Sr. Erlinda Jendo, PIJ, Putri Tunggal Dari Kolikapa yang Memilih Jalan Tuhan

Liputan Tim Atalomba.com. Roy Kristian
Pagi itu, Sabtu 25 Oktober 2025, suasana KUB Kolikapa berubah menjadi lautan sukacita. Bunga-bunga warna-warni menghiasi altar sederhana, tenda berdiri megah di tengah kampung, dan senyum umat mekar seperti pagi yang diberkati.
Hari itu bukan hari biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kampung kecil di Kecamatan Aesesa, seorang anak perempuan dari KUB St. Gabriel Kolikapa mengucapkan kaul kekal, janji suci untuk hidup miskin, murni, dan taat selamanya dalam Kongregasi Pauperis Infantis Jesu (PIJ), atau Kongregasi Suster-suster Sang Timur
Namanya Sr. Erlinda Jendo, PIJ. Putri tunggal dari pasangan Blasius Juma dan Mama Susana Timu. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara satu-satunya perempuan, satu-satunya yang memilih jalan sunyi menuju Tuhan.
Sr. Erlinda Jendo, PIJ lahir dan tumbuh di Kolikapa. Hari-harinya sederhana, sekolah di SDN Ameaba, lanjut ke SMPS Tozupazo, lalu SMAN 1 Aesesa. Sejak SMP, ia sudah akrab dengan kegiatan rohani, membantu orang tua, dan tekun berdoa.
Teman-temannya banyak yang bermimpi menjadi guru, perawat, atau polisi. Tapi Linda kecil punya cita-cita lain, menjadi suster. Cita-cita yang muncul bukan karena mimpi besar, tapi dari rasa damai setiap kali berdoa di rumah. “Sejak SMP dia sudah bilang mau jadi suster,” kenang Om Juma. “Kami pikir cuma bicara anak kecil. Tapi ternyata dia serius.”

KUB Kolikapa berdiri di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Namun kehidupan di sana penuh harmoni. Warga saling membantu, tanpa sekat agama. Jika ada kegiatan gereja, tetangga ikut bantu masak; kalau ada hajatan di masjid, umat Katolik ikut menyumbang tenaga.
Dalam suasana inilah Sr. Erlinda Jendo, PIJ tumbuh. Ia belajar bahwa iman dan kasih tidak bergantung pada agama, tapi pada hati yang tulus. Semangat kebersamaan di kampung inilah yang menanamkan benih kasih dan pengabdian dalam dirinya.
Setelah lulus SMA, Linda nama panggilan dikampungnya memberanikan diri mengikuti panggilan hatinya. Ia meninggalkan Kolikapa menuju Malang, memulai masa aspiran di Kongregasi (PIJ). Tahun-tahun awal tidak mudah. Ia harus belajar disiplin doa, hidup sederhana, dan taat dalam komunitas.
Namun, setiap langkah yang ia ambil selalu disertai dengan doa dan restu dari kedua orang tuanya. Perjalanan panjang itu mencapai puncaknya pada 18 Oktober 2025, ketika Sr. Erlinda mengucapkan kaul di Maumere. Itu adalah momen yang menandai penyerahan total dirinya kepada Tuhan selamanya.
Seminggu setelah kaul kekal, umat KUB St. Gabriel Kolikapa menggelar misa syukur penuh sukacita pada 25 Oktober 2025. Ketua panitia, Bapak Umar Bakri, bersama seluruh umat menyiapkan segala hal sejak beberapa hari sebelumnya, dekorasi, konsumsi, dan tenda besar untuk lebih dari 500 orang tamu.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Kristoforus Betu Soo , pastor paroki Stella Maris Danga, bersama para imam dan biarawati dari kongregasi PIJ. Hadir pula Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, para tokoh masyarakat, dan tamu undangan dari berbagai tempat di Nagekeo.
Koor misa dibawakan dengan megah oleh SMAN 1 Aesesa, sementara penyambutan dilakukan oleh SMPS Tozupazo, sekolah tempat Suster Erlinda dulu belajar. Semua berjalan meriah dan penuh haru pesta iman yang akan selalu dikenang warga Kolikapa.
Di antara ribuan wajah yang berseri-seri, berdiri seorang pria sederhana dengan senyum yang tak pernah hilang Blasius Juma, ayah dari Sr. Erlinda Jendo, PIJ. Ia duduk di barisan depan, menatap putri tunggalnya di altar. Sesekali matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena rasa bangga yang tak bisa diucapkan.
Setelah misa, beberapa orang mendekat, mengucapkan selamat. Om Juma hanya tersenyum dan berkata dengan nada rendah namun penuh keyakinan,
“Kami orang tua hanya bisa melahirkan dan membesarkan mereka. Tapi arah hidup itu tergantung anak yang memilih. Kalau itu jalannya, biarlah Tuhan yang menuntun.”
Ia berhenti sebentar, menatap altar, lalu menambahkan pelan,
“Awalnya berat sekali. Dia satu-satunya anak perempuan kami. Tapi saya sadar, anak itu titipan Tuhan. Kalau Tuhan panggil, kami harus rela melepas.”
Kata-kata itu membuat banyak orang terdiam. Di tengah pesta besar dan keriuhan umat, kalimat sederhana itu terasa seperti doa yang dalam.
Bagi umat KUB St. Gabriel Kolikapa, Sr. Erlinda Jendo, PIJ adalah bunga panggilan pertama yang tumbuh dari tanah mereka. Ia menjadi lambang harapan bahwa dari tempat kecil pun Tuhan bisa menumbuhkan benih suci yang indah.
Para tokoh umat seperti ketua KUB St. Gabriel Kolikapa Edison Maryoni, Primus Daga, Markus Ega Teku, dan Siprianus Pau hadir dengan penuh rasa bangga. Mereka tahu, sejarah baru telah ditulis bukan di kota besar, tapi di kampung kecil yang penuh doa. KUB St. Gabriel Kolikapa kini punya wajah baru dalam peta panggilan hidup rohani di Nagekeo. Dari sini, seorang putri tunggal telah melangkah jauh membawa nama kampungnya ke biara-biara di penjuru Nusantara.
Kisah Sr. Erlinda Jendo, PIJ bukan sekadar cerita tentang seorang suster muda. Ia adalah kisah tentang iman keluarga kecil, tentang ayah yang belajar melepaskan dengan ikhlas, dan tentang anak perempuan yang berani memberi seluruh hidup untuk Tuhan.
Kolikapa kini punya kisah yang akan dikenang turun-temurun. Bahwa dari kampung kecil yang damai dan sederhana, lahirlah terang yang menyinari banyak orang. Dan di antara semua doa umat, satu nama akan selalu disebut dengan bangga dan haru, Sr. Erlinda Jendo, PIJ — bunga panggilan dari Kolikapa.
🕯️
Penulis: Tim Atalomba Roy Kristian
Editor: Irminus Deni
Foto: Dokumentasi Panitia Kaul Kekal KUB Kolikapa
