“Kami Pulang Kami Mau Maka Apa” Cerita Dari Erupsi Gunung Lewotobi

Minggu 22 Desember 2024, CIJ Sekuler (Congregatio Imitationis Jesu Sekuler) Ende bersama CIJS Boawae, Legio Maria Komisium Bunda Segala Bangsa Boawae, dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ST. Yohanes Don Bosco Cabang Ende, memberikan bantuan sembako dan pakaian layak pakai bagi pengunsi erupsi gunung lewotobi laki-laki.
Bantuan diantar lansung ke Desa Boru kedang dan diterima oleh Kepala Desa Boru Kedang Bapak Darius Don Boru. Irminus Deni Sekretaris Jenderal CIJ Sekuler Ende ketika menyerahkan bantuan menyampaikan bahwa kami memberikan bantuan ini dari kekurangan kami, seomoga bermanfaat bagi pengungsi disini. turut hadir pada kesempatan itu Ketua CIJs Sr. Elyna, CIJ, Ibu Florce dari CIJs dan Legio Maria Komisium Bunda Segala Bangsa Boawae, perwakilan dari PMKRI Ende, Patrisia Kego Sera Mari, Ketua Presidium Hubungan Masayarakat Katolik dan Maria Regina Tipa Ketua bidang hubungan antar lembaga CIJs Ende.

Kepala Desa Boru Kedang Darius Don Boru, kepada media ini di Kantor Desa Boru Kedang minggu 22/12/2024 menyampaikan, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dengan caranya masing-masing, karena situasi saat ini kami sangat membutuhkan sembako, pakaian layak pakaian dll. kalau dilihat dari situasi saat ini mungkin sampai dengan 3 atau 4 bulan kedepan kami masih butukan bantuan sembako, yang bapak dan ibu lihat hijau karena beberapa hari terakhir ini hujan, kalau tidak kita lihat tanaman semua seperti kayu kering. Semua rumah seng bocor kena batu dan pasir dari gunung, bagi yang mampu bisa tutup atap rumahnya dengan terpal bagi yang tidak mampu tidak bisa tutup atap rumahnya dengan terpal.
Kepala Desa menambahkan, pengungsi yang saat ini berada disini dari Desa Boru khusus dusun Podor, Hokeng Jaya dan Klatanlo, sebagian ada disini sebagian berada di Posko. Kalau mereka yang ada di Posko makan minum mungkin aman, tapi yang mengunsi disini ini yang perlu kami cari, karena saya mengunsikan ke mereka rumah rumah warga, saya menyampaikan kepada mereka bahwa kalau siang, biarkan isteri dan anak ngunsi di rumah yang laki laki turun sudah ke kebun bersihkan kebun dan taman, ini sudah mau musim hujam. kita jangan manja ini musibah kita semua. tambahnya.
Seorang ibu yang tidak mau menyebut namanya ketika ditemui di Desa Klatanlo menceritakan bahwa kuasa Tuhan kita manusia tidak bisa lawan. Malam itu saya berpikir bahwa Dunia sudah kiamat, kami hanya bisa lari menyelamatkan diri masing-masing, kami tidak berpikir lagi barang-barang semuanya yang ada dalam pikiran kami malam itu hanyalah menyelamatkan diri dan hanya pakaian dibadan.
Kami mau tidak lari bagaimana, bara api yang kami lihat seperti di Filem-filem dan itu nyata, batu dan pasir yang jatuh ke seng seperti hujan dan itu batu dan pasir panas. Jarak Rumah kami ini ke Gunung itu, 4,2 KM saja, lava panas kami lihat turun dari gunung semakin mendekar ke pemukiman kami terpaksa lari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri.
Saat ini kami berada di pengungsian di Posko, kami hanya di ijinkan untuk datang lihat Rumah dan kembali ke Posko, kami tidak di ijinkan untuk tidur di rumah, kalau kami pulang kesini kami mau makan apa. Kami belum tau apakah kami bisa kembali tinggal lagi di rumah ini atau tidak itu urusan pemerintah, semoga pemerintah memberikan yang terbaik untuk kami, biarkan tempat ini kami jadikan kebun untuk menyambung hidup dan anak anak kami kedepan. tambah ibu yang tidak mau menyebut namanya itu. (AL/ID)
