MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUPANG, KKN DI DESA WITUROMBAUA: MENGUKIR KESAN DI TANAH PENGHARAPAN

Witurombaua, Nagekeo, 6 Agustus 2025 Atalomba.com – Sejak 29 Juli 2025, sebanyak 24 mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Kupang menyatu dalam denyut kehidupan masyarakat Desa Witurombaua, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Mereka datang dari berbagai jurusan, membawa semangat perubahan, dan selama sebulan penuh terlibat dalam kegiatan pengabdian nyata kepada masyarakat, dengan hati yang tulus dan jiwa yang bersahaja.
Di bawah koordinasi, Rahmat Leki, para mahasiswa ini tidak datang sebagai tamu. Mereka menyapa warga dengan kerja dan senyum, menjalin relasi dengan pemerintah desa, kader kesehatan, ibu-ibu PKK, guru, tokoh adat, dan para lansia. Kehadiran mereka terasa seperti angin segar yang membangkitkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selama masa KKN, mahasiswa menginisiasi berbagai kegiatan, antara lain pembersihan lingkungan kampung dalam rangka menyongsong HUT Kemerdekaan RI ke-80, sosialisasi pencegahan stunting, serta senam sehat bersama para lansia yang dilaksanakan secara rutin setiap pagi di halaman balai desa. Tak hanya itu, mereka juga menyelenggarakan lomba 17-an, menghadirkan keceriaan dan semangat kebangsaan bagi anak-anak dan warga desa.
Kegiatan edukatif menjadi bagian penting dalam program ini. Di dua sekolah dasar yakni SDK Romba dan SDN Mauarah, mahasiswa mengadakan kelas tambahan dan edukasi kreatif bagi anak-anak, memperkenalkan pentingnya hidup sehat, mencintai lingkungan, dan rajin belajar. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap sesi, membentuk ikatan emosional yang hangat dengan para mahasiswa.
Tidak hanya menyentuh anak-anak, para mahasiswa juga terlibat langsung dalam kegiatan pendataan dan edukasi tentang stunting, berkolaborasi dengan kader-kader kesehatan desa. Mereka mendampingi ibu-ibu dalam kegiatan posyandu, melakukan pemetaan kondisi gizi balita, dan memberikan penyuluhan sederhana tentang pola makan sehat. Kerja keras mereka menjadi penopang semangat bagi para ibu muda yang selama ini bekerja dalam senyap untuk mencegah generasi gagal tumbuh.

Kepala Desa Witurombaua, Laurensius Paji, dalam sebuah acara penerimaan sederhana yang penuh haru, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam.
“Kami, pemerintah dan masyarakat Desa Witurombaua, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Kupang atas kepercayaan dan pengabdian mahasiswa di desa ini. Satu bulan memang singkat, tapi jejak yang kalian tinggalkan akan menjadi cerita baik untuk anak cucu kami,” ujar Laurensius dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Sekretaris Desa Witurombaua, Zakarias Ndiwa, menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu tugas-tugas pelayanan masyarakat yang selama ini menjadi beban berat bagi perangkat desa.
“Mereka bukan hanya belajar dari masyarakat, tapi juga membantu kami. Mereka membantu mendata, menyosialisasikan pentingnya gizi, dan ikut turun langsung membersihkan lingkungan. Mereka bekerja, bukan hanya datang untuk foto-foto. Ini yang membuat kami bangga dan merasa benar-benar dibantu,” kata Zakarias penuh semangat.
Zakarias pun berharap kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Kupang dan Desa Witurombaua dapat terus berlanjut di masa depan. Ia membayangkan adanya program lanjutan berupa riset lapangan, pelatihan digitalisasi administrasi desa, bahkan pembinaan kewirausahaan bagi pemuda dan ibu rumah tangga.
Seiring waktu yang berjalan, hari-hari mahasiswa KKN di desa ini mulai sampai pada penghujungnya. Tawa anak-anak, peluh di halaman senam, canda saat lomba 17-an, dan bincang-bincang hangat di beranda rumah warga akan menjadi kenangan yang tak mudah dilupakan. Warga pun, dalam diam yang penuh makna, merasakan kehilangan perlahan saat para mahasiswa mulai mengemas barang.
KKN ini bukan sekadar program akademik. Ia menjadi jembatan antara pengetahuan dan pelayanan, antara kampus dan kampung, antara harapan dan kenyataan. Dalam kisah yang sederhana di pelosok Nagekeo ini, mahasiswa belajar menjadi manusia seutuhnya, dan masyarakat belajar bahwa perubahan tak selalu datang dari atas, kadang datang dari sekelompok anak muda yang rela tidur di rumah warga, makan seadanya, dan bekerja tanpa pamrih.
Desa Witurombaua akan selalu membuka pintu bagi mereka yang datang untuk belajar dan melayani. Dan ketika bus yang membawa mereka pergi akhirnya berlalu di tikungan tanjakan Romba, satu desa berdiri dan melambai. Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal, tapi untuk mengatakan, terima kasih, dan kembalilah suatu saat nanti. (AL/Irminus Deni)
