Koperasi Desa Merah Putih: Pilar Harapan dan Kebangkitan Ekonomi Desa Witurombaua di Pinggir Pantai Selatan Nagekeo
Menjelajahi perjalanan dan perjuangan masyarakat Witurombaua, desa pesisir yang bertekad menjadi pionir pengembangan Koperasi Desa Merah Putih sebagai jalan keluar dari keterbatasan ekonomi, sekaligus menjaga warisan budaya dan kearifan lokal yang kaya.

Oleh: Irminus Deni (Ketua Kopdes Merah Putih Witurombaua)
Di tepi Samudera Hindia, angin asin menyejukkan kulit kering kami, sementara desir pasir putih menggambar jejak sejarah kecil yang kerap luput dibaca negeri. Di sinilah Witurombaua, sebuah desa di Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, menghamparkan dirinya seperti tikar anyaman pandan, sederhana, wangi, namun kuat. Setiap helai pandan itu adalah cerita warga, petani jagung, kelapa dan pisang yang bangkit sebelum fajar, nelayan yang menantang pasang surut tanpa GPS, perajin tenun ikat yang menyulam warna-warni identitas dengan sabar.
Kini, kami hendak menambahkan satu helai pandan baru, menyulamnya di tengah-tengah anyaman lama, sebuah helai bernama Koperasi Desa Merah Putih (KopDes Merah Putih). Helai ini berbeda, ia menyala merah karena keberanian, putih karena ketulusan. Ia datang ketika asa nyaris patah, ketika harga komoditas jatuh, dan tabungan nelayan terkuras oleh badai tak diundang.
Realitas yang Tak Pernah Masuk Statistik
Witurombaua bukan desa yang seperti kapal ikan mewah, bukan pula kampung yang menyimpan jala raksasa. Para nelayan di sini menantang laut dengan perahu kayu kecil tanpa mesin, dan alat tangkap seadanya, pancing rawai, jaring kecil yang sudah lapuk dimakan waktu. Di pagi hari, mereka menyandarkan perahu di atas batu yang basah dan pulang membawa hanya segenggam ikan kerapu. Tak ada lemari pendingin, tak ada dermaga, dan tak ada koperasi nelayan.
Sementara di daratan, petani menggantungkan hidup dari jagung, kelapa, dan pisang. Tapi kini pisang-pisang itu telah habis, musnah karena serangan penyakit Panama, menghantam akar dan mematikan harapan. Kelapa tumbuh tinggi, tapi tak ada mesin pemarut ataupun koperasi pengolahan minyak. Jagung tetap setia, meski musim tak selalu bersahabat.
Peternakan? Ada, tentu. Beberapa warga memelihara sapi, kambing, dan babi. Namun sayang, virus ASF (African Swine Fever) menyerbu babi-babi itu seperti badai di malam buta, membuat kandang-kandang kosong dan hati perempuan-perempuan desa remuk. Sebab babi bukan sekadar ternak di Desa Witurombaua, ia bagian dari pesta adat, bagian dari duka dan suka, bagian dari ekonomi keluarga.
Di bawah rumah panggung, mama-mama duduk menenun dengan alat seadanya, menggunakan benang yang dibeli eceran di kota, seringkali tak sesuai standar. Tak ada pewarna alami, tak ada galeri, tak ada label. Tapi motif yang mereka hasilkan adalah doa yang dijalin dalam warna, kisah yang dirajut oleh tangan yang kasar karena kerja, namun lembut karena cinta.
Namun justru dari kesederhanaan inilah tekad besar bertumbuh. Dari kekurangan itu muncul keberanian untuk menyambut Koperasi Desa Merah Putih sebagai jalan keluar. Bagi kami di Desa Witurombaua, koperasi bukan sekadar tempat menyimpan uang atau meminjam modal. Koperasi adalah alat perjuangan. Ia adalah jala baru untuk nelayan, ladang harapan baru bagi petani, dan panggung martabat baru bagi mama penenun.
Menjawab Tiga Luka Lama
Pertama, luka ketimpangan, Desa Witurombaua hanya berjarak 12 jam pelayaran niaga Flores–Kupang, namun akses permodalan terasa sejauh Jakarta–Jayapura. Bank formal mendirikan bilik pendingin di kota, tapi enggan menyeberang ombak menuju desa pesisir. KopDes Merah Putih hadir menembus vacuum capital itu.
Kedua, luka pemasaran, berapa kali ikan segar kami dijual ke tengkulak seharga sepiring nasi padahal di restoran kota harganya setara emas putih? Berapa lembar kain tenun motif Nagekeo yang dilego murah karena kami tak punya kanal daring? KopDes Merah Putih menawar luka ini dengan platform daring kolektif, memanfaatkan jaringan diaspora Nagekeo di Denpasar, Jakarta, bahkan Dunia.
Ketiga, luka pengetahuan, petani tradisional masih menakar, nelayan menebak lokasi ikan lewat firasat. KopDes Merah Putih menenun program literasi finansial, pelatihan pengolahan pascapanen, dan mentoring digital marketing, menjadikan transfer ilmu sebagai hak, bukan hadiah.
Mandat Laut, Ikrar Tanah
Mungkin orang bertanya, “Bisakah koperasi Desa Merah Putih hidup di desa nelayan yang bergantung cuaca?” Kami menjawab, laut telah mengajari kami gotong royong jauh sebelum istilah koperasi masuk kamus. Kami menarik jaring bersama, membagi ikan sebelum matahari tegak. Koperasi hanya memberi nama formal bagi tradisi kami, membingkai semangat “baku-bantu” agar tak tergerus arus individualisme pasar bebas.
Di darat, kebun jagung dan ladang padi tadah hujan sedang gelisah menunggu pupuk langka. Dengan koperasi Merah Putih, kami merancang bank pupuk organik, mengolah limbah ikan menjadi kompos bernutrisi tinggi dan memutarnya kembali ke tanah. Siklus laut, tanah, laut ini adalah syair ekologi yang kami nyanyikan untuk Nusantara, pembangunan tak boleh memutus rantai alam, sebab rantai itu sekaligus tali persaudaraan kami dengan bumi.
Dukungan Pemerintah Desa: Suara dari Kepala Desa
Di antara semua harapan ini, dukungan pemerintah desa menjadi fondasi utama. Kepala Desa Witurombaua, Laurensius Paji, menyampaikan tekad yang tak tergoyahkan:
“Kami tidak ingin masyarakat kami selamanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Witurombaua siap menjadi pionir KopDes Merah Putih di Nagekeo. Saya dan seluruh aparat desa mendukung penuh koperasi ini. Kami akan kawal, fasilitasi, dan dampingi agar koperasi ini tumbuh bukan hanya menjadi alat ekonomi, tetapi menjadi wajah kebanggaan desa kami.”
Pernyataan ini bukan sekadar formalitas. Setiap perangkat desa, dari sekretaris, kaur pemerintahan, hingga para kepala dusun, telah berikrar dalam musyawarah desa untuk menjadikan KopDes Merah Putih Witurombaua sebagai program unggulan lintas sektor. Kantor desa disiapkan sebagai pusat informasi koperasi. BUMDes siap menjadi mitra usaha. Bahkan lahan desa yang selama ini tak termanfaatkan akan digunakan sebagai lokasi demplot pertanian terpadu koperasi. Komitmen ini membuktikan satu hal, pembangunan tak hanya membutuhkan ide, tapi juga kemauan politik lokal yang berpihak. Dan di Witurombaua, itu telah ada.
Perempuan, Gereja, dan Adat: Pilar Ketiga Koperasi
Dalam banyak pertemuan desa, tak jarang kami menyaksikan mama-mama berbicara pelan, tapi membawa isi dapur sebagai argumen, harga minyak, biaya sekolah, dan dana duka. Koperasi memberi ruang formal bagi suara informal ini. Kami ingin pengurus koperasi diisi oleh perempuan, pemimpin komunitas, dan tokoh adat. Mereka yang selama ini menjaga nyala api lilin dalam rumah tangga, kini akan ikut menjaga nyala obor ekonomi desa.
Begitu pula gereja dan adat, dua pilar identitas yang tak terpisahkan dari hidup masyarakat. Koperasi bukan untuk mengganti keduanya, melainkan untuk bekerja bersama, koperasi mengatur logistik, adat menjaga nilai, dan gereja menanamkan semangat pelayanan. Di tengah-tengahnya adalah manusia desa yang utuh.
Generasi Muda Tak Lagi Pergi Diam-Diam
Kami lelah mendengar kalimat ini, “anak muda tidak mau bertani“. Siapa bilang? Yang benar, mereka tidak mau miskin. Mereka meninggalkan desa bukan karena benci kampung halaman, tapi karena sistem ekonomi kita membuat mereka tak bisa tumbuh di tanah sendiri. KopDes Merah Putih membuka ruang digitalisasi, inovasi, bahkan wirausaha sosial berbasis desa. Anak muda bisa menjadi pelatih IT koperasi, content creator produk lokal, atau peneliti lokal untuk pertanian adaptif.
Delapan Musim yang Akan Datang
Kami membayangkan delapan musim yang akan datang, musim panen tak lagi musim utang; musim ikan tak lagi musim kejar-kejaran dengan tengkulak; musim duka tak lagi musim hancurnya tabungan. Semua musim akan menjadi bagian dari kalender ekonomi yang manusiawi dan berpihak.
Di musim-musim itu, mama menenun bukan hanya untuk pakaian adat, tapi untuk dikirim keluar Flores. Nelayan kembali melaut tanpa cemas. Petani punya asuransi. Pemuda tak malu mengaku tinggal di kampung. Dan koperasi Desa Merah Putih bukan lagi wacana, tapi rumah bersama yang tak beratap seng, tapi beratap harapan.
Desa Witurombaua, Pionir dari Selatan
Kami tidak ingin memulai dengan pernyataan klise seperti “kami siap“. Tidak. Kami lebih dari siap. Kami telah mulai. Dukungan Kepala Desa Laurensius Paji dan seluruh aparat desa adalah modal sosial. Derita nelayan, petani, dan mama penenun adalah modal keberanian. Kami tak menunggu Jakarta atau Kupang datang membawa janji. Kami menjemputnya dengan niat, kerja sama, dan tekad.
Witurombaua bukan hanya siap menerima KopDes Merah Putih. Kami siap menjadi pionir. Dan dari desa kecil di selatan Nagekeo ini, kami ingin menyampaikan satu pesan ke seluruh penjuru negeri:
“Jangan remehkan desa. Karena dari akar-akar yang tersembunyi, pohon-pohon harapan itu tumbuh. Dan dari tanah yang dianggap sunyi, suara perubahan bisa menggema paling nyaring.” (AL)
