Dari Maunori untuk Kevikepan Mbay: Kris Kese Ungkap Terima Kasih dan Permohonan Maaf

Maunori, Atalomba.com – “Spes Non Confundit, Harapan tidak mengecewakan.” Kalimat itu berulang kali diucapkan Kristoforus Kese, Ketua OMK Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, ketika ditemui Atalomba.com usai seluruh rangkaian Mbay Youth Day (MYD) 2025 selesai. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Bukan karena lelah semata, tetapi karena rasa syukur yang begitu dalam atas sebuah perjalanan panjang yang akhirnya tiba di garis akhir.
MYD 2025 memang bukan kegiatan biasa. Ini adalah MYD perdana sejak Kevikepan Mbay ditetapkan sebagai kevikepan sendiri. Maka, menjadi tuan rumah pertama jelas bukan perkara ringan bagi OMK Maunori. Ada beban sejarah, ada rasa takut gagal, tetapi ada juga nyala harapan yang terus memandu langkah mereka.

“Sebagai tuan rumah perdana, kami tahu ini adalah tanggung jawab besar. Tapi kami percaya Tuhan bekerja dengan caranya. Dari awal persiapan, kami hanya berpegang pada keyakinan, harapan tidak mengecewakan,” kata Kristoforus mengawali refleksinya.
Sejak kabar bahwa Maunori ditetapkan sebagai tuan rumah MYD 2025, orang muda di paroki ini langsung menyusun tekad “Jaga Waka Nua” menjaga martabat kampung halaman.
Semboyan itu bukan sekadar slogan. Bagi OMK Maunori, jaga waka nua adalah bentuk kesadaran bahwa mereka bukan hanya mengurus acara, tetapi sedang mempertaruhkan martabat keluarga, paroki, bahkan seluruh umat Paroki Maunori.
“Dalam setiap rapat, kami selalu mengulang kata-kata orang tua, Ngara tau ma’e taku, ngara taku ma’e tau – kalau buat jangan takut, kalau takut jangan buat. Itu yang membakar semangat kami. Dari Udu Ngera-Nuasele sampai Eko Bengga, semua OMK bergerak dengan hati,” ujar Kristoforus.
Kalimat itu menjadi mantra sekaligus energi. Para orang muda bekerja tanpa pamrih, membersihkan lokasi, menyiapkan konsumsi, mengatur penginapan, hingga menyiapkan segala hal teknis. Malam demi malam mereka habiskan untuk rapat dan kerja bakti. Semua dengan satu tujuan, memastikan MYD perdana berjalan sukses.
Dalam refleksinya, Kris Kese menyampaikan ucapan syukur yang panjang. Baginya, sukses MYD 2025 bukan hasil kerja satu-dua orang, melainkan hasil gotong royong yang melibatkan begitu banyak pihak.
“Atas nama seluruh Orang Muda Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, kami sampaikan syukur kepada Tuhan untuk semua berkat atas kesuksesan kegiatan MYD di Maunori,” katanya.
Kris kemudian menyebut satu per satu pihak yang menurutnya layak mendapat penghargaan. Mulai dari para imam, panitia, umat, pemerintah, hingga saudara-saudari dari agama lain.
Ia berterima kasih kepada Romo Vikep Mbay, RD. Aster Lado, yang sejak awal memberikan dukungan penuh. Juga kepada RD. Yohanes Antonius Songka, Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Mbay, yang bersama tim SC merancang konsep kegiatan dengan begitu matang.
Tak lupa, ia menyebut para imam di paroki, RD. Emanuel Inosensius Dura, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, RD. Karolus Yohanes Lali Madur, moderator OMK, dan Frater Edwin Reda. Ketiganya, menurut Kristoforus, adalah pendamping yang setia, yang selalu hadir ketika orang muda mulai goyah atau lelah.
“Terima kasih juga kepada 19 pastor paroki se-Kevikepan Mbay, kepada para moderator, serta semua urusan OMK yang datang. Kehadiran mereka membuat kami merasa tidak sendiri,” katanya.
Ucapan syukur itu berlanjut kepada panitia OC (panitia lokal), Dewan Pastoral Paroki, dan seluruh umat se-Paroki Maunori. Mereka membuka rumah sebagai penginapan, memasak untuk ribuan peserta, dan mengorbankan waktu serta tenaga demi suksesnya MYD.
Kristoforus juga menyebut Pemerintah Kabupaten Nagekeo dan DPRD yang ikut mendukung. Tim keamanan, kepolisian, TNI, tenaga medis, para donatur, hingga sekolah-sekolah di Maunori yang ikut ambil bagian.
Ia bahkan secara khusus menyampaikan terima kasih kepada umat Muslim Maunori yang menunjukkan semangat toleransi luar biasa. “Ini bukti bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan. Kami benar-benar merasakan dukungan lintas iman,” ujarnya.
Dan tentu saja, ada terima kasih yang sangat istimewa, untuk Tiwo Liko Squad, OMK tuan rumah yang bekerja siang malam. Mereka, kata Kris, adalah tulang punggung MYD 2025.

Namun, di balik rasa syukur itu, Kris tidak menutup mata terhadap kekurangan. “Kami sadar kegiatan ini masih jauh dari sempurna. Kami manusia, pasti ada salah kata, salah tindakan, atau pelayanan yang kurang maksimal. Karena itu, kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada semua peserta dan semua pihak yang terlibat,” katanya dengan tulus.
Ia mengutip pepatah lokal, Mese ne’e dera, wa ne’e ae – tidak ada yang sempurna. “Biarlah ini menjadi bahan evaluasi kami untuk lebih baik ke depan,” tambahnya.
Permintaan maaf itu lahir bukan dari rasa rendah diri, tetapi dari sikap kerendahan hati. Kristoforus tahu, menjadi tuan rumah perdana MYD berarti mereka sedang belajar. Dan belajar berarti siap menerima kritik.
MYD 2025 di Maunori memang berlangsung meriah. Namun, di tengah sukacita itu, ada kabar duka yang membekas dalam hati OMK.
Rudolfus Oktavianus Ruma, S.Pd., salah satu panitia SC sekaligus Ketua OMK Lingkungan St. Paulus Ngera, berpulang ke rumah Bapa di surga. Kepergiannya mengejutkan dan meninggalkan luka mendalam.
“Di tengah sukacita MYD, kami kehilangan saudara terbaik. Kami turut berduka cita. Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik baginya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan,” ujar Kristoforus Kese dengan suara berat.
Ia juga berharap agar proses penyelidikan kasus kematian Rudolfus dilakukan secara profesional dan transparan. “Kami mendukung Kapolres Nagekeo agar semua jelas dan tuntas,” tambahnya.
Bagi Kristoforus dan OMK Maunori, Rudolfus bukan hanya panitia, tetapi bagian dari keluarga besar yang telah memberikan tenaga dan cintanya bagi MYD. Kehilangan itu justru menjadi pengingat, bahwa semua kerja keras mereka adalah bentuk persembahan iman yang tak boleh sia-sia.
Meski lelah, meski penuh suka-duka, Kris tetap menegaskan satu hal, MYD 2025 telah membuktikan bahwa harapan tidak pernah padam.
“Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada ranting yang tak patah. Tapi di balik semua itu, Tuhan menjawab harapan kami dengan caranya. MYD di Maunori adalah bukti bahwa orang muda mampu, orang muda bisa, dan orang muda siap menjadi peziarah pengharapan,” tegasnya.
Ia berharap, semangat itu tidak berhenti di Maunori. OMK di setiap paroki, di setiap KUB, harus terus membawa pulang roh MYD, melayani dengan hati, menjaga persaudaraan, dan merawat iman dalam kehidupan sehari-hari.
MYD 2025 memang sudah selesai. Para peserta sudah kembali ke paroki masing-masing. Namun, gema doa, nyanyian, dan tawa yang memenuhi jalan-jalan Maunori masih terasa.
Bagi Kristoforus Kese dan OMK Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, pengalaman ini akan dikenang seumur hidup. Mereka bukan hanya tuan rumah, tetapi juga saksi bahwa harapan bisa diwujudkan ketika semua orang berjalan bersama.
“Sampai jumpa di Aeramo 2028. Dari Maunori, kami sudah menyalakan api harapan. Sekarang, mari kita terus menjaga nyala itu agar tidak pernah padam,” pungkas Kris Kese.
MYD perdana di Kevikepan Mbay adalah kisah tentang harapan, kerja keras, persaudaraan, dan iman. Dari semboyan jaga waka nua hingga kerendahan hati untuk meminta maaf, dari ucapan syukur yang panjang hingga air mata duka karena kehilangan seorang saudara, semuanya menyatu menjadi satu kisah, kisah orang muda Katolik yang sungguh menjadi peziarah harapan. Dan seperti yang diyakini Kristoforus Kese: “Spes Non Confundit – Harapan tidak mengecewakan.” (AL/Irminus Deni)
