.com yang budiman. Kita tidak bisa memutar waktu kembali ke Januari 2025 untuk mencegah Gunung Lewotobi meletus atau mencegah banjir di Mauponggo. Tapi, kita memegang kendali penuh atas apa yang akan terjadi di Januari 2026 dan seterusnya.
Refleksi tanpa aksi adalah halusinasi. Maka, menyongsong tahun 2026, mari kita sepakati sebuah kontrak sosial baru untuk NTT:
-
Revolusi Siaga Bencana. Pemerintah Daerah tidak boleh lagi gagap. Sistem peringatan dini harus jalan. Gudang logistik harus penuh. Edukasi bencana masuk kurikulum sekolah. Kita hidup di Ring of Fire, bersahabat dengan bencana adalah satu-satunya cara bertahan hidup.
-
Jeda Ekologis. Hentikan izin-izin investasi yang berpotensi merusak lingkungan masif. Lakukan audit lingkungan menyeluruh. Kasus Mauponggo adalah peringatan terakhir. Jangan main-main dengan alam.
-
Perang Semesta Melawan TPPO. Aktifkan Siskamling di desa bukan untuk maling ayam, tapi untuk memantau calo tenaga kerja. Pemerintah wajib menyediakan Balai Latihan Kerja (BLK) yang modern dan gratis di setiap Kabupaten. Beri kail, bukan hanya umpan.
-
Dialog yang Tulus. Untuk isu sensitif seperti Geothermal atau tambang, pemerintah harus turun dari menara gading. Dengarkan suara Gereja, dengarkan suara Tetua Adat. Pembangunan fisik penting, tapi pembangunan jiwa dan kedamaian sosial jauh lebih penting.
Penutup
Tahun 2025 meninggalkan luka yang menganga. Bekas jahitannya mungkin akan terasa nyeri untuk waktu yang lama. Tapi ingat, orang NTT adalah petarung. Kita adalah keturunan pelaut yang tidak takut ombak, dan keturunan petani yang tidak takut matahari.
Di balik abu vulkanik Lewotobi, tanah justru menjadi subur. Di balik banjir, ada solidaritas yang tumbuh. Kita akan bangkit. Kita akan perbaiki atap rumah yang bocor, kita akan tanam kembali pohon yang tumbang, dan kita akan jemput pulang saudara kita yang hilang.
Selamat jalan tahun 2025, tahun yang penuh air mata. Selamat datang tahun 2026, tahun pemulihan dan harapan.
Dari meja redaksi, saya Irminus Deni, mengajak Anda semua untuk tidak putus harapan. Mari bergandengan tangan, menjaga Nusa Bunga agar tetap harum mewangi, bukan berbau amis darah dan lumpur. Tuhan Memberkati Kita Semua.
