Aksi Damai di Nagekeo, Amarah Kekuasaan di Manggarai
Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay hadir damai menyampaikan suara bumi, sementara di Manggarai, rakyat justru dihadang pemimpinnya sendiri. Sebuah refleksi keras tentang siapa sebenarnya yang mengabdi, dan siapa yang terluka oleh suara rakyat.

Oleh: Irminus Deni, Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay
Ada satu hari dalam sejarah Nagekeo yang layak diukir dengan huruf-huruf tegas 5 Juni 2025. Di hari itu, ribuan umat dari Kevikepan Mbay menanggalkan rutinitas mereka dan bersatu dalam satu misi, menyelamatkan bumi dari perusakan yang terbungkus atas nama pembangunan.
Tak hanya orang muda dan orang tua, para biarawan-biarawati, imam-imam Katolikpun turut dalam aksi ini. Mereka berjalan dengan penuh iman, dari Sekretariat Bersama Rumah Kevikepan menuju Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Nagekeo. Kami datang bukan dengan batu atau bensin, tetapi dengan doa dan kesaksian. Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kami justru menghidupi lingkungan dengan cara paling damai dan bermartabat.
Kami menyapa warga, bukan teriakan kebencian, tapi pengeras suara yang memohon maaf atas ketidaknyamanan lalu lintas. Yang terdengar di jalan bukan caci-maki, tapi syair penolakan yang menyentuh tanah, seperti doa yang dibacakan perlahan.
Namun, siapa yang hadir menemani suara-suara itu?
Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus bersama Wakil bupati Gonzago G. Muga Sada, hadir dan menerima aspirasi massa. Ia menyatakan bahwa seluruh tuntutan akan diteruskan secara berjenjang kepada pihak yang berwenang, dan ia berjanji, di hadapan rakyat dan altar langit Nagekeo, bahwa suara ini tidak akan berhenti di mejanya. Sebuah pernyataan yang layak diapresiasi.
Tapi sejarah mencatat, janji politik bukan sekadar soal diucapkan, ia adalah utang moral yang harus dibayar dengan tindakan. Kami akan mengawal janji Bupati. Karena tanah, air, dan udara kami bukan alat tawar dalam rapat investor. Bupati Donatus telah membuka pintu komunikasi, kini tinggal membuktikan apakah beliau juga membuka hatinya untuk berpihak pada alam dan rakyatnya.
Yang mengusik nurani kami bukan soal di depan Kantor Bupati, melainkan di Gedung DPRD Kabupaten Nagekeo. Dari 25 orang wakil rakyat yang digaji oleh rakyat, hanya delapan yang muncul. Delapan! Apakah 17 lainnya sedang ijin sakit bersamaan? Sedang melayat ke tempat jauh? Atau sedang bersembunyi dari tanggung jawab?
Kami tidak menuduh. Kami hanya bertanya. Karena rakyat yang berdiri di bawah terik matahari layak tahu siapa yang mereka pilih untuk menjadi wakilnya selama lima tahun kedepan.
Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Safar Laga Remah, menurut informasi sedang memiliki urusan penting di luar daerah. Kami percaya, mungkin memang urusannya penting. Tapi lebih penting dari suara ribuan rakyat di Hari Lingkungan Hidup Sedunia? Kami ragu. Tapi kami menunggu. Karena janji perwakilan anggota dewan hari itu cukup membuat kami bertahan untuk berharap.
Di hadapan massa aksi, mereka menjanjikan akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dalam waktu dekat. Mereka meminta waktu, meminta kepercayaan, dan meminta agar Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay ini tetap menjadi mitra diskusi, bukan lawan debat.
Baiklah, kami tunggu. Dengan tenang, tapi tidak dengan diam. Kami akan datang saat diundang, tapi kami juga akan datang lagi jika janji itu tak ditepati.
Dan di tengah semua ini, kami tak lupa menyampaikan hormat dan terima kasih kami yang mendalam kepada Polres Nagekeo. Para aparat keamanan yang tidak memandang kami sebagai kerumunan yang mengancam, tetapi sebagai saudara yang sedang mengadu tentang kampung halamannya, tempat di mana warisan leluhur tersimpan, tempat di mana sejarah ingin terus berdenyut untuk anak cucu.
Mereka mengawal bukan dengan senjata, tetapi dengan sopan santun. Mereka berdiri bukan untuk menghadang, tetapi untuk menjaga. Dan ketika ada warga atau pengendara yang harus melintas di tengah barisan aksi, mereka tidak menghardik, tetapi menyapa: “Maaf, Pak/Bu, mohon bersabar.” Ini bukan soal tugas, ini soal hati.
Polisi telah menunjukkan bahwa hukum bisa berjalan seiring dengan kasih sayang. Bahwa keamanan tidak perlu berbaju garang, tapi bisa hadir dalam pelukan solidaritas.
Kami bangga. Karena aksi damai kami benar-benar berlangsung dalam suasana damai, bukan seperti yang dialami saudara-saudara kami di Poco Leok, yang harus ditahan sementara di kantor Polres Manggarai dengan alasan demi keamanan, karena ulah pemimpin wilayah yang emosional dan gagal menahan egonya. Di Nagekeo, kami bersyukur bahwa pemimpin dan aparat tidak menjadikan rakyat sebagai lawan, tetapi tetap melihat kami sebagai bagian dari tubuh daerah ini sendiri.
Kami bukan musuh negara. Tapi kami juga bukan anak kecil yang bisa diberi janji manis lalu dilupakan. Kami mencatat. Kami menyimpan semua nama. Kami tahu siapa yang hadir dan siapa yang absen. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengingatkan.
Demokrasi tidak hanya hidup di kotak suara setiap lima tahun. Ia hidup setiap hari, saat rakyat bicara dan pemimpin bersedia mendengar. Ia hidup dalam ruang-ruang seperti aksi damai seperti yang dilakukan oleh Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, yang menjadi cermin sejati dari kesehatan moral dan politik daerah kita.
Kami akan kembali. Bukan karena kami tidak percaya. Tapi karena kami tahu sejarah bangsa ini dibangun oleh mereka yang berani datang lagi dan lagi, sampai bumi dan manusia mendapat tempat yang setara dalam percakapan publik.
Jangan anggap ini selesai. Karena suara yang dibungkam akan mencari jalan keluar. Dan doa yang diabaikan akan menemukan caranya sendiri untuk didengar.
Salam dari bumi yang tak bisa dibeli.
