QRIS Antarnegara dan LENTERA: Wajah Peduli BI NTT bagi Pahlawan Devisa

Kupang, Atalomba.com – Tahun 2024, data resmi Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) mencatat bahwa Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mengirimkan remitansi sebesar Rp 57,3 miliar. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan keringat, air mata, dan pengorbanan ribuan anak-anak daerah yang merantau ke negeri orang. Namun, ironinya, uang sebanyak itu sering kali tidak benar-benar menjadi investasi masa depan. Banyak keluarga PMI mengaku bahwa kiriman remitansi habis untuk konsumsi sehari-hari, cicilan utang, bahkan terjerat utang.
Fenomena inilah yang membuat Bank Indonesia Perwakilan NTT (BI NTT) melangkah lebih jauh. Tidak hanya mengurus inflasi atau menjaga stabilitas rupiah, BI NTT menghadirkan program LENTERA (Literasi Keuangan Digital untuk Tenaga Migran Indonesia). Program ini dirancang untuk memberikan bekal literasi keuangan digital kepada PMI dan keluarganya. Tujuannya sederhana tapi penting, agar remitansi tidak sekadar lewat, tetapi menjadi terang yang menuntun masa depan.
Kegiatan LENTERA pertama kali digelar di Aula Rumah Jabatan Walikota Kupang, Rabu (1/10/2025). Seratus calon PMI berkumpul, membawa semangat sekaligus kegelisahan. Ada yang masih muda, baru pertama kali hendak berangkat, ada yang sudah berulang kali merantau, dan ada pula keluarga yang ingin memahami bagaimana cara mengelola remitansi dengan bijak.
Acara ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan. BP3MI Provinsi NTT menegaskan pentingnya jalur legal demi keselamatan PMI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membawakan materi tentang perencanaan keuangan keluarga. Walikota Kupang, melalui Kadis Transnaker Kabupaten Kupang, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk hadir bagi para pekerja migran.
Namun sorotan utama jelas tertuju kepada Bank Indonesia NTT sebagai penggagas. BI tampil membawa materi tentang sistem pembayaran digital, pemanfaatan QRIS antarnegara, serta perlindungan konsumen. Di tengah cepatnya perkembangan dunia digital, BI ingin memastikan PMI tidak tertinggal, tidak terjebak dalam jalur remitansi ilegal, dan mampu mengelola uang dengan cerdas.
Nama LENTERA dipilih bukan tanpa alasan. Dalam bahasa sederhana, lentera berarti cahaya kecil yang bisa menerangi kegelapan. Bagi PMI, literasi keuangan digital adalah lentera itu, cahaya kecil yang bisa menjadi penuntun di tengah dunia kerja migran yang penuh risiko.
LENTERA bukan sekadar seminar. Ia adalah gerakan. Melalui program ini, BI NTT membekali calon PMI dengan keterampilan praktis, bagaimana mengirim uang dengan aman, bagaimana memanfaatkan layanan perbankan digital, bagaimana membedakan jalur remitansi resmi dan ilegal, serta bagaimana melindungi diri dari penipuan keuangan.
Di tengah globalisasi, keuangan digital sudah menjadi nadi kehidupan. Jika PMI tidak dibekali literasi, mereka akan terus menjadi korban. LENTERA hadir sebagai jawaban, agar keringat PMI benar-benar sampai ke rumah, bukan hilang di jalan.
Salah satu inovasi terbesar yang diperkenalkan dalam kegiatan LENTERA adalah QRIS antarnegara. Selama ini, banyak PMI terbiasa mengirim uang melalui jalur tidak resmi, bahkan hanya menitipkan pada sesama pekerja yang pulang kampung. Cara itu berisiko besar, uang bisa hilang, terlambat sampai, atau dipotong biaya tidak jelas. Ada juga yang menggunakan jasa remitansi ilegal dengan biaya tinggi, sehingga nilai yang diterima keluarga jauh lebih kecil dari yang dikirimkan.
QRIS antarnegara hadir sebagai solusi. Melalui sistem ini, PMI cukup memindai kode QR untuk mengirim uang langsung ke rekening keluarga di tanah air. Biayanya murah, transaksinya cepat, dan yang paling penting, aman karena terhubung dengan sistem resmi Bank Indonesia.
Produk ini adalah bentuk nyata kepedulian BI. Dengan QRIS antarnegara, pekerja migran bisa mengirim uang kapan saja tanpa harus takut ditipu atau dipotong tidak jelas. Keluarga di NTT pun bisa menerima uang dengan mudah, bahkan langsung digunakan untuk transaksi digital di toko-toko lokal yang sudah menggunakan QRIS.
Bayangkan seorang PMI di Hong Kong atau Malaysia yang selesai bekerja, lalu hanya dengan ponsel dan aplikasi, ia bisa mengirim uang ke kampung di Flores atau Sumba. Dalam hitungan detik, keluarganya menerima kiriman itu dan langsung bisa membeli kebutuhan pokok di warung terdekat dengan QRIS. Inilah revolusi kecil yang bisa mengubah hidup keluarga PMI.
Kegiatan LENTERA tidak hanya diisi dengan materi teknis. Ada kisah nyata yang memberi semangat. Irminus Deni, peraih Hassan Wirayudha Award dan aktivis anti-human trafficking asal NTT, tampil membagikan pengalaman pendampingannya. Ia menceritakan kisah kontras antara dua PMI, satu yang pulang dengan tangan kosong setelah 10 tahun bekerja karena remitansinya habis untuk konsumsi, dan satu lagi yang pulang dengan kios sembako serta anak-anak yang bisa kuliah karena disiplin menabung dan cerdas mengelola uang. “Yang membedakan bukan gaji, tapi literasi,” tegasnya.
Lalu, Damaris Haba Bangngu, seorang pekerja migran sukses, berdiri di hadapan peserta. Dengan suara bergetar, ia bercerita tentang perjuangannya di luar negeri dan bagaimana kedisiplinan mengelola remitansi membuatnya bisa kembali dengan cerita keberhasilan. “PMI bisa sukses, asal tidak menyerah dan mau belajar,” katanya. Kisah Damaris menjadi bukti bahwa literasi keuangan digital dan disiplin mengelola remitansi bisa mengubah nasib.
Apresiasi patut diberikan kepada Bank Indonesia Perwakilan NTT. Selama ini BI sering dipandang hanya mengurus angka-angka makro, inflasi, stabilitas rupiah, kebijakan moneter. Namun melalui LENTERA, BI menunjukkan wajah lain, wajah yang peduli kepada rakyat kecil, khususnya PMI yang seringkali dipinggirkan.
BI hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pendidik. Materi yang dibawakan membumi, mudah dipahami, dan langsung menyentuh kebutuhan PMI. Kehadiran BI di tengah-tengah masyarakat dan pekerja migran di Kupang adalah bukti bahwa negara benar-benar hadir untuk mereka, bukan hanya saat menghitung devisa.
Meski LENTERA di Kupang patut diapresiasi, Atalomba.com menegaskan bahwa cahaya ini jangan berhenti di ibu kota provinsi. NTT terlalu luas untuk hanya disinari dari satu titik. Kantong PMI tersebar dari Flores hingga Sumba, dari Timor hingga Alor.
LENTERA harus menyala di setiap kabupaten. PMI dan keluarganya di seluruh pelosok NTT wajib tahu dan paham tentang literasi keuangan digital dan QRIS antarnegara. Tanpa itu, remitansi puluhan miliar rupiah akan terus habis tanpa bekas, meninggalkan cerita pahit yang sama dari tahun ke tahun.
Karena itu, BI NTT diharapkan memperluas kolaborasi. Bukan hanya dengan pemerintah daerah dan BP3MI, tetapi juga dengan sekolah, komunitas lokal, dan gereja-gereja. Masyarakat desa lebih percaya pada suara pastor, guru, atau tokoh adat daripada brosur perbankan. Bayangkan jika setiap misa minggu ada penyuluhan singkat tentang cara kirim uang lewat QRIS antarnegara. Bayangkan jika anak-anak sekolah diajarkan menghargai remitansi orang tua mereka. Inilah cara agar literasi benar-benar menembus akar masyarakat.
Remitansi Rp 57,3 miliar dari PMI asal NTT pada tahun 2024 adalah angka yang membanggakan. Namun, tanpa literasi keuangan digital, angka itu bisa habis tanpa bekas. LENTERA hadir sebagai jawaban, agar keringat PMI tidak hilang di jalan, tapi sampai ke rumah dalam bentuk tabungan, investasi, dan kesejahteraan.
Dengan QRIS antarnegara, BI NTT telah memberikan jalan baru bagi PMI. Tidak ada lagi alasan untuk menitip uang lewat jalur ilegal. Tidak ada lagi alasan bagi keluarga untuk terjebak utang karena menunggu kiriman yang tak kunjung sampai. QRIS menjembatani PMI dengan keluarganya, menjadikan setiap rupiah aman, cepat, dan bermanfaat.
Kupang sudah menyalakan LENTERA. Kini tugas kita memastikan cahaya itu menyebar ke seluruh NTT. Dengan dukungan semua pihak, PMI tidak lagi pulang dengan tangan kosong, melainkan dengan kemenangan. Dan dalam langkah besar ini, Bank Indonesia Perwakilan NTT layak dipuji sebagai lembaga yang benar-benar peduli dan hadir nyata bagi pahlawan devisa dan keluarga mereka.
Atalomba.com – Laporan Khusus dari Kupang
