Dari Bulan Maria ke Hari Lahir Pancasila: Jejak Bung Karno, Gereja, dan Roh yang Mempersatukan Bangsa

Oleh: Irminus Deni
Setiap tanggal 31 Mei, umat Katolik di seluruh dunia merayakan penutupan Bulan Maria, masa khusus selama bulan Mei untuk merenungkan dan meneladani keutamaan Bunda Maria, kesetiaan, ketaatan, kerendahan hati, dan pengabdian total kepada kehendak Tuhan.
Di kota kecil Ende, Flores NTT, perayaan ini tidak sekadar seremonial liturgis. Bulan Maria dirayakan dengan iringan lagu-lagu doa Rosario, ziarah, misa, hingga prosesi dari rumah ke rumah yang menjadi bagian hidup masyarakat. Di Ende, umat Katolik dan umat beragama lain saling memberi ruang dan saling menghormati. Di sinilah kekhasan budaya spiritual Indonesia terlihat nyata.
Namun, hanya sehari setelah penutupan Bulan Maria, bangsa ini memperingati Hari Lahir Pancasila, setiap 1 Juni, tanggal Bung Karno berpidato di hadapan sidang BPUPKI pada tahun 1945, memperkenalkan lima sila yang kini menjadi dasar negara. Sebuah kebetulan waktu yang penuh makna. Terutama jika kita menengok ke belakang, ke tahun-tahun ketika Bung Karno dibuang ke Ende (1934–1938).
Maria, Kontemplasi, dan Sukarno di Tanah Pengasingan
Ende bukan sekadar kota pembuangan bagi Bung Karno. Ia adalah rahim sunyi yang mengandung gagasan besar. Di sanalah Sukarno merenung di bawah pohon sukun, menyusun pikiran tentang dasar negara yang bisa menyatukan berbagai agama, etnis, dan golongan.
Selama di Ende, Sukarno hidup di tengah komunitas Katolik yang kuat. Gereja Katolik Kristus Raja, para imam dan bruder dari Serikat Sabda Allah (SVD), serta komunitas biarawati dan pendidik Katolik menjadi bagian dari hidup sehari-harinya. Ia tinggal hanya beberapa langkah dari Gereja. Setiap hari, ia mendengar lonceng misa dan melihat prosesi umat.
Sukarno menyaksikan bagaimana umat Katolik memperingati Bulan Maria dengan penuh kesederhanaan dan ketulusan. Ia melihat semangat pengabdian yang diwujudkan dalam perbuatan nyata, para pastor mengajar anak-anak, para suster merawat orang sakit, dan para bruder membuka perpustakaan misi untuk siapa pun yang ingin belajar, termasuk Sukarno.
Ia tidak memeluk iman Katolik, tetapi ia menyerap nilai-nilainya. Bulan Maria, dalam perenungan Katolik, adalah masa untuk meneladani kebaikan hati, ketaatan pada suara ilahi, serta cinta kepada sesama tanpa syarat. Nilai-nilai ini, tanpa harus diimani secara teologis, menggetarkan batin Sukarno. Karena sejatinya, nilai-nilai itu adalah nilai universal yang merasuk ke dalam Pancasila.
Gereja dan Ruang Dialog Lintas Iman
Selama di Ende, Sukarno tidak sekadar menonton umat Katolik dari kejauhan. Ia berdialog langsung dengan para imam dan bruder SVD. Ia membaca buku-buku filsafat dan teologi dari perpustakaan misi. Ia berdiskusi panjang tentang sosialisme, keadilan, dan martabat manusia. Bahkan, dalam beberapa catatan, Sukarno sempat mengatakan bahwa para imam di Ende “mengajarkan Injil dengan perbuatan, bukan khotbah.”
Dalam dialog itu, ia mendengar bahwa dalam Injil, Yesus berpihak pada orang miskin. Ia menyimak bagaimana ajaran Katolik menekankan solidaritas, subsidiaritas, dan keadilan sosial, konsep-konsep yang kemudian muncul dalam pidatonya tentang dasar negara. Bukan dengan meniru ajaran gereja, tapi dengan menyerap semangatnya ke dalam landasan hidup bersama bangsa.
Dan di sanalah, kita menemukan benang merah antara perayaan iman Katolik dan kontemplasi ideologis Sukarno. Di bawah pohon sukun, dalam sunyi Ende, Sukarno merumuskan dasar negara yang memuat:
-
Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dalam pengalaman di Ende, dipengaruhi oleh pengalaman lintas iman dan kesalehan orang Katolik yang tulus;
-
Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ia temukan dalam tindakan para imam dan suster yang melayani tanpa pamrih;
-
Persatuan Indonesia, yang ia rasakan dalam kehidupan masyarakat Ende yang rukun meski berbeda iman;
-
Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijasanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, yang ia praktikkan lewat teater rakyat dan dialog-dialog komunitas;
-
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang ia pelajari baik dari Injil maupun pemikiran Marx, Gandhi, dan tokoh-tokoh lain.
Roh Maria dalam Pancasila
Menjelang 31 Mei, ketika umat Katolik menatap sosok Maria sebagai lambang cinta dan pengabdian, bangsa ini juga sedang menuju 1 Juni, momen lahirnya Pancasila. Dan di Ende, kedua momentum itu tidak pernah benar-benar terpisah.
Karena Bung Karno, dalam masa pembuangannya, menyaksikan bahwa nilai-nilai yang hidup dalam Gereja, dalam Bulan Maria, dan dalam masyarakat Katolik yang sederhana, adalah nilai-nilai yang mampu merawat keberagaman tanpa menyakiti. Itulah yang kemudian ia bawa dalam rumusan Pancasila.
Di Ende, hingga kini, masyarakat merayakan akhir Mei dengan dua semangat, spiritualitas Maria dan patriotisme Pancasila. Gereja-gereja memimpin doa Rosario, sementara komunitas sipil menyiapkan lomba pidato, drama Pancasila, dan refleksi kebangsaan. Di kota kecil itu, dua dunia, iman dan negara—bertemu dalam harmoni.
Dari Ende untuk Indonesia
Hari ini, ketika kita terpecah oleh identitas, agama, dan kepentingan politik, Ende memberi kita pelajaran penting, bahwa identitas agama tidak perlu dihapus untuk membangun kebangsaan. Justru dari iman yang mendalam, kita bisa membangun nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
Bung Karno bukan Katolik, tetapi ia belajar dari Gereja. Gereja tidak menjadikan Sukarno seorang misionaris, tapi menjadikan dirinya manusia yang utuh, yang mampu menyerap nilai kasih dan menerjemahkannya ke dalam rumusan kenegaraan.
Maka ketika 31 Mei kita menutup Bulan Maria, dan 1 Juni kita memperingati Hari Lahir Pancasila, mari kita ingat, kedua momen ini bersatu dalam sejarah dan batin bangsa. Di Ende, dalam sunyi dan kesederhanaan, telah terjadi perjumpaan spiritual dan intelektual yang melahirkan harapan bagi Indonesia. Dan mungkin, seperti kata Sukarno, “Dalam sunyi aku menemukan rakyatku.” Tapi bisa juga kita tambahkan, dalam doa-doa Maria, ia menemukan nurani bangsanya. *Penulis Alumni Universitas Bung Karno Jakarta
