Bulan Kitab Suci 2025: Siswa SMP Katolik Setya Budi, Keo Tangah Kabupaten Nagekeo. Hidupkan Relasi dengan Allah Lewat Sabda Tuhan
“Menghadirkan Sabda di ruang kelas, menjadikan Kitab Suci sumber inspirasi pembaruan relasi bagi remaja.”

Maunori, Atalomba.com – Aula sederhana SMP Katolik Setya terasa berbeda. Dari balik jendela, cahaya matahari condong ke barat, menyinari wajah-wajah antusias para siswa yang sudah bersiap mengikuti lomba. Suara Kitab Suci yang dibacakan, nyanyian mazmur yang merdu, serta sorak dukungan antar kelas menjadikan suasana hangat dan penuh makna.
Kegiatan ini bukan sekadar acara perlombaan biasa. SMP Katolik Setya Budi sedang merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, sebuah momentum Gereja Katolik Indonesia untuk mengingatkan umat akan pentingnya Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Seperti sekolah Katolik lainnya di seluruh Indonesia, SMP Katolik Setya Budi menanggapi ajakan Gereja dengan menggelar katakese remaja, lomba membaca Kitab Suci, lomba menyanyikan mazmur, dan kuis Kitab Suci antar kelas.
Setiap tahun, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama Lembaga Biblika Indonesia (LBI) menetapkan tema BKSN. Tahun 2025 ini, tema yang diangkat adalah: “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.” Tema ini diilhami dari Kitab Zakharia dan Maleakhi yang menekankan panggilan umat untuk bertobat dan memperbarui diri. Dalam Zakharia 1:3, Tuhan bersabda: “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku pun akan kembali kepadamu.”
Tema ini sangat relevan dengan kehidupan zaman sekarang, termasuk bagi anak-anak SMP. Relasi menjadi kata kunci. Relasi dengan Allah, relasi dengan sesama, relasi dengan keluarga, bahkan relasi dengan diri sendiri dan lingkungan. Dalam era gawai dan media sosial, anak-anak mudah sekali hanyut dalam dunia digital. Kadang mereka lebih sibuk dengan layar HP ketimbang membuka Kitab Suci. Inilah yang mau diingatkan, hanya dengan kembali kepada Allah, relasi yang rusak bisa diperbarui. Allah adalah sumber pembaruan itu. Tanpa Allah, relasi kita kering dan rapuh. Dengan Allah, setiap relasi bisa dipulihkan, disembuhkan, bahkan dihidupkan kembali.
Dalam kegiatan katakese, para guru mengingatkan siswa bahwa relasi pertama yang perlu diperbarui adalah relasi dengan Allah. Relasi ini tidak dibangun dengan teori, tetapi lewat doa, Ekaristi, dan membaca Kitab Suci.
Anak-anak SMP Katolik Setya Budi dilatih untuk membaca Kitab Suci dengan suara jelas dan penuh penghayatan. Bukan sekadar membaca teks, tetapi mendengarkan Sabda Allah yang hidup. Dengan begitu, mereka belajar menjadikan Kitab Suci sebagai sumber inspirasi, bukan hanya sebagai buku pelajaran.
KWI dalam pedoman BKSN 2025 menekankan, Sabda Allah adalah cermin hidup. Ketika dibaca dengan hati terbuka, Sabda itu membimbing langkah, mengoreksi kesalahan, dan memberi arah baru. Anak-anak SMP diharapkan tumbuh dengan kebiasaan membaca Kitab Suci agar mereka tidak mudah hanyut dalam arus negatif zaman.

Tema BKSN 2025 juga mengingatkan pentingnya memperbarui relasi dengan sesama. Di SMP Katolik Setya Budi, semangat itu tampak nyata. Lomba antar kelas bukan hanya soal siapa juara, tetapi juga tentang sportivitas, saling mendukung, dan menghargai kemampuan teman lain.
Di usia remaja, konflik kecil sering terjadi, entah soal persaingan nilai, pertemanan, atau hal sepele seperti ejek-mengejek. Melalui lomba ini, siswa diajak untuk melihat teman bukan sebagai lawan, tetapi sebagai saudara. Relasi yang rusak bisa diperbarui dengan sikap rendah hati, mau mengakui kesalahan, dan saling mengampuni.
Guru-guru menekankan bahwa Kitab Suci bukan hanya mengajarkan doa, tetapi juga kasih. Maka, kasih itu harus diwujudkan di sekolah, di kelas, di lapangan, bahkan dalam persahabatan sehari-hari.
Perayaan BKSN juga berdampak ke rumah. Orangtua dilibatkan untuk membantu anak-anak mempersiapkan perlombaan. Ada yang membantu melatih membaca Kitab Suci, ada yang mendampingi latihan menyanyi mazmur, ada pula yang memastikan anak-anak belajar materi kuis Kitab Suci.
Keterlibatan orangtua ini menjadi wujud nyata pembaruan relasi keluarga. Sabda Allah tidak berhenti di sekolah, tetapi masuk ke ruang makan, ruang belajar, dan doa malam keluarga. Ibu Imelda Kepala SMP Katolik Setya Budi mengakui, inilah nilai tambah yang membuat BKSN bukan sekadar kegiatan di sekolah, tetapi juga gerakan iman di rumah tangga.
BKSN 2025 juga menyentuh relasi dengan diri sendiri. Anak-anak SMP sedang berada pada masa pencarian jati diri. Mereka belajar mengenal kelebihan dan kelemahan, belajar menerima diri, serta belajar berani berubah.
Katakese dan lomba ini mengajarkan mereka untuk percaya diri. Membaca Kitab Suci di depan banyak orang melatih keberanian. Menyanyikan mazmur melatih penguasaan diri. Mengikuti kuis melatih kejujuran dan ketekunan. Semua itu membentuk karakter remaja yang kuat, rendah hati, dan terbuka terhadap pembaruan.
Tema “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” juga bisa dimaknai sebagai ajakan untuk memperbarui relasi dengan alam ciptaan. Anak-anak SMP Katolik Setya Budi diajak untuk sadar bahwa menjaga kebersihan sekolah, tidak membuang sampah sembarangan, dan peduli pada lingkungan adalah bagian dari iman. Sabda Tuhan mengingatkan bahwa bumi ini adalah titipan, bukan milik pribadi.

Kepala Sekolah SMP Katolik Setya Budi, Ibu Imelda Mariana Mbee, menegaskan bahwa tema BKSN tahun ini sangat menyentuh kehidupan anak-anak SMP. “Tema ‘Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup’ sangat relevan bagi anak-anak kita. Mereka sedang bertumbuh, belajar membangun relasi dengan teman sebaya, guru, orangtua, bahkan dengan diri mereka sendiri. Melalui BKSN, kami mau menanamkan bahwa hanya dengan kembali kepada Tuhan relasi itu bisa diperbarui. Kitab Suci menjadi pegangan utama mereka di tengah tantangan zaman digital,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat siswa dan orangtua menjadi kekuatan utama terselenggaranya acara ini. “Meskipun sarana kami terbatas, anak-anak tetap antusias, guru-guru bekerja sama, dan orangtua ikut mendukung. Itu membuktikan bahwa Sabda Tuhan mampu menyatukan banyak pihak. Harapan saya, anak-anak menjadikan membaca Kitab Suci sebagai rutinitas, bukan hanya untuk lomba, tetapi juga untuk menguatkan iman sehari-hari,” tutup ibu Imelda
Antusiasme siswa begitu tinggi. Mereka berlatih sungguh-sungguh, berkompetisi dengan semangat, dan tetap menjaga persaudaraan. Guru-guru bekerja sama menyiapkan acara, meskipun sarana terbatas. Orangtua ikut mendukung di rumah. Semua ini menunjukkan bahwa Sabda Tuhan mampu menyatukan banyak pihak dalam semangat kebersamaan.
Akhirnya, perayaan BKSN 2025 di SMP Katolik Setya Budi menjadi bukti bahwa Sabda Tuhan sungguh hidup. Anak-anak SMP, di tengah kesibukan belajar dan godaan teknologi, masih bisa diajak untuk mencintai Kitab Suci. Mereka belajar bahwa Allah adalah sumber pembaruan, dan pembaruan itu dimulai dari relasi dengan Tuhan, sesama, keluarga, diri sendiri, dan alam.
BKSN bukan sekadar peringatan tahunan. Di SMP Katolik Setya Budi, BKSN 2025 adalah proses nyata membentuk generasi yang beriman, berkarakter, dan penuh kasih. Dari aula sederhana sekolah ini, gema Sabda Tuhan terus bergema, menegaskan bahwa di tengah dunia yang terus berubah, hanya Allah-lah sumber pembaruan sejati. (AL/Irminus Deni)
