Tiwo Liko: Dari Paroki Maunori Untuk Indonesia “Edisi Khusus Mbay Youth Day 2025”
Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong!

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Kalau orang Nagekeo bilang “Tiwo Liko”, jangan buru-buru googling, bosqu. Itu bukan nama kue baru, bukan juga nama boyband asal Mau. “Tiwo Liko” adalah satu ungkapan lokal yang sederhana tapi maknanya dalam sekali. yang Artinya, berkumpul bersama.
Biasanya, orang kampung di Nagekeo pakai “Tiwo Liko” untuk acara-acara adat, entah itu nikah, antar belis, atau menyambut tamu. Intinya, kalau ada hajatan, semua orang turun tangan. Ada yang siapkan nasi, ada yang bakar babi, ada yang duduk cerita sambil kipas api. Yang jelas, tidak ada yang ditinggalkan sendirian.
Nah, keren sekali karena kali ini orang muda Katolik Paroki Maunori kreatif, mereka ambil kata “Tiwo Liko” lalu cetak besar-besar di baju, persiapan menyambut 1500 orang muda Katolik se-Kevikepan Mbay dalam acara Mbay Youth Day 2025, 3–7 September nanti. Mantap, bukan?
Dari Adat ke Iman
“Tiwo Liko” ini bukan cuma tradisi adat, tapi juga punya nilai iman yang dalam. Injil Matius 18:20 menyatakan, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Nah, orang Nagekeo bilangnya lebih singkat, lebih lokal, yaitu “Tiwo Liko.”
Artinya, kalau kita jalan sendiri-sendiri, kita bisa cepat capek, gampang mengeluh. Tapi kalau kita jalan sama-sama, berat jadi ringan, yang susah jadi gampang. Bukankah ini juga inti dari motto tahbisan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis (Peliharalah kasih persaudaraan). Jadi jelas, Tiwo Liko itu Injil yang lahir dari tanah sendiri.
Orang Muda dan Lingkungan, Semua Bergerak
Orang muda Paroki Maunori memberikan contoh yang baik. Mereka tidak sekadar pasang spanduk atau umbul-umbul, tapi menghidupi semangat kebersamaan. Bayangkan, 1500 orang muda se-Kevikepan Mbay akan kumpul, bernyanyi, doa, misa, bakti sosial, sharing iman. Kalau tidak ada semangat “Tiwo Liko,” acara bisa hampa dan tidak ada makna.
Dan hebatnya lagi, “Tiwo Liko” bukan hanya terjadi di lingkup panitia atau OMK. Di kampung-kampung, lingkungan-lingkungan se-Paroki Maunori sudah bergerak. Mereka juga “Tiwo Liko” untuk menyiapkan diri menyambut tamu dari luar paroki. Mulai dari menyiapkan rumah untuk tempat tinggal, dapur umum untuk makanan, sampai sambutan adat sederhana di lingkungan masing-masing.
Karena sejak tanggal 3–7 September nanti, para tamu OMK akan hidup bersama umat di lingkungan-lingkungan. Makan bersama, tidur bersama, doa bersama. Semua umat menyatu dalam satu roh, “Tiwo Liko”. Dan inilah keistimewaannya, kalau sudah Tiwo Liko, semuanya pasti siap. Berapapun tamu yang datang, sesulit apapun pekerjaan, pasti beres. Kenapa? Karena semua orang bekerja, tidak ada yang jadi penonton. Semua punya peran, semua jalankan tugasnya masing-masing. Yang masak sibuk di dapur, yang terampil urus dekorasi, yang kuat angkat kursi, yang bisa bicara siapkan sambutan. Semua bergerak, semua berkontribusi. Itulah keindahan Tiwo Liko, semua orang jadi bagian dari cerita, tidak ada yang hanya menonton.
Pesan untuk Kita Semua
Kalau orang muda bisa menghidupi “Tiwo Liko,” kalau lingkungan-lingkungan bisa bekerja sama menyambut tamu, kenapa orang tua, umat paroki, bahkan pejabat tidak bisa? Di tengah dunia yang semakin individualis, di mana orang sibuk dengan HP masing-masing, orang muda Nagekeo kasih tamparan manis, hidup itu bukan tentang aku, tapi tentang kita.
Bayangkan kalau bangsa ini juga punya semangat “Tiwo Liko”:
-
Tidak ada lagi korupsi karena semua jaga sama-sama.
-
Tidak ada lagi konflik karena semua duduk sama-sama.
-
Tidak ada lagi orang lapar karena semua makan sama-sama.
Indah bukan? Tapi jangan cuma bayangkan. Mulai dari rumah, mulai dari lingkungan, mulai dari Gereja.
Dari Paroki Maunori untuk Indonesia
Mbay Youth Day 2025 dengan roh “Tiwo Liko” adalah pesan dari Nagekeo untuk Indonesia bahkan dunia, persaudaraan adalah kekuatan. Tidak ada yang bisa mengalahkan orang-orang yang mau berjalan bersama. Kalau NTT mau maju, Nagekeo mau berkembang, Gereja mau bertumbuh, tidak bisa dengan ego sendiri. Harus dengan Tiwo Liko, persatuan, kebersamaan, dan kasih persaudaraan.
Penutup
Mari kita belajar dari orang muda Paroki Maunori. Mari kita belajar dari lingkungan-lingkungan yang sudah bersatu menyiapkan penyambutan. Mari kita dukung orang muda se-Kevikepan Mbay yang akan berkumpul 3–7 September nanti. Karena ketika mereka berkumpul, bernyanyi, berdoa, dan bersukacita, mereka sedang mengajarkan kepada kita, hidup ini hanya indah kalau kita jalani bersama.
Itulah makna “Tiwo Liko.”
Itulah pesan Mbay Youth Day 2025, Dari Paroki Maunori.
Itulah Injil dalam bahasa Nagekeo.
Senggol dong!
Karena hidup sendiri-sendiri itu hambar, tapi kalau kita “Tiwo Liko”—ah, rasanya dunia ini bisa kita ubah bersama.
