Rubrik Khusus | ATALOMBA.COM KASIH YANG MELAWAN: Mewujudkan Moto Uskup Agung Ende di Tengah Badai TPPO, Proyek Geotermal, dan Derita Ibu-Anak

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
“Kasih persaudaraan” bukan sekadar semboyan. Ia adalah sikap. Ia adalah pilihan untuk berdiri membela mereka yang tertindas, meski itu berarti melawan arus kekuasaan, pasar, dan kepentingan besar.
Ketika Uskup Agung Ende memperkenalkan moto pastoralnya: “Kasih Persaudaraan”, kita tahu ini bukan hiasan semantik di balik mitra liturgi. Ini adalah sikap pastoral yang radikal di tengah badai yang sedang melanda umat, perdagangan orang, eksploitasi lingkungan, dan kegagalan komunitas untuk melindungi anak-anak dan ibu-ibu dalam rahim Gereja.
Di banyak tempat di Keuskupan Agung Ende, kita menyaksikan luka yang nyaris sama setiap tahunnya,
💔 Remaja-remaja menghilang karena dijual sebagai budak kerja.
💔 Tanah adat yang hendak dibor atas nama geotermal “ramah lingkungan”, padahal merusak sumber air dan sumber hidup.
💔 Ibu-ibu hamil berjalan berkilo-kilometer untuk periksa kehamilan karena desa tak punya fasilitas, sementara KUB sibuk urus struktur.
Uskup Agung Ende menegaskan bahwa “kasih” bukan sekadar doa, tapi tindakan. Dan tindakan kasih itu, harus bermula dari keberanian untuk berkata, “Cukup sudah umatku disakiti!”
TPPO: Luka Kolektif Gereja di Timur
NTT sudah lama dikenal sebagai provinsi dengan angka perdagangan orang tertinggi di Indonesia. Tapi di balik statistik itu, tersembunyi wajah-wajah nyata dari umat kita sendiri, gadis-gadis dari paroki-paroki pegunungan, OMK dari KUB-KUB terpencil, dan anak-anak SMA yang tidak pernah pulang.
Dan parahnya, jaringan itu sering beroperasi atas nama janji, kerja halal, uang cepat, dan bebas biaya. Banyak dari mereka diberkati sebelum berangkat, tapi kembali hanya sebagai nama di peti mati.
Moto Uskup Agung Ende “Kasih Persaudaraan” berarti, Gereja tidak boleh netral. Gereja tidak boleh diam. Ia harus hadir di tengah keluarga-keluarga yang kehilangan, menjadi suara di depan negara, dan melawan struktur-struktur yang membiarkan praktik jahat itu berlangsung.
Proyek Geotermal dan Luka Tanah
Di banyak tempat di Keuskupan Agung Ende, termasuk Ende, Nagekeo dan Ngada dan daratan Flores pada umumnya, rakyat sedang resah. Tanah mereka dibidik untuk dijadikan “sumber panas bumi.” Namun, pertanyaan besar belum dijawab. Apa yang terjadi setelah pengeboran? Siapa yang untung? Siapa yang hancur?
Gereja Katolik, lewat surat gembala, menyatakan sikap tegas, menolak proyek yang mengancam tanah, air, dan hidup masyarakat kecil. Karena bagi umat, tanah bukan sekadar aset, tetapi warisan iman dan identitas. Moto Uskup Agung Ende “Kasih Persaudaraan” hanya akan berarti jika:
✅ Pastor berdiri bersama umat menolak eksploitasi.
✅ Dewan Pastoral Paroki bukan jadi penonton, tapi pembela.
✅ KUB jadi basis advokasi lingkungan, bukan sekadar tempat doa-doa kosong.
KUB: Rahim atau Rutinitas?
Yang tak kalah penting, dan sering luput dari sorotan, adalah nasib ibu hamil dan anak-anak dalam lingkup komunitas umat basis (KUB). Di banyak tempat, ibu hamil terabaikan, anak-anak tidak dilibatkan dalam dinamika iman, dan KUB hanya sibuk urusan jadwal koor dan konsumsi.
“Kasih Persaudaraan” artinya KUB harus menjadi rahim kehidupan baru. Tempat aman bagi ibu yang rentan. Tempat mendengar tangisan anak-anak. Tempat solidaritas menjadi nyata, bukan sekadar acara natal dan paskah. Kalau KUB tidak menjadi ruang ramah anak dan ibu, lalu Gereja mau menyapa siapa?
Kasih Sejati adalah Perlawanan
Mari kita perjelas:
✊ Kasih sejati bukan tunduk pada kekuasaan.
✊ Kasih sejati tidak netral terhadap penindasan.
✊ Kasih sejati tidak tinggal diam saat lingkungan dihancurkan.
Di tengah suara-suara sunyi dari kampung yang terancam, kasih persaudaraan memanggil kita untuk menjadi saksi dan pelindung. Kasih tidak cukup hanya di altar. Ia harus turun ke jalan. Ia harus menjadi air mata, peluh, dan langkah konkrit untuk membela hidup.
ATALOMBA BERKATA:
Gereja yang hidup adalah Gereja yang berani melawan kejahatan. Moto Uskup Agung Ende adalah undangan, Mari jadikan kasih sebagai aksi. Melawan perdagangan orang, menolak perusakan tanah, dan memeluk mereka yang paling kecil dalam komunitas kita.
Kasih tak selalu manis.
Kadang ia berupa teriakan: CUKUP SUDAH!
#RubrikKhususAtalomba
#KasihPersaudaraan
#TolakGeotermal #LawanTPPO
#KUBRamahAnak
#GerejaBersamaUmat
#SuaraDariFlores
#AtalombaMelawanDiam
