Uskup Baru Larantuka: Melihat Lebih Dekat Sosok Mgr. Dr. RD. Yohanes Hans Monteiro

Larantuka, Atalomba.com – Ketika Vatikan mengumumkan pada 22 November 2025 bahwa RD. Yohanes Hans Monteiro, ditetapkan sebagai Uskup Terpilih Keuskupan Larantuka, gema kabar itu langsung melintasi pesisir Flores Timur, menyusuri lorong-lorong paroki, dan berhenti di hati umat yang selama bertahun-tahun merindukan gembala baru. Banyak yang menyebut momen ini sebagai “awal babak baru” bagi Gereja Larantuka, sebuah wilayah yang kaya tradisi, sejarah iman, dan tantangan pastoral di zaman yang cepat berubah. Di balik senyum hangat dan pembawaannya yang tenang, tersimpan perjalanan panjang seorang imam asal Larantuka yang ditempa oleh disiplin, ilmu, pengalaman lintas benua, dan akar budaya yang kuat.
Akar Panggilan Dari Larantuka ke Hokeng
Lahir pada 15 April 1971, Hans Monteiro tumbuh dalam denyut tradisi Katolik yang mengakar dalam budaya Flores Timur. Sejak kecil ia akrab dengan rosario, devosi, dan ritme iman masyarakat Larantuka yang sarat simbol dan sejarah.
Langkah awal panggilannya dimulai di Seminari Menengah Santo Domingo Hokeng, tempat ribuan anak muda Flores Timur menata hidup dan menakar panggilan imamat. Di sana, Hans ditempa oleh kedisiplinan liturgi harian, hidup komunitas yang ketat, dan formasi karakter yang membuat banyak alumninya kokoh menghadapi dunia. Bagi banyak imam, Hokeng bukan hanya sekolah, melainkan dapur pembentukan jati diri. Dari tempat itulah Hans melanjutkan perjalanan panjang menuju panggilan imamat yang matang.
Jejak Akademik Dari Ledalero ke Eropa
Selepas seminari menengah, Hans Monteiro melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Filsafat dan Katolik Ledalero (kini IFTK Ledalero), pusat intelektual Gereja Katolik terbesar di Indonesia Timur. Namun dorongan mendalami liturgi, jantung kehidupan Gereja, membawanya jauh melintasi benua.
Ia kemudian menempuh studi lanjut di Universitas Wina, Austria, salah satu institusi teologi-liturgi paling prestisius di dunia. Di sana, Hans meraih Licentiate dan Doktor Liturgi, prestasi yang menempatkannya dalam barisan imam Indonesia dengan spesialisasi liturgi tingkat doktoral dari Eropa.
Tetapi hidupnya di Austria bukan sekadar ruang kelas dan perpustakaan. Ia juga berkarya sebagai:
-
Vikaris Paroki di Franz-von-Assisi-Kirche, Mexikoplatz, Wina
-
Vikaris Paroki di Maria Himmelfahrt, Bad Deutsch-Altenburg
Pengalaman pastoral di Eropa membuatnya matang secara teologis sekaligus terlatih berhadapan dengan umat dari berbagai budaya.
Kembali ke Flores Persembahan Ilmu untuk Gereja Lokal
Pada 2018, Hans Monteiro kembali ke Indonesia. Langkah pulangnya adalah kabar gembira bagi Gereja lokal, karena ilmu liturginya kembali ke tempat asal, bukan tinggal di Eropa.
Sekembalinya, ia mengabdi sebagai:
-
Dosen Liturgi di IFTK Ledalero
-
Formator dan Direktur Spiritual di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret
-
Anggota Komisi Liturgi KWI (sejak 2022)
Ritapiret dan Ledalero adalah dua pusat penting bagi pembentukan imam di NTT. Kehadiran Pastor Hans membuat kedua lembaga itu mendapatkan kontribusi intelektual, liturgis, dan spiritual yang tajam sekaligus hangat. Tidak sedikit frater dan imam muda yang merasakan dampak pembinaannya yang dikenal tegas tetapi bersahabat, akademis tetapi tetap membumi dalam spiritualitas lokal Flores.
Tangan Baru untuk Keuskupan Larantuka
Pada 22 November 2025, Paus Leo XIV menunjuk Pastor Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, PR, yang memimpin keuskupan ini selama lebih dari dua dekade. Pengangkatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan Gereja akan pemimpin baru, tetapi juga membuka ruang pembaruan pastoral di wilayah yang tengah menghadapi banyak tantangan, ekologi yang rapuh, meningkatnya migrasi tenaga kerja, tantangan digitalisasi OMK, serta kebutuhan untuk memperbarui liturgi agar tetap hidup dan menyentuh umat. Bagi banyak umat, Pastor Hans bukan sekadar pemimpin baru, melainkan tanda harapan. Sosoknya dikenal:
-
cerdas tetapi tidak elitis
-
spiritual tetapi tidak kaku
-
akademik tetapi tetap dekat dengan umat kecil
-
terbuka, hangat, dan mudah tersenyum
Kombinasi kualitas itu yang membuat banyak pihak optimistis tentang arah pastoral Keuskupan Larantuka dalam tahun-tahun mendatang.
Dari Flores Timur untuk Gereja Universal
Perjalanan hidup Mgr. Dr. RD. Yohanes Hans Monteiro, adalah kisah tentang akar, panggilan, dan pengabdian. Dari lorong-lorong Seminari Hokeng, bangunan tua Ledalero, hingga gedung bersejarah Universitas Wina di Eropa, semua pengalaman itu kini kembali kepada umat di Flores Timur.
Keuskupan Larantuka bukan hanya mendapatkan seorang uskup baru, tetapi juga seorang putra daerah yang matang secara intelektual, spiritual, dan pastoral. Umat pun menyambutnya dengan satu kata yang sederhana namun penuh makna:
“Proficat, Uskup Hans!”
Semoga ia menuntun Gereja Larantuka dengan hikmat, keberanian, dan cinta yang dalam bagi umat dan tanah Flores Timur. (AL/Irminus Deni)
