Kongres Sudah Bicara, Tapi Asprov Main Diam-Diam

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com — ditulis pagi-pagi, ditemani kopi jahe dan amarah yang mendidih pelan.
ETMC 2025 Dari Euforia ke Ejekan?
Baru saja rakyat Kabupaten Ende mulai menghafal lirik yel-yel, merancang mural bertema bola, dan ibu-ibu mulai menyiapkan kain tenun bercorak ETMC, kabar buruk turun dari langit. Bukan hujan, tapi surat pembatalan. Bukan karena stadion rubuh, bukan karena kerusuhan, apalagi karena lapangan berubah jadi sawah, tapi katanya, “demi efisiensi dan alasan sosial-politik.”
Weleh-weleh, Asprov PSSI NTT, kalian ini pengurus bola atau ahli tafsir alasan? Keputusan sepihak yang dibikin di ruang rapat ber-AC itu ternyata cukup untuk membuyarkan semangat ribuan warga Ende yang selama ini menanti dengan suka cita. Padahal, Ende sudah ditetapkan resmi sebagai tuan rumah ETMC 2025 lewat Kongres PSSI NTT. Jadi yang dibatalkan ini bukan sekadar niat, tapi hasil kongres, bosqu! Setara akta lahir turnamen!
Djolan Ngamuk, Rakyat Panas Dingin
Blasius A. Rinda alias Djolan, tokoh masyarakat dan anggota Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Kabupaten Ende, angkat bicara. Tapi bukan angkat biasa, ini angkat suara pakai nada dobel tinggi.
“Kalau alasan pembatalan karena efisiensi anggaran, seharusnya turnamen ditunda, bukan dipindahkan ke daerah lain,” tegasnya.
Dia juga bantah isu tak sedap yang menyebut situasi sosial-politik Ende tak kondusif. Lah, ini lucu. Saat rakyat lagi antusias bikin gerakan gotong royong, DPRD dan pemda adem ayem, malah dituduh gaduh. Mungkin yang gaduh itu bukan Ende, tapi grup WA pengurus Asprov sendiri. Coba dicek lagi.
Bupati Ende Kami Sudah Siap, Tapi Dikhianati
Lebih tegas lagi, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda menyatakan kekecewaan mendalam atas pembatalan sepihak ini. Dalam pernyataan resminya, beliau menyesalkan tindakan Asprov yang tak beretika dan mengabaikan komunikasi.
“Kami sudah siapkan semuanya. Infrastrukturnya, panitianya, bahkan dukungan masyarakat sudah terbentuk. Tiba-tiba kami dibatalkan tanpa alasan yang logis dan melukai martabat daerah kami,” ujar Bupati.
Apa Asprov pikir Ende ini kota main-main? Kami ini punya sejarah panjang dalam sepak bola. Kami punya Stadion Marilonga, kami punya suporter fanatik, dan kami punya semangat yang tidak bisa dipindah seperti papan skor.
Ini Bola atau Bansos?
Mari kita lihat sepak bola ini dengan kepala dingin. Turnamen El Tari Memorial Cup bukan sekadar adu skor dan trofi. Ini ajang kebanggaan daerah. Setiap tuan rumah akan mengenang momen ini sebagai sejarah, bukan cuma hiburan. Jadi kalau semudah itu dibatalkan hanya dengan rapat internal, tanpa konfirmasi, tanpa komunikasi, bahkan tanpa rasa malu, maka kita patut bertanya,
“Ini bola atau bansos? Bisa dialihkan diam-diam?”
Refleksi Ringan Tapi Menggigit
Asprov NTT, kalian tahu tidak? Keputusan kalian itu menyakiti banyak orang—bukan secara fisik, tapi secara batin. Ende itu bukan cuma kota kecil, tapi ibu dari sejarah. Kota yang setiap sudutnya pernah dijejaki Bung Karno, kota yang rakyatnya cinta olahraga, dan selalu siap jadi tuan rumah dengan hati terbuka. Kalau cuma alasan “anggaran dan politik” dijadikan tameng, maka siap-siap kami rakyat menjawabnya dengan satu kalimat.
“Kami tidak miskin. Kami cuma tidak suka dipermalukan.”
Salam Dari Rakyat Ende, Kami Tidak Marah, Tapi Hafal
Kami tidak akan lempar batu ke markas Asprov. Kami bukan suku Viking, kami rakyat Ende yang tahu adat. Tapi kami hafal. Kami hafal siapa yang diam, siapa yang ikut rapat, siapa yang menyetujui pembatalan, dan siapa yang pura-pura tidak tahu tapi setuju dalam hati. Jadi kalau tahun depan kalian datang dengan proposal turnamen baru, kami mungkin masih sambut. Tapi jangan kaget kalau di depan stadion Marilonga kebanggan kami orang Ende, ada spanduk bertuliskan:
“SELAMAT DATANG, PENGAMBIL KEPUTUSAN DENGAN TANDA BINTANG KECIL DI BAWAH.”
Gaya Timur, Malu Dong Kalau Langgar Janji
Kami orang timur. Dalam adat kami, janji itu bukan mainan. Sekali sudah disepakati, itu sudah seperti sumpah di depan leluhur. Jadi kalau hasil Kongres dibatalkan hanya lewat kopi darat internal, ya maaf saja bosqu, itu tidak sopan, tidak elok, dan sangat memalukan. Bahkan dalam pertandingan bola, wasit saja bisa dikritik kalau keputusannya ngawur. Apalagi ini keputusan organisasi yang bikin seluruh kabupaten kecewa?
Bola Jangan Ditendang ke Rasa Malu
Ini bukan cuma soal tuan rumah. Ini soal harga diri. ETMC itu ajang silaturahmi. Setiap kabupaten datang bukan cuma untuk main bola, tapi untuk saling kenal, saling hormat, saling jabat tangan. Tapi sekarang? Tuan rumah ditendang keluar tanpa permisi. Ini bola atau batu?
Pesan Terakhir Buat Asprov: Jangan Keras Kepala
Bapak-bapak pengurus Asprov NTT, Kalau kalian masih merasa ini cuma ribut kecil, Kami ingin beritahu satu hal:
“Yang kecil itu keputusan kalian. Yang besar itu dampaknya.”
Jangan sampai publik kehilangan respek. Jangan sampai sejarah mencatat kalian sebagai generasi pengurus yang hobi membatalkan daripada membangun. Kembalikan turnamen ini ke tempat yang benar. Bukan karena kami ngotot, tapi karena keputusan benar tidak boleh digantikan dengan akal-akalan.
Bola Bisa Ditendang, Tapi Harga Diri Tidak
Kami tidak butuh dibela. Kami hanya butuh keadilan. Dan kalau keadilan tidak datang dari atas, maka suara rakyat akan naik dari bawah, bersama tribun, spanduk, teriakan suporter, dan artikel semacam ini.
Jadi kepada Asprov NTT, Kalau kalian baca tulisan ini dan merasa malu, Itu tandanya hati kalian masih hidup. Kalau tidak merasa apa-apa, Mungkin sudah saatnya kalian pensiun dari dunia bola, dan pindah kerja jadi analis alasan.
🎤 Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong! Edisi Akhir Pekan — Senggolnya Nendang ke Nurani.
🖋️ Oleh: Irminus Deni (Pemimpin Redaksi Atalomba.com — nulis sambil nyeruput kopi jahe dan menahan emosi demi tata krama.)
