CLARA: Jalan Pulang dari Dunia Gelap Episode 2 “Janji Om Rudi”

(Karya: Irminus Deni / Atalomba.com)
Pagi itu, Clara berdiri di depan kaca kecil yang tergantung di dinding bilik bambu. Ia merapikan rambutnya, menatap wajahnya sendiri yang tampak asing. Dua hari lalu, ia baru bertemu Om Rudi, pria yang datang membawa janji seperti angin surga, lembut di awal, tapi bisa memporak-porandakan segalanya. Dari luar, suara ayam dan teriakan anak-anak kampung terdengar seperti biasa. Tapi di hati Clara, ada sesuatu yang berubah. Seperti ada pintu besar yang terbuka, dan ia sedang berdiri di ambangnya, antara harapan dan ketakutan.
“Clara, nanti sore Om Rudi suruh kau ke rumahnya,” kata Budi yang datang menjemput. “Katanya mau jelaskan proses keberangkatan.” Clara mengangguk, memasukkan buku kecil dan pulpen ke dalam tas lusuhnya. Ia ingin mencatat apa pun yang penting. Ia masih percaya, perjalanan ini akan jadi awal hidup barunya.
Rumah Om Rudi terletak di pinggir jalan utama kecamatan. Rumah besar dengan cat putih dan pagar besi. Di ruang tamu, tercium aroma kopi dan rokok mahal. Di dinding tergantung foto-foto om Rudi bersama orang-orang berseragam, seolah ia orang penting. Tapi bagi Clara, semua itu hanya menambah rasa gugup.
“Duduk, Clara,” kata om Rudi ramah. “Om mau jelaskan sedikit soal kerjaanmu nanti.” Clara duduk hati-hati. om Rudi membuka map besar di meja. Di dalamnya ada lembaran fotokopi KTP, paspor, dan surat perjanjian kerja. Ia menunjukkan semuanya seperti seorang guru yang sabar.
“Nanti kau kerja di Malaysia, jaga rumah keluarga, majikanmu ini baik sekali, om sudah kenal mereka. Gajinya dua juta per bulan. Makan dan tempat tinggal ditanggung. Kalau rajin, gajimu bisa naik,” kata om Rudi meyakinkan. “Dua juta?” tanya Clara, matanya membesar. “Iya. Lumayan, kan? Kau kerja dua tahun, bisa bangun rumah untuk mama.”
Rudi menyerahkan selembar kertas pada Clara. “Tanda tangan di sini, biar prosesnya cepat.” Clara membaca sekilas. Bahasa di surat itu agak asing, tapi ia tak berani bertanya banyak. Di bagian bawah, ada tulisan kecil: ‘Semua urusan perjalanan ditanggung oleh pihak penyalur tenaga kerja.’
“Om, paspornya nanti Om uruskan, ya?” “Sudah pasti. Kau tak perlu pikir apa-apa. Tinggal siapkan pakaian secukupnya. Semua resmi.” Clara mengangguk. Ia menandatangani surat itu dengan tangan bergetar.
Beberapa hari berikutnya, suasana rumah mereka seperti diliputi campur aduk perasaan. Mama Lidia masih belum sepenuhnya yakin. Tapi setiap kali melihat Clara tersenyum, ia pura-pura percaya. “Mama, nanti kalau uang pertama datang, Mama belikan genteng baru, ya,” kata Clara sambil mengepak baju.
Mama Lidia hanya menatapnya. “Clara, hati-hati di sana. Jangan gampang percaya orang.”
“Iya, Ma.” suasana hening. Di luar, ayam berkokok, tapi seisi rumah terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, rasa takut yang disembunyikan oleh harapan.
Hari keberangkatan tiba. Om Rudi menjemput Clara bersama tiga gadis lain dari kampung tetangga. Mereka dijanjikan akan dikumpulkan di rumah penampungan di kota besar sebelum “dikirim ke Malaysia.” Budi sepupuh Clara yang kenalkan Clara ke om Rudi ikut mengantar sampai terminal. “Clara, nanti kalau sudah sampai di sana, kabari, ya,” katanya. “Iya, Bud. Makasih sudah mau bantu saya.” Budi tersenyum samar. Dalam hatinya, ada rasa bersalah yang tak bisa ia jelaskan. Mobil melaju di jalan berdebu, meninggalkan kampung kecil itu. Dari kaca belakang, Clara melihat ibunya berdiri di depan rumah, melambaikan tangan, wajahnya buram oleh air mata. “Selamat tinggal, Ma,” bisik Clara. “Clara akan pulang bawa rezeki.”
Di kota, mereka dibawa ke sebuah rumah besar bertingkat dua. Dari luar tampak seperti kantor, tapi di dalam, semua jendela tertutup rapat. Seorang wanita berwajah tegas menyambut mereka. “Nama saya Bu Mei. Saya yang urus kalian sampai berangkat,” katanya. Om Rudi hanya memberi instruksi singkat, lalu pamit. “Kalian baik-baik di sini. Nanti Om jemput kalau sudah waktunya berangkat.”
Clara mulai merasa canggung. “Om, boleh kami telepon keluarga?” tanya salah satu gadis.
“Nanti saja,” jawab om Rudi cepat. “Sekarang istirahat dulu. Banyak yang harus disiapkan.” Pintu besar di belakang mereka dikunci dari luar. Clara menatap sekeliling, ada kamera kecil di pojok ruangan, dan jendela ditutup gorden tebal. Di atas meja, ada puluhan paspor. Semua nama berbeda, tapi wajahnya serupa, seperti hasil cetakan. “Mungkin ini bagian dari prosedur,” pikirnya dalam hati, mencoba menenangkan diri.
Hari berganti. Di rumah itu, mereka dilatih membersihkan rumah, menyeterika, dan memasak. Tapi setiap kali ada yang bertanya kapan berangkat, Bu Mei hanya menjawab pendek, “Kalau dokumen sudah beres.”
Suatu malam, Clara diam-diam mendekati lemari besar tempat dokumen disimpan. Ia melihat berkas-berkas bertuliskan nama mereka, tapi tanggal lahir dan tempatnya berbeda. “Ini bukan dataku…” bisiknya. Seketika jantungnya berdegup kencang. Ia baru sadar, dokumen-dokumen itu palsu. Ia teringat senyum om Rudi, senyum yang dulu menenangkan, kini terasa seperti jebakan.
Keesokan paginya, Clara memberanikan diri bertanya. “Bu Mei, kenapa nama di paspor saya beda?” Bu Mei menatap tajam. “Kau tidak perlu tahu. Kau cuma perlu kerja.” “Tapi, Bu, saya takut” “Diam! Kau mau kerja atau tidak, kalau kau tidak mau kerja dan mau pulang ganti semua biaya perjalananmu dan makan minum mu selama disini?” bentaknya. Clara terdiam, “kalau disuruh ganti semua biaya, saya uang dari mana” pikirnya dalam hati. Ia ingin kabur, tapi ke mana? Pintu selalu terkunci. Handphone-nya sudah disita sejak hari pertama.
Malam itu, ia menangis diam-diam. Untuk pertama kalinya, Clara mulai merasa bahwa ia tidak sedang menjemput masa depan, tapi sedang dijual ke dalam Benih kegelapan. Beberapa hari kemudian, om Rudi datang lagi. “Besok malam kalian berangkat ke perbatasan,” katanya sambil tersenyum. “Ada yang akan jemput. Semua sudah aman.” Clara menatapnya dengan mata basah. “Om, boleh saya telepon Mama dulu?” “Nanti saja di sana. Di Malaysia jaringan bagus, bisa video call setiap hari,” jawab om Rudi enteng. Senyum itu lagi. Senyum yang dulu membuat Clara percaya, kini membuatnya ingin muntah. Tapi ia tak punya pilihan.
Ketika om Rudi pergi, Clara berbisik pada gadis di sebelahnya, “Aku takut…” Yang lain menjawab lirih, “Aku juga.” Malam turun pelan-pelan, seperti selimut hitam yang menelan harapan mereka. Dan di luar sana, mobil-mobil bersiap menjemput. Nama mereka bukan lagi Clara, Mira, atau Rina. Mereka sudah punya identitas baru, yang tidak pernah mereka pilih.
(Bersambung ke Episode 3 — “Perbatasan yang Tak Bernama”)
