RP Emanuel Tredoanus Mere, SVD. “Imanuel” dalam Setiap Jejak Kehadiran

Nama : RP Emanuel Tredoanus Mere, SVD
Lahir : Ngedubesi, 22 Desember 1995
Asal : Paroki Hati Kudus Yesus Maunori
Orangtua : Bapa Benyamin Jawa dan Mama Ruvina Sina. Anak kelima dari enam bersaudara
Moto imam: Imanuel (Matius 1:23) “Allah menyertai kita”
Asal dan Akar
Eman Mere, SVD lahir di desa Ngedubesi, sebuah kampung sederhana di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kehidupan masa kecilnya dihabiskan di antara ladang dan doa, di tengah udara segar dan kebersamaan keluarga yang hangat. Ia dilahirkan dari pasangan, Benyamin Jawa dan Ruvina Sina, yang membesarkan anak-anak mereka dengan kasih sederhana, bekerja di kebun, membina iman dalam kapela kecil dikampung, menanam nilai kerajinan, kerendahan, dan pengorbanan.
Ketika usia sekolah dasar tiba, keluarga Benjamin Jawa pindah ke desa Witurombaua, Kecamatan Keo Tengah. Perpindahan ini bukan hanya perubahan geografis, melainkan perubahan identitas sosial dan budaya bagi anak yang sedang tumbuh. Di Witurombaua, Eman Mere, belajar beradaptasi pada sekolah baru, bahasa lokal, lingkungan yang berbeda, dan mulai menemukan bahwa panggilan hidup seringkali dibentuk bukan hanya oleh asal-usul, melainkan oleh kerinduan untuk bertumbuh dari setiap pergumulan kehidupan.
Jejak Pendidikan & Formasi
Perjalanan pendidikan Emanuel Mere menampilkan garis panjang formasi pastoral dan akademik:
-
2003–2009: SDK Romba, dasar akademik dan masa kanak-kanak di kampung.
-
2009–2012: SMPN I Keo Tengah, Maunori, masa remaja awal, pelayanan liturgi remaja mulai muncul.
-
2012–2016: SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans, Todabelu-Mataloko, masa kunci pembentukan karakter panggilan, disiplin, doa, dan kehidupan komunitas seminari.
-
2016–2018: Novisiat Sang Sabda Kuwu, Ruteng, masa percobaan pendidikan religius, integrasi nilai-nilai religius dan hidup komunitas.
-
2018–2022: Kuliah Filsafat di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, memperkuat dasar intelektual, mempelajari filsafat, logika, etika, budaya; IFTK juga dikenal sebagai lembaga yang mengembangkan kapasitas pemikiran kritis dan reflektif bagi calon imam dan awam.
-
2022–2023: Praktik Pastoral (TOP) di Paroki St. Theresia Tangeb, Keuskupan Denpasar, Bali, pengalaman nyata dalam pelayanan lintas budaya, bertemu umat dengan keragaman, memahami tantangan masyarakat kota dan kepedulian pastoral yang konkret.
-
2023–2025: Kuliah Magister Teologi di IFTK Ledalero, pendalaman teologi, terutama kontekstualisasi iman agar pelayanan tidak hanya formal, tetapi sungguh menyapa realitas umat.
Moto “Imanuel” dari Matius 1:23
Eman Mere, SVD memilih moto Imanuel, yang diambil dari Injil Matius 1:23:
“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel (yang berarti: Allah menyertai kita).”
Moto ini menjadi tonggak rohani yang menopang pada saat-saat terang dan gelap kehidupannya. Bukan hanya kata ritual, tetapi janji sadar bahwa meski ibu telah tiada, duka menyapa, atau rindu kampung Halaman, Tuhan tetap bersamanya. Moto ini menjadi benteng iman saat ujian datang.
Ujian-Ujian Hidup yang Menentang Panggilan
Emanuel Mere, SVD tidak dilahirkan ke dalam jalan panggilan yang mulus. Ia menghadapi ujian berat yang memperdalam iman dan karakter:
-
Ketika masa kaul kekal mendekat, ibunda tercinta (Mama Ruvina Sina) meninggal dunia. Kehilangan ibu bukan hanya kehilangan penjaga fisik, tetapi loss besar secara emosional dan spiritual. Ia merasakan kekosongan, namun moto Imanuel mengajarinya bahwa Allah menyertai meski wajah ibu tak lagi terlihat.
-
Hanya dua minggu sebelum tahbisan sebagai diakon, tragedi kembali menghampiri, seorang ponakan kandung (anak dari saudari kandungnya) meninggal. Saat umat bersiap menyambut tahbisan dan hati dipenuhi sukacita, duka itu hadir di tengah persiapan. Ia harus memikul kehilangan pribadi sambil tetap hadir melayani umat.
-
Dalam masa formasi (seminari, novisiat, studi filsafat dan teologi), sering muncul godaan mundur, kerinduan kampung, rindu ibu, kesepian komunitas, tekanan akademik, tugas pastoral yang menuntut. Ada malam-malam doa sunyi ketika iman terasa bagai nyala yang goyah. Namun sembari memelihara moto “Imanuel”, ia belajar bahwa iman tumbuh lewat luka dan keteguhan, bukan lewat kenyamanan semata.
Tahbisan & Perutusan
Puncak dari perjalanan panggilannya tiba ketika ia ditahbiskan sebagai imam pada 04 Oktober 2025 di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Sebelumnya pada 01 Juni 2025 ia telah ditahbiskan sebagai diakon. Masa praktik diakonatnya (Juni-September 2025) di Paroki St. Perawan Maria Ine Wea, Kisaraghe, mempersiapkan pelayanan liturgis dan pastoralnya.
Menurut laporan dari situs Seminari Ledalero, RP Emanuel Tredoanus Mere diutus ke Provinsi SVD Timor, ia akan berkarya dalam ladang misi yang menuntut ketekunan, kepekaan budaya, dan pelayanan yang hadir hingga ke desa terpencil.
Konteks Institusi: IFTK Ledalero dan Formasi Pemikir Kritis
Penting untuk memahami bahwa pendidikan Emanuel Mere, SVD di IFTK Ledalero bukan pendidikan biasa, institut ini (Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero) baru-baru ini membuka program Magister Filsafat yang disahkan oleh Kementerian Pendidikan tinggi untuk mencetak pemikir kritis dan reflektif.
Di tempat ini, calon imam tidak hanya diajari teologi formal, tetapi juga dilatih berpikir kontekstual tentang masalah-masalah kontemporer, etika digital, pluralitas budaya, keadilan sosial, dampak teknologi, dan bagaimana iman harus relevan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Lokasi studi Emanuel Mere, SVD di Ledalero memampukannya berinteraksi dengan gagasan filsafat modern, dialog antaragama, dan pelayanan sosial, membentuk wajah imam yang tidak hidup dalam singgasana teologis semata, tetapi di medan pastoral nyata.
Visi Pelayanan: Mata yang Melihat & Kehadiran yang Menyembuhkan
Dari semua pengalaman itu, visi pelayanan Emanuel Mere, SVD terbentuk:
-
Ia ingin menjadi imam yang melihat bukan dari atas, tetapi dari samping, mendengar luka umat, merasakan kerinduan mereka, dan menjawab dengan kehadiran nyata.
-
Ia berjuang agar pelayanan tidak hanya di misa dan sakramen, tetapi di rumah sakit kecil, di jalan setapak desa, di kapela kampung, di ruang penghiburan mereka yang kehilangan.
-
Moto Imanuel membuatnya percaya bahwa pelayanan terindah adalah ketika imam mampu menjadi tangan Tuhan bagi mereka yang merasa ditinggal, terlupakan, atau terpinggirkan.
-
Ia hendak menjadi imam yang membawa iman kontekstual, menggabungkan warisan budaya lokal dengan iman universal, menghormati adat, merawat tradisi, sekaligus berani cocokkan iman dengan tantangan zaman.
Imanuel Mere, SVD. Mata Kehadiran di Tengah Dunia
RP Emanuel Tredoanus Mere, SVD adalah pribadi yang panggilannya dilahirkan dari akar desa, didewasakan oleh pendidikan religius dan akademik, diuji oleh kehilangan dan duka, dan sekarang diutus sebagai imam misionaris. Moto Imanuel bukan sekadar kata yang diucapkan dalam liturgi, melainkan nafas pelayanan, keyakinan bahwa Allah menyertai dalam setiap langkah, terutama langkah yang berat.
Di Provinsi SVD Timor, dalam desa-desa terpencil, rumah orang tua yang sederhana, di lintas budaya dan tantangan zaman, di sinilah panggilan Emanuel Mere, SVD diuji dan di sinilah ia berharap “mata yang melihat” menjadi kenyataan, melihat kasih Allah lewat luka manusia, melihat harapan di tengah penderitaan, dan menyaksikan Tuhan berjalan bersama umat. (AL/Irminus Deni)
