Pater Marselinus Kabut, OFM Terima Estafet MYD 2028: Ribuan OMK Tutup Ziarah Pengharapan di Maunori

Maunori, Atalomba.com – Minggu, 7 September 2025
Ribuan Orang Muda Katolik (OMK) se-Kevikepan Mbay menutup perhelatan akbar Mbay Youth Day (MYD) 2025 di Paroki Hati Kudus Yesus Maunori. Sejak 3 September lalu, Maunori dipenuhi lautan peziarah muda dengan seragam bertuliskan “Peziarah Pengharapan”, simbol komitmen dan semangat kebersamaan yang mengikat mereka selama lima hari penuh.
Minggu pagi (7/9), suasana menjadi khidmat dan penuh haru ketika Perayaan Ekaristi Penutupan dipimpin oleh Vikaris Episkopal (Vikep) Mbay, RD. Asterius Lado. Dalam perayaan itu, bukan hanya perjalanan MYD 2025 yang dirangkum, tetapi juga tongkat estafet sejarah resmi diteruskan ke Paroki Kerahiman Ilahi Aeramo, tuan rumah MYD 2028.
Dalam khotbahnya, RD. Asterius Lado menegaskan bahwa iman orang muda tidak boleh berhenti pada identitas semata.
“Jangan biarkan rohani hanya menjadi label di dada. Hidup orang muda harus menjadi kesaksian nyata. OMK dipanggil menjadi peziarah pengharapan yang menyala dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Ia menyebut OMK sebagai jantung Gereja yang bukan hanya hadir meramaikan acara besar, tetapi juga dituntut terlibat aktif dalam dinamika sosial, politik, dan ekologis.
“Kalian diutus, bukan sekadar pulang. Dari Maunori, bawalah roh peziarah itu. Jadilah terang di paroki masing-masing. Jadilah suara bagi yang kecil, dan penjaga bumi yang kita diami bersama,” tambahnya dengan lantang.
Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Mbay, RD. Yanto Songka, dalam sambutanya menyampaikan.
“Mbay Youth Day bukan sekadar agenda tiga tahunan. Ini adalah tonggak perjalanan iman OMK Kevikepan Mbay. MYD melatih kita berjalan bersama, merayakan iman bersama, dan meneguhkan persaudaraan lintas paroki,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa MYD 2025 menjadi bukti bahwa OMK Kevikepan Mbay bisa bersatu, kreatif, dan solid.
“MYD adalah ruang untuk menyadarkan kita semua bahwa iman orang muda harus menjelma dalam solidaritas nyata. Saya bangga melihat ribuan orang muda hadir, berdoa, bernyanyi, dan bersaudara di sini. Dari Maunori kita belajar, Gereja tetap hidup karena orang mudanya hidup,” tuturnya.
RD. Yanto juga memberikan pesan khusus kepada Aeramo sebagai tuan rumah berikutnya.
“Aeramo mendapat mandat bukan karena kebetulan, tetapi karena permenungan bersama. Saya percaya, MYD 2028 akan lebih besar, lebih kuat, dan semakin menegaskan OMK sebagai peziarah pengharapan bagi Kevikepan Mbay dan Gereja universal.”
Puncak acara penutupan terjadi ketika RD. Yanto Songka menyerahkan bendera Vatikan kepada Pater Marselinus Kabut, OFM, Pastor Paroki Kerahiman Ilahi Aeramo. Bagi Paroki Aeramo, momen ini bukan sekadar simbol, melainkan mandat besar. Pater Marselinus Kabut, OFM menyambut dengan rasa syukur dan haru.
“Kami merasa bangga menerima kepercayaan ini. Terima kasih kepada seluruh pengurus OMK Kevikepan Mbay yang telah melalui permenungan mendalam dan akhirnya memilih Aeramo. Momentum MYD 2028 harus memperkuat keberadaan Gereja di pantura, mencetak kader-kader muda yang tangguh, tanggap, dan terlibat dalam kehidupan menggereja, sosial-politik, serta ekologi,” ucapnya.
Pater Marselinus juga mengaitkan MYD dengan konteks kebangsaan.
“Menjelang pesta demokrasi 2029, MYD menjadi kesempatan bagi orang muda untuk berkontemplasi, menentukan sikap yang benar dan tepat, serta memilih pemimpin yang memperhatikan kemaslahatan publik,” tambahnya.
Ketua Panitia Organizing Committee (OC) MYD 2025, Theodorus Mbeko dalam sambutannya, menegaskan bahwa keberhasilan MYD di Maunori adalah buah dari kerja sama banyak pihak.
“Sejak awal, kami hanya punya semangat dan tekad. Tapi Tuhan menyempurnakan lewat gotong royong umat, dukungan paroki, dan keterlibatan OMK. Dari logistik, akomodasi, hingga liturgi, semuanya berjalan karena ada rasa memiliki,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada umat Maunori.
“Rumah-rumah dibuka, dapur-dapur berasap untuk memberi makan OMK, dan jalan-jalan desa dipenuhi wajah ramah. Inilah wajah Gereja, saling melayani dengan cinta.”
Suasana emosional tampak ketika ribuan OMK menyampaikan kesan.
-
Maria Jelita Wonga (OMK St. Mikael Mundemi):
“MYD mengajarkan bahwa rohani bukan hanya identitas. Saya belajar untuk benar-benar jadi terang dan garam di paroki.”
-
Yohanes Meze (OMK Aeramo):
“Keramahan umat Maunori luar biasa. Kami disambut seperti keluarga. Ini pengalaman iman sekaligus pengalaman persaudaraan yang sulit dilupakan.”
-
Verdiana Wula Dhema (OMK St. Yosef Raja):
“MYD ini bukan pesta sesaat. Ini panggilan agar pelayanan kepemudaan berkesinambungan.”
-
Marissa Siara Wea (OMK Wakaseko):
“Kesuksesan MYD karena gotong royong umat Maunori. Dari penyambutan, akomodasi, hingga misa penutupan, semuanya penuh cinta.”
Selama lima hari, Maunori berubah menjadi “kota kecil” orang muda Katolik. Rumah-rumah umat terbuka lebar, jalanan desa dipadati seragam bertuliskan “Peziarah Pengharapan”, dan doa-doa bersama bergema dari kapela hingga lapangan.
Umat Maunori sendiri merasa bangga. Seorang umat tuan rumah menyampaikan,
“Kami senang bisa melayani. Walau sederhana, kami berikan yang terbaik. MYD bukan hanya milik OMK, tetapi milik seluruh Gereja.”
MYD 2025 ini yang pertama sejak Kevikepan Mbay berdiri. Estafet ke Aeramo menandai perluasan semangat ke wilayah pantura. Tema “Peziarah Pengharapan” pun menjadi komitmen kolektif, OMK Kevikepan Mbay adalah motor Gereja, penjaga lingkungan, dan suara profetis masyarakat.
Ketika bendera Vatikan dikibarkan, ribuan pasang mata menyaksikan simbol harapan itu terbang tinggi. Dari Maunori menuju Aeramo, dari doa pagi hingga pelukan haru perpisahan, MYD 2025 menulis sejarah baru. OMK Kevikepan Mbay pulang dengan satu pesan, mereka adalah peziarah iman, penjaga harapan, dan penulis masa depan Gereja yang tak pernah padam. AL/Irminus Deni)
