Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong! Ketika Budaya dan Perkembangan Zaman Disatukan: “Antara Gong, Gawi, dan Gagap Identitas”

Oleh: Irminus Deni
Mari kita mulai dengan satu pemandangan sederhana. Di tengah lapangan kampung, beberapa orang muda berpakaian adat sedang menari adat, tapi tangannya sibuk memegang ponsel. Satu dua di antaranya senyum sambil menatap layar, karena live di TikTok. Gong belum juga dipukul, tapi notifikasi sudah berbunyi. Kamera lebih dulu siap daripada gong, dan views lebih penting daripada makna. Ah, beginilah zaman. Budaya sedang disatukan dengan perkembangan teknologi, tapi entah siapa yang jadi tuan rumah, siapa yang sekadar numpang lewat.
Budaya yang Menjadi Latar, Bukan Laku
Dulu, budaya itu adalah cara kita hidup. Sekarang, budaya itu background video. Kain adat jadi properti foto prewedding, tenun jadi dekorasi panggung festival, dan tarian tradisional dipendekkan biar muat di reels 30 detik. Apakah salah? Tidak. Tapi di situ kita bisa mencium aroma yang agak getir, budaya makin sering tampil, tapi makin jarang dipahami.
Kita sekarang hidup di masa di mana identitas sering kali cuma kostum yang dipakai saat ada tamu dari luar daerah, atau saat lomba antar-sekolah. Sesudah itu? Ya balik ke kaos jersey, headset, dan HP model terbaru. Di situ, budaya bukan lagi napas, tapi hiasan.
Seseorang pernah berkata, “Yang hilang bukan budayanya, tapi jiwa orang yang menjaganya.” Dan mungkin itu benar. Karena kita sibuk memodernkan segala hal, tapi lupa bahwa yang membuat budaya hidup bukan bentuknya, melainkan rasa hormat dan maknanya.
Sekarang, semua ingin tampil modern. Tapi di tengah modernitas itu, banyak yang justru kehilangan arah. Kita ingin jadi keren di dunia digital, tapi malu menari di upacara adat. Kita rela antre beli HP, tapi malas belajar cara menenun. Kita bangga bisa ngonten, tapi minder bicara bahasa daerah. Lucu, ya? Budaya dan perkembangan zaman kita satukan, tapi yang jadi korban adalah rasa malu terhadap akar sendiri.
Dari Gong ke Gawi, Simbol yang Bergeser
Mari kita bicara simbol. Dulu, gong adalah tanda dimulainya pesta. Sekarang, bunyi notifikasi HP yang menentukan kapan pesta dimulai. Gong adalah pemanggil orang kampung; gawi adalah pemanggil followers.
Gong dulu diletakkan di rumah adat, karena di sanalah pusat kehidupan sosial. Sekarang, HP diletakkan di tengah meja makan, karena di sanalah pusat perhatian.
Zaman memang berubah. Tapi yang menarik adalah cara kita bereaksi terhadap perubahan itu. Kita bangga punya Wi-Fi di rumah adat, tapi lupa menanyakan apa kabar rumah adat yang mulai lapuk. Kita bangga bikin konten “Explore Budaya Daerah”, tapi setelah video viral, budaya itu ditinggal seperti bekas properti syuting.
Zaman tidak pernah salah. Yang sering salah adalah kita yang tidak tahu bagaimana harus hidup di dalamnya. Kita ingin menyatukan gong dan gawi, tapi sering kali yang muncul hanyalah gagap identitas. Kita menari di antara dua dunia, yang satu berbicara tentang nilai, yang satu berbicara tentang viral. Dan kita belum cukup dewasa untuk menari dengan seimbang di antara keduanya.
Ketika Leluhur Jadi Konten
Coba bayangkan, kalau leluhur kita yang dulu menenun di bawah pohon, tiba-tiba hidup kembali dan melihat keturunannya menenun sambil live di TikTok, mungkin mereka akan heran, bukan karena teknologinya, tapi karena niatnya. Dulu menenun itu doa, sekarang menenun itu content creation.
Bukan berarti itu buruk, tapi kalau semua dilakukan demi engagement, kita harus bertanya, “Masih ada roh yang sama di situ?” Leluhur kita tidak pernah menulis “konten budaya”, mereka menjalani budaya.
Sekarang kita tidak lagi menjalani, kita mendokumentasikan. Dan dokumentasi, tanpa kesadaran makna, hanyalah kenangan yang bisa diputar ulang tanpa rasa.
Kita menjadikan budaya sebagai tontonan, padahal dulu budaya adalah tuntunan. Kita menjadikannya ajang lomba, padahal dulu ia adalah cara hidup. Maka di sinilah ironi terbesar dari “menyatukan budaya dan perkembangan zaman”: Yang satu mengandung nilai, yang satu mengandung algoritma.
Yang satu mengajarkan kesabaran, yang satu menuntut kecepatan. Dan ketika dua hal itu disatukan tanpa kebijaksanaan, hasilnya bukan kemajuan, melainkan kebingungan.
Gagap Identitas di Era Cepat
Kita semua, di generasi ini, sedang mengalami apa yang bisa disebut “gagap identitas”. Kita tahu semua lagu daerah, tapi tidak pernah menyanyikannya. Kita tahu semua nama tarian, tapi tidak bisa menirunya. Kita tahu semua simbol adat, tapi tidak tahu maknanya.
Gagap identitas adalah ketika kita bangga pada sesuatu yang tidak kita pahami. Kita memposting foto dengan caption “Cinta Budaya Lokal ❤️”, tapi di pesta kampung kita tidak mau ikut tarian karena “panas dan ribet”. Kita bangga pakai tenun di Hari Nasional, tapi tidak pernah tahu siapa yang menenun dan bagaimana sulitnya menenun sehelai benang.
Modernitas memberi kita kecepatan. Budaya memberi kita kedalaman. Tapi banyak dari kita yang terjebak di kecepatan, tanpa kedalaman. Kita tahu cara scroll, tapi tidak tahu cara merenung.
Dan ketika budaya disatukan dengan perkembangan zaman tanpa jiwa yang kuat, maka yang muncul adalah imitasi, bukan integrasi. Kita tampak modern, tapi kosong. Kita tampak berbudaya, tapi hanya di permukaan.
Ketika Desa Ingin Jadi Kota, dan Kota Kehilangan Arah
Coba kita lihat di lapangan yang lebih luas, Desa kini sibuk jadi kota, membangun kafe di tepi sawah, membuat spot foto “Instagramable”, bahkan meniru gaya urban. Sementara kota sedang sibuk mencari “kearifan lokal” karena jenuh dengan hiruk-pikuk modernitas.
Aneh, bukan? Yang satu ingin jadi yang lain, dan keduanya kehilangan jati diri di tengah jalan. Desa ingin punya mal, kota ingin punya sawah. Desa ingin cepat, kota ingin tenang. Dan di tengah itu semua, budaya tradisional menjadi alat dagang.
“Budaya harus dikembangkan,” kata banyak pejabat. Tapi sering kali maksudnya adalah, budaya harus dijual. Padahal tidak semua hal bisa dijual tanpa kehilangan suci di dalamnya. Ada hal-hal yang seharusnya tetap sakral, tidak boleh direduksi jadi “paket wisata”. Kita butuh keseimbangan, bukan untuk menolak modernitas, tapi agar budaya tidak kehilangan akar ketika diangkat ke panggung global.
Di Antara Dua Dunia
Mari kita jujur. Tidak ada yang bisa menghindari perubahan zaman. Dunia digital sudah jadi rumah kedua kita. Anak-anak sekarang lebih hafal emoji daripada pepatah neneknya. Tapi bukan berarti budaya harus menyerah.
Budaya bisa hidup berdampingan dengan modernitas, asal disertai kesadaran. Tarian bisa masuk YouTube, tapi tetap harus diajarkan dengan nilai yang sama seperti di bale adat. Tenun bisa dijual online, tapi tetap harus dihormati sebagai warisan tangan perempuan kampung. Cerita rakyat bisa jadi podcast, tapi jangan lupa maknanya bukan untuk lucu-lucuan, melainkan penuntun moral. Kuncinya satu, jangan biarkan budaya jadi penumpang di mobil kemajuan. Ia harus tetap jadi pengemudi arah nilai.
Refleksi, Siapa Kita di Tengah Perubahan Ini?
Kadang, kita terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan zaman, sampai lupa menanyakan, siapa kita sebenarnya? Apakah kita masih manusia yang punya akar, atau hanya produk algoritma yang kehilangan makna?
Kita membangun dunia maya yang besar, tapi sering lupa menjaga dunia nyata yang retak. Kita membuat aplikasi untuk belajar adat, tapi tidak pernah datang ke rumah adat. Kita bicara tentang warisan budaya, tapi membiarkan tanah leluhur dijual murah untuk proyek yang katanya “demi kemajuan”.
Budaya dan perkembangan zaman tidak pernah harus bertengkar. Yang jadi masalah adalah ketika manusia berhenti berpikir, berhenti merasa, dan hanya ikut arus yang paling cepat. Kita bisa hidup di dua dunia itu sekaligus, asal kita tahu siapa kita dan dari mana kita datang. Karena yang modern tanpa akar, akan mudah tumbang. Dan yang berakar tapi menolak tumbuh, akan kering di tempat.
Senggol Dong, Tapi Pelan-Pelan…
Jadi, mari kita senggol pelan-pelan para pengambil kebijakan, para influencer budaya, dan diri kita sendiri. Kalau mau menyatukan budaya dan perkembangan zaman, jangan cuma di spanduk acara atau tagline festival. Satukan juga dalam cara berpikir, cara mendidik, dan cara kita hidup sehari-hari.
Kalau bikin festival budaya, jangan cuma lomba menari. Bikin juga ruang untuk belajar filosofi di balik tarian itu. Kalau bikin konten budaya, jangan cuma show off kostum. Bicarakan juga makna, perjuangan, dan nilai moral yang dikandungnya.
Dan kalau mau disebut “anak muda modern”, jangan cuma karena bisa pakai AI atau edit video cepat.
Buktikan juga dengan tahu cara menghormati orang tua, menyapa tetangga, dan mencintai tanah kelahiran. Karena sejatinya, budaya adalah kesopanan yang terus hidup, meski zaman berganti layar.
Penutup: Gong dan Gawi Bisa Berdamai
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan perkembangan zaman. Yang salah adalah ketika kita melangkah cepat tanpa arah. Gong dan gawi bisa berdamai, asal kita tahu siapa yang harus memimpin iramanya.
Gawi mengajarkan kecepatan, gong mengajarkan keharmonisan. Dan kampung kita ini, kalau mau maju dengan bermartabat, harus bisa menabuh gong sambil menari gawi, tanpa kehilangan makna di antara keduanya. Karena budaya tanpa kemajuan akan terpinggirkan, tapi kemajuan tanpa budaya akan kehilangan jiwa.
Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong! bukan sekadar rubrik yang nyenggol kiri kanan. Ia adalah ajakan untuk berpikir, menertawakan diri sendiri, lalu bangkit lagi dengan kesadaran baru. Bahwa kita tidak perlu memilih antara menjadi modern atau tradisional, kita hanya perlu menjadi manusia yang sadar akar dan berani tumbuh.
🪶
Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
(Menulis sambil menatap gong tua di kampung, yang kini bunyinya kalah dengan notifikasi HP.)
