Orang Miskin Dilarang Mimpi: Ketika Margareth Masuk UI, Tapi Dihina di Sekolahnya Sendiri
Oleh: Irminus Deni
(Rubrik Khusus Untuk Semua Anak Miskin Seperti Saya)
Edisi Atalomba “Senggol Dong!” kali ini menyenggol, guru yang kehilangan empati, terhadap Margerth, tetangga yang nyinyir karena dengki, terhadap keluarga Margareth dan sistem pendidikan yang gagal mendidik harapan.
Ya, kami senggol.
Karena kami muak melihat orang miskin disuruh diam. Disuruh tahu diri. Disuruh jangan mimpi tinggi.
Padahal justru kami yang paling tahu rasanya berjuang tanpa jaminan, belajar tanpa sinyal, bertahan tanpa siapa-siapa.
Kami senggol guru-guru yang merasa lebih suci karena punya gelar, tapi tak mampu melihat anak miskin sebagai manusia utuh yang juga bisa cemerlang.
Kami senggol tetangga yang komentarnya lebih cepat dari proses berpikirnya. Yang kalau lihat anak miskin berhasil, bukannya bangga—malah nyari cara buat menjatuhkan.
Kami senggol sistem, yang katanya menjunjung pendidikan untuk semua, tapi masih senang bikin anak kecil percaya bahwa kemiskinan adalah kutukan, bukan tantangan.
“Masuk UI? Halah, paling juga nanti pulang kampung jadi beban. Miskin kok banyak gaya!”
Kalimat itu bukan datang dari troll TikTok, bukan juga dari haters anonim di Instagram.
Itu dari guru, manusia dewasa berijazah, berdiri di depan kelas tiap hari sambil bawa buku PPKn, tapi gagal paham tentang yang paling penting Perikemanusiaan.
Margareth dan Dosa Kita Bersama
Namanya Margareth. Anak Rote. Bukan anak pejabat, bukan anak bos koperasi, bukan juga keponakan dekan. Tapi ia berhasil menembus gerbang Universitas Indonesia, kampus elite tempat banyak anak pejabat mondar-mandir naik Alphard sambil nyambi jadi aktivis.
Dan reaksi orang di sekitarnya? Bukan peluk hangat. Bukan ucapan syukur. Tapi caci maki, sindiran, dan hinaan.
“Mau gaya-gayaan ke Jakarta? Nanti juga minta sumbangan lagi.”
“Kamu kira Jakarta itu tempat orang susah bisa hidup?”
Bahkan guru yang mestinya jadi pelita malah ikut menyiram bensin ke api nyinyir. Begitu cepat mereka lupa bahwa anak-anak miskin bukan minta belas kasihan. Kami hanya ingin kesempatan yang adil.
Anak Miskin, Jangan Kepedean!
Begitulah dunia bicara pada kami sejak kecil. Di banyak desa, mimpi itu dianggap dosa. Kalau kau anak petani, ya sudah, habiskan SD, lalu kerja sawah. Kalau kau anak tukang bangunan, cukup belajar ukur papan jangan ukur mimpi.
Sistem ini tidak butuh orang miskin yang cerdas. Karena jika anak miskin mulai pintar, maka sistem mulai gugup. Mereka mulai bertanya, “Kalau orang kecil bisa pintar, buat apa ada kasta sosial?”
Itulah sebabnya, ketika Margareth tembus UI, bukan hanya ia yang diuji. Tapi seluruh sistem yang biasa hidup dari pengkerdilan anak-anak seperti kita, mulai dari guru, tetangga, sampai aparat birokrasi.
Mimpi Itu Subversif (Katanya)
Di negara yang katanya demokratis ini, mimpi orang miskin sering dianggap subversif. Subversif, karena menantang norma. Subversif, karena membongkar anggapan bahwa kampus-kampus besar hanya untuk anak orang kaya. Subversif, karena mengungkap bahwa banyak guru ternyata lebih suka muridnya diam dan tunduk, daripada berpikir dan bertanya. Kalau kamu miskin dan pintar, mereka bilang kamu songong. Kalau kamu miskin dan diam, mereka bilang kamu malas. Jadi maumu apa, Pak? Bu?
Senggol Dong, Kalau Berani
Rubrik ini bukan tempat mengeluh. Ini tempat menampar. Dengan kata. Dengan data. Dengan kenyataan. Karena kami bosan jadi objek simpati. Kami ingin jadi subjek perubahan.
Kepada semua guru yang pernah berkata, “Kamu tuh miskin, jangan mimpi tinggi-tinggi!” Ingat, ijazahmu bisa habis masa berlakunya, tapi luka mental muridmu akan bertahan seumur hidup.
Kepada semua tetangga yang bilang, “Kamu tuh siapa? Anak siapa?” Kami jawab. Kami ini anak siapa saja yang pernah dibungkam karena miskin, tapi menolak dibungkam selamanya.
Margareth, Terus Jalan. Biar Kami Bentangkan Tikar di Belakangmu
Di tengah hujan olok dan badai sinisme, Margareth tetap jalan. Dan kita harus ada di belakangnya.
Bukan untuk ikut numpang tenar, tapi untuk jaga pintu tetap terbuka bagi anak-anak lain.
Karena negeri ini tak akan pernah jadi adil, kalau hanya mereka yang punya uang yang bisa menentukan siapa yang layak jadi sarjana. Kalau hanya mereka yang punya jabatan yang boleh punya panggung.
Untuk Semua Anak Miskin Seperti Saya
Saya tidak kenal Margareth. Tapi saya pernah dihina karena melamar beasiswa. Saya pernah dipermalukan karena membaca buku “kebesaran” di perpustakaan kampus padahal hanya pakai sandal jepit. Saya pernah didatangi guru yang bilang,
“Kamu pikir kamu bisa sampai Jakarta hanya dengan otak?”
Saya ingin bilang ke mereka semua, “Iya, bisa. Bahkan dengan sandal jepit, nasi garam, dan utang warung. Karena kami tidak pernah takut lapar. Kami cuma takut mimpi kami dibunuh oleh orang yang seharusnya menjaga kami.”
ATLOMBA KIRI KANAN: SENGGOL DONG!
Ini bukan rubrik manis-manis. Ini suara sengaja dibikin kencang. Karena anak-anak miskin juga berhak mengguncang Dunia. Dan kalau tulisan ini bikin kau puyeng, berarti kau sadar. Dan kesadaran itu langkah awal menuju perubahan.

