HANTAM 2025 Flores Melawan, Indonesia Mendengar

Oleh: Irminus Deni (Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepaan Mbay)
Tiap 29 Mei, tanah ini menggeliat. HANTAM (Hari Anti Tambang) bukan sekadar tanggal peringatan, bukan pula agenda tahunan organisasi lingkungan. Ia adalah api yang terus menyala dari luka-luka yang belum sembuh. Ia adalah jeritan dari kampung-kampung yang dibelah alat berat, dari gunung yang dilubangi, dari sungai yang mengering, dan dari ibu-ibu yang memeluk pohon agar tidak ditebang. Dan tahun ini, tahun 2025, suara itu menggema paling nyaring dari Pulau Flores tanah yang sedang dililit oleh proyek besar bernama “energi hijau.”
Pemerintah menyebutnya panas bumi. Mereka menyebutnya masa depan. Mereka menyebutnya solusi iklim. Tapi rakyat menyebutnya ancaman. Menyebutnya pemusnahan pelan-pelan. Menyebutnya penjajahan baru dalam wujud yang lebih licik.
Sejak 2017, Kementerian ESDM menetapkan Flores sebagai “Pulau Panas Bumi.” Sebuah penetapan administratif yang dingin, namun di baliknya menyimpan percikan konflik yang membara. Pulau ini, dari barat ke timur, ditandai sebagai ladang eksploitasi energi geotermal. Dan kini, dari Mataloko, Ulumbu, Wae Sano, Pocoleok, Marapokot, Lesugolo, Sokoria, hingga Lembata, rakyat bersiap mempertahankan tanahnya, bukan dengan senjata, tapi dengan tekad dan nyali.
Dari tanggal 26 sampai 29 Mei 2025, ratusan pejuang berkumpul di Kematabor, Mataloko. Di sana, di lereng sejuk pegunungan Ngada, tidak ada panggung megah, tidak ada mikrofon mahal, tidak ada AC. Tapi ada satu hal yang membuat tempat itu begitu kuat, keberanian. Para peserta datang dari berbagai tapak panas bumi di Indonesia, dari Sumatera, Jawa, Sulawesi dan sedaratan Flores. Karena Flores adalah jantungnya. Flores adalah nyalanya.
HANTAM 2025 mengangkat tema yang menjadi semboyan perlawanan rakyat, Melawan Ekstraktivisme, Merawat Hidup, Menyatukan Perlawanan. Ini bukan kata-kata kosong. Ini adalah ikrar dari rakyat yang sudah terlalu lama dibohongi atas nama pembangunan.
Kematabor menyatukan serpihan-serpihan perlawanan yang selama ini tercerai-berai. Di sana, para ibu-ibu adat dari Bajawa menyampaikan bahwa sumur-sumur air mulai mengering sejak eksplorasi panas bumi dimulai. Dari Wolowae, para pemuda petani bersaksi tentang tanah yang mulai retak dan udara yang berubah bau. Dari Sumatera, para saudara mengadu bahwa proyek yang dibangun di hutan adat telah mengusir binatang buruan dan membuat uap panas telah menjadi racun dan telah memakan korban, yang menjadi korban adalah masyarakat yang memiliki tanah.
Energi Hijau, Luka Baru
Yang disebut energi “bersih” ternyata menyisakan jejak kotor. Pipa-pipa raksasa yang melintang di hutan dan melewati kampung, suara mesin yang tak pernah berhenti, truk-truk berat yang melindas jalan kampung, semua adalah bagian dari cerita besar yang disusun oleh negara dan investor, tapi tidak pernah ditulis oleh rakyat.
Energi panas bumi, katanya, adalah penyelamat dari krisis iklim. Tapi siapa yang sebenarnya diselamatkan? Apakah petani kecil di Flores yang panennya gagal karena sumber airnya menghilang? Apakah perempuan adat yang tak lagi bisa memetik daun obat karena hutannya dibuldoser? Apakah anak-anak sekolah yang harus belajar dalam deru kebisingan pengeboran?
Atau jangan-jangan yang diselamatkan adalah industri besar di Jawa? Kota-kota yang tak pernah tidur, pusat industri yang rakus listrik, proyek-proyek raksasa yang butuh energi murah? Kalau benar begitu, maka panas bumi bukan solusi, ia adalah pemindahan beban krisis dari pusat ke pinggiran, dari yang kuat ke yang lemah.
Transisi Energi atau Transisi Penindasan?
Kita tidak anti transisi energi. Tapi kita anti transisi yang menjadikan rakyat sebagai korban baru. Kita tidak anti pembangunan. Tapi kita anti pembangunan yang hanya menguntungkan elite. Kita tidak menolak kemajuan. Tapi kita menolak jika kemajuan itu berarti pemusnahan kampung-kampung.
Keadilan iklim tidak bisa dibangun di atas ketidak adilan sosial. Ini prinsip dasar yang dilanggar habis-habisan oleh proyek panas bumi di Flores. Alih-alih menjadi model energi masa depan yang berkeadilan, ia justru meniru watak kolonialisme lama, penguasaan atas tanah, eksploitasi sumber daya, militerisasi wilayah, dan kriminalisasi warga yang melawan.
Kami Tidak Akan Diam
Flores sudah memilih sikap, melawan. Dan melawan tidak berarti membenci negara. Melawan berarti mencintai tanah ini lebih dalam dari segala janji palsu pembangunan. Melawan berarti menjaga air agar tetap mengalir, menjaga hutan agar tetap hidup, menjaga adat agar tidak punah. Melawan berarti berkata “tidak” ketika segalanya dipaksa untuk “ya.”
Rakyat di Kematabor telah bersatu. Mereka membangun solidaritas lintas tapak, lintas agama, lintas generasi. Mereka tahu bahwa kekuatan rakyat bukan pada uang atau senjata, tapi pada keberanian untuk berdiri ketika segalanya hendak dijatuhkan.
Dan kini suara itu telah menggema. Tidak hanya dari Flores, tapi dari seluruh penjuru negeri. Dari pegunungan Kendeng yang digerus tambang semen, dari Kalimantan yang dipangkas demi Ibu Kota Negara, dari Papua yang dikoyak tambang emas. Semuanya bersatu di bawah satu panji: HANTAM!
Apa yang Harus Dilakukan Negara?
Pertama, hentikan seluruh proyek panas bumi di Flores sampai ada evaluasi menyeluruh dan transparan yang melibatkan masyarakat secara aktif. Kedua, akui dan hormati hak-hak masyarakat adat atas tanah ulayat dan ruang hidupnya. Ketiga, ubah pendekatan transisi energi dari proyek teknokratis menjadi gerakan kerakyatan, dibangun dari bawah, berbasis kebutuhan rakyat, bukan pasar energi global.
Flores tidak butuh pabrik listrik raksasa. Flores butuh air bersih, tanah subur, sekolah yang layak, dan rumah sakit yang manusiawi. Flores tidak ingin menjadi korban dari kegagalan masa lalu yang dikemas dalam wajah baru bernama “energi hijau.”
Jika negara benar-benar berpihak pada rakyat, maka HANTAM 2025 harus menjadi momen pembuka mata. Tapi jika tidak, maka rakyat akan terus melawan. Dari lereng gunung, dari tepi sawah, dari pinggir laut, dari altar gereja, dari bale-bale kampung, suara itu akan terus tumbuh, akan terus menggema:
“Flores bukan pulau panas bumi. Flores adalah pulau kehidupan. Dan hidup akan kami jaga sampai titik darah penghabisan”.(AL)
