Kalau Hidupmu Masih Biasa-Biasa Saja, Jangan Ngaku Paling Luar Biasa

Oleh: Irminus Deni – Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Ditulis pagi-pagi buta, ditemani kopi jahe, sambil dengar orang sebelah rumah masih bergosip soal sepupunya yang sukses jadi PNS.
Edisi Khusus Akhir Pekan: Senggol Mental Adat Ketimuran Yang Kadang Memotong Rejeki Orang
Bosqu, Kita ini hidup di tanah yang penuh adat. Tapi kadang, adat itu bukan jadi perekat, malah jadi alat pemotong rejeki orang. Orang baru bangun usaha, dibilang “Pasti ada main belakang.” Orang berhasil sekolah tinggi dibilang. “Dia pasti disponsori sugar daddy.” Orang menikah dengan pesta sederhana,
dibilang, “Pasti orang tuanya tidak mampu.” Orang menikah dengan pesta besar, dibilang, “Utang tuh, paling-paling dua bulan cerai.” Woy! Sampai kapan hidup kita hanya sibuk menerka hidup orang,
daripada mengatur langkah hidup sendiri?
ADAT KETIMURAN, RAMAH DI DEPAN, RACUN DI BELAKANG
Kita ini terkenal ramah, senyum ke siapa saja. Tapi seringkali senyum itu kayak bungkus permen, manis di luar, isinya racun iri hati. Ada budaya halus yang ternyata kejam, potong rejeki orang.
Lihat orang naik level, langsung buka grup WA keluarga:
“Dia dapat dari mana sih uang segitu?”
“Dia itu kan dulu bodoh!”
“Pasti ada orang dalam.”
Bukan nanya,
“Gimana ya caranya aku bisa semangat kayak dia?”
“Apa yang bisa kupelajari dari kisah hidupnya?”
Ini mala, kita sibuk cari celah, bukan cari inspirasi.
MAU KELIHATAN HEBAT, PADAHAL HIDUP MASIH DI LEVEL BIASA
Kadang yang paling banyak komentar, paling sedikit aksi. Yang paling banyak nyinyir, paling jarang kerja. Yang paling sering menilai hidup orang, hidupnya sendiri stuck di halaman awal.
Dan dengan bangga diri Bilang,
“Saya ini paling hebat.”
“Saya ini keturunan raja.”
“Saya ini tidak sembarang orang.”
Tapi giliran diajak kerja sama proyek kecil, hilang. Giliran disuruh bayar iuran RT, malah kasih alasan “belum gajian.” Giliran tetangga butuh bantuan, malah sibuk update status,
“Semua orang egois, hanya saya yang peka.”
Weh… bosqu! Kalau memang sehebat itu, kenapa makannya masih nasi dengan kuah mie instan?
Kenapa hidupmu tak beda dengan tukang tambal ban sebelah rumah dan anak kos yang hobi makan mie instan?
MAU BERKAT BESAR? JANGAN POTONG BERKAT ORANG
Ini hidup bukan kompetisi potong rumput tetangga. Kita terlalu sering berpikir sempit,
“Kalau dia sukses, berarti saya gagal.” Padahal bisa saja,
“Kalau dia sukses, saya juga bisa ikut sukses.”
Tapi karena pola pikir kita warisan zaman batu, kita takut orang lain naik. Kita lebih suka lihat orang jatuh, biar bisa bilang,
“Tuh kan, saya sudah bilang.”
Apa kita tidak capek hidup begitu terus? Apa kita tidak malu, umur sudah 50-an, tapi mental masih kayak anak SD rebutan jajan?
SEMUA JUGA MATI DALAM UKURAN YANG SAMA
Bosqu, yang mau nikung rejeki orang, yang suka ngata-ngatain orang sukses, yang sibuk cari muka tapi tak pernah kerja, kita semua akan sampai di titik yang sama, yaitu Tanah 2 meter kali 1 meter.
Tidak peduli kamu pejabat, anak raja, sarjana tiga gelar, atau petani biasa tanah yang nerima kita,
ukuran standarnya tetap. Jadi sebelum kita buang energi untuk menilai hidup orang, mungkin lebih baik kita pikir,
“Apa hidupku sudah jadi berkat?”
“Apa aku sudah bantu orang tanpa berharap pamrih?”
“Apa aku sibuk cari muka, atau benar-benar bikin perubahan?”
SUKSES ITU DIBANGUN, BUKAN DITEBAK
Mungkin kita iri karena lihat orang lain berhasil. Tapi kita lupa, dia bangun usaha saat kita tidur siang. Dia kerja lembur saat kita main domino. Dia rajin belajar saat kita nyimak gosip. Kalau kita mau ikut sukses, ikutin juga prosesnya bukan cuma ngintip hasilnya. Dan kalau belum bisa bantu, ya minimal diam. Kalau belum bisa dukung, ya jangan potong rejekinya.
JANGAN JADI ORANG YANG KECIL HATI MELIHAT ORANG BESAR
Bosqu, kita hidup di dunia ini bukan buat lomba menghina orang. Bukan buat jadi komentator tetap hidup orang lain. Kalau mau hebat, ya jadi hebat. Kalau mau sukses, ya kerja keras. Kalau mau dihormati, ya jadi pribadi yang layak dihormati. Bukan sibuk menyusun teori konspirasi tetangga. Bukan ngintip dompet orang lain sambil pura-pura menderita. Hidup ini singkat, jangan dihabiskan untuk nyinyir. Gunakan waktu untuk bertumbuh, bukan bertikai.
Quote of the Day
“Kalau kamu sibuk potong berkat orang, jangan kaget kalau Tuhan potong berkatmu juga.” Atalomba, 2025
